SDN Tambing Kekeq berdiri di balik lereng Batukliang, Lombok Tengah. Sekolah kecil yang bertahan dengan segala keterbatasan ini, bukan sekadar tempat belajar, tapi simbol keteguhan para guru dan murid yang menuntut ilmu di antara dinding rapuh, atap bocor, dan sekat triplek yang memisahkan mimpi mereka.
LESTARI DEWI, Lombok Post.
PAGI itu, aroma debu dan kayu lapuk menyambut kedatangan siswa-siswi Sekolah Dasar (SD) Negeri Tambing Kekeq di Desa Aik Darek, Batukliang, Lombok Tengah. Bukan karena sekolah ini tua, tetapi karena sekolah itu sudah terlalu lelah menampung mimpi yang jauh melebihi kapasitas bangunannya.
Ruang kelas III dan IV harus berbagi takdir yang sama. Dipisahkan oleh sebuah tirai triplek tipis yang berdiri di tengah-tengah ruangan. Dulu ruangan ini adalah satu-satunya ruang kelas yang cukup besar, kini ia menjadi simbol keterbatasan.
Baca Juga: Akhir Tahun, Kontrak Honorer di Lombok Tengah Diputus
Di sisi kanan, Muhammad Amir, guru kelas III berusaha keras menjelaskan tentang siklus air. Suaranya sudah dinaikkan satu oktaf. Mencoba menembus getaran suara yang datang dari sisi sebelahnya.
“Anak-anak, air menguap…menjadi…awan!” ucap Amir sambil menunjuk papan tulis yang dihiasi coretan-coretan pensil yang tak sengaja menembus lapisan cat dinding yang mengelupas.
Tepat saat ia menyebut kata awan, dari balik tirai triplek terdengar suara tegas Rina, guru kelas IV yang sedang memimpin latihan perkalian. “Tiga kali tujuh… DUA PULUH SATU!”
Sontak, beberapa murid kelas III yang tadinya fokus pada skema penguapan, kini teralih.
Kening mereka berkerut, mencoba memproses dua informasi yang saling bertabrakan. Air menjadi awan dan tiga kali tujuh adalah dua puluh satu.
Kondisi sekat itu sendiri adalah masalah lain. Ia bukan peredam suara, melainkan hanya pembatas pandangan.
Sesekali jika ada yang bersandar terlalu kuat, tirai triplek itu akan bergoyang.
Memperlihatkan sekilas pemandangan kelas tetangga, seolah-olah dua kelas itu adalah tetangga di balik bilik tipis.
Ditambah lagi, plafon ruang kelas dan sebagian atap di atas mereka sudah berkarat, jebol dan beberapa bagian telah melengkung.
Ketika hujan turun, irama air menetes yang ditampung dalam ember-ember plastik di sudut dan tengah ruangan menjadi musik pengiring wajib dalam kegiatan belajar mengajar.
Setiap hari adalah perjuangan. Guru harus mengajar dengan berbisik keras dan intonasi yang hati-hati. Berusaha agar materi mereka tidak “bocor” dan mengganggu kelas tetangga atau sebaliknya.
Siswa harus belajar memfokuskan pendengaran mereka, menyaring suara perkalian, sejarah, atau puisi dari bilik sebelah.
Sementara mata mereka harus waspada menghindari tetesan air hujan atau remah-remah renit yang sewaktu-waktu jatuh.
Amir menuturkan, sekolah ini hanya memiliki empat dinding penopang mimpi.
Satu ruangan terpaksa dikorbankan menjadi ruang guru, menyisakan hanya tiga ruangan untuk seluruh siswa.
Namun, keterbatasan itu memaksa para pahlawan tanpa tanda jasa tersebut melakukan hal yang ironis, satu ruang kelas terpaksa mereka sekat dengan papan triplek.
Pemisahan darurat itu menciptakan dua ruang kelas yang berhimpitan, di mana suara guru dari sisi kiri saling bertabrakan dengan pelajaran dari sisi kanan.
Proses belajar mengajar pun berlangsung dalam kebisingan yang terpaksa, menjauhkan efektivitas dan konsentrasi.
Di balik sekat tipis itu, mimpi anak-anak Tambing Kekeq tumbuh dalam keterbatasan, tercekik oleh keterbatasan ruang.
Keprihatinan tak berhenti di sana. Sekolah ini tak mengenal apa itu perpustakaan, tempat seharusnya jendela dunia dibuka lebar.
Pun demikian dengan fasilitas sanitasi yang memadai, kamar mandi seadanya menjadi saksi bisu perjuangan harian para siswa dan guru.
Yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa sejak berdiri, sejak 16 tahun lalu, SDN Tambing Kekeq belum pernah sekalipun tersentuh uluran tangan bantuan dari Pemerintah Daerah.
“Kami berharap pemerintah bisa menambah ruang kelas baru serta fasilitas penunjang lainnya di sekolah, sehingga aktivitas belajar mengajar bisa berjalan optimal,” tutup dia.
Sekolah ini seolah terisolasi, tersembunyi di balik peta pembangunan. Jeritan sunyi dari pelosok ini menanti bukan sekadar janji, melainkan tindakan nyata agar hak dasar anak-anak Lombok Tengah untuk mendapatkan pendidikan yang layak dapat terpenuhi.
Editor : Kimda Farida