Tawa anak-anak bersahut-sahutan di bawah rindangnya pepohonan, sementara aroma kopi dan jajanan tradisional menyebar di udara. Di tiga ruang publik baru Lombok Tengah, kebahagiaan anak dan ekonomi lokal berjalan beriringan, membuktikan investasi pada ruang hijau adalah investasi untuk kesejahteraan masyarakat.
----
Lupakan sejenak layar gadget. Begitu kaki melangkah ke ruang publik yang hijau, udara segar langsung menyapa. Teriknya matahari seakan tak terasa di bawah rindangnya pepohonan.
Lombok Tengah kini memiliki tiga ruang publik baru, Plaza Simpang 3 Dara, Taman Bawaq Mundah, dan Ruang Terbuka Publik Ramah Anak (RTPRA) Biao. Ketiganya telah diresmikan Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri.
Ketiga ruang publik itu menjadi semacam oase di tengah gempuran gadget terhadap anak-anak. Dunia kecil yang dirancang untuk tawa anak-anak dan ketenangan orang tua.
Di bawah naungan pohon yang menyejukkan, tampak warna-warni ceria dari berbagai permainan. Anak-anak berlarian gembira, berebut ayunan yang melambung tinggi, menantang diri di jaring panjat yang aman.
Ada pula yang berimajinasi sebagai kapten kapal di perahu kayu di atas hamparan pasir lembut. Setiap sudut taman dirancang untuk merangsang motorik dan kreativitas mereka, jauh dari bising dan polusi. Inilah ruang tempat kenangan masa kecil terbaik tumbuh.
Keajaiban ruang publik ramah anak ini tak berhenti pada zona bermain. Ia juga menjadi jantung ekonomi baru bagi warga sekitar. Di pinggiran taman yang tertata rapi, deretan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) lokal berjejer manis.
Aroma jajanan tradisional dan kopi buatan tangan menguar, menarik pengunjung untuk singgah. Ibu-ibu sekitar taman kini punya tempat strategis untuk berjualan minuman dingin dan makanan ringan.
Bupati Pathul menyebut, tiga ruang publik tersebut sebagai investasi terhadap kebahagiaan anak-anak. Sekaligus ruang ekonomi bagi masyarakat.
“Saya bersyukur karena nama-nama seperti Biao, Tiga Dara, dan Bawaq Mundah mengingatkan kita pada sejarah dan jati diri Lombok Tengah. Ini adalah karya masyarakat Lombok Tengah untuk Lombok Tengah,” katanya.
Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Lombok Tengah Muhamad Supriaddin mengungkap strategi di balik penamaan fasilitas baru yang menelan anggaran sekitar Rp 400 juta ini.
“Kita harus pandai membangun branding berdasarkan karakter masyarakat dan sejarahnya,” tegas Supriaddin.
Nama Biao diabadikan karena kawasan ini dahulu dikenal sebagai pusat industri pertama di Lombok Tengah. Sementara Tiga Dara dan Bawaq Mundah membawa nilai filosofis serta jati diri lokal.
Ketiga lokasi ini dirancang menjadi lebih dari sekadar tempat bersantai. Pemerintah daerah berharap ruang-ruang publik baru ini menjadi pusat belajar, ruang interaksi sosial, sekaligus wadah menumbuhkan semangat kebersamaan dan kreativitas warga.
Tiga ruang publik dalam sehari. Bukti nyata Gumi Tastura serius membangun fasilitas publik yang berakar pada sejarah dan berpihak pada kebahagiaan warganya.
Editor : Siti Aeny Maryam