LombokPost--Kehadiran dokter adaptan pertama di Nusa Tenggara Barat (NTB) dr Melody, di Rumah Sakit (RS) Mandalika telah membawa angin segar dan lompatan besar bagi layanan kesehatan, khususnya Obstetri dan Ginekologi (Obgyn).
Program adaptasi Kementerian Kesehatan RI ini terbukti mampu menjawab tantangan tingginya kasus Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di Lombok Tengah.
Direktur RS Mandalika dr Oxy Tjahjo Wahjuni mengatakan, sebelum kedatangan dr Melody, rumah sakit ini hanya mengandalkan satu dokter spesialis obgyn.
Kini, dengan tambahan tenaga ahli tersebut, masyarakat dapat mengakses layanan yang lebih cepat dan komprehensif.
“Dengan hadirnya dr Melody, layanan obstetri dan ginekologi kami semakin kuat. Masyarakat kini bisa mendapat layanan lebih cepat dan lengkap,” kata dr Oxy dalam kegiatan Pendampingan Implementasi Program Adaptasi Tenaga Medis WNI Lulusan Luar Negeri yang digelar di RS Mandalika, Kamis (23/10).
Diketahui, dr Melody melupakan lulusan Soochow University, Tiongkok, dan spesialis dari Mariano Marcos Memorial Hospital, Filipina.
Dia yang juga tidak hanya aktif di dalam rumah sakit.
Dokter cantik ini banyak membantu pasien asing dan lokal karena kemampuannya menguasai beberapa bahasa asing seperti Inggris, Mandarin dan Tagalog.
Sejak memulai adaptasinya pada April 2024, ia secara proaktif membangun jejaring dengan bidan dan fasilitas kesehatan tingkat pertama (faskes) di sekitar.
Ia pun dikenal dengan pendekatan komunikatif dan empatinya, yang membuat para pasien, khususnya perempuan, merasa lebih nyaman.
“Karena sesama perempuan jadi lebih enak ngobrolnya,” tutur salah seorang pasien.
Dampak kehadirannya terlihat nyata dalam data kunjungan. Ia berhasil meningkatkan kunjungan layanan Obgyn dari 320 pasien pada 2021-2024 menjadi 1.178 pasien pada 2024-2025.
Melihat keberhasilan ini, Direktur RS Mandalika dr Oxy berharap Kementerian Kesehatan dapat menempatkan lebih banyak dokter adaptan, terutama untuk spesialisasi yang masih langka di wilayah selatan Lombok, seperti jantung dan urologi.
“Kalau layanan spesialis makin lengkap, masyarakat tak perlu lagi dirujuk jauh ke Mataram. Semua bisa ditangani di sini,” harapnya.
Dukungan dari pusat pun mengalir. Perwakilan Komite Bersama Adaptasi Kemenkes, drg Oscar Primadi, MPH, mengapresiasi peran RS Mandalika dalam menjalankan program ini.
Ia menegaskan bahwa karakter kasus dan potensi wilayah Mandalika menjadi daya tarik kuat bagi para dokter spesialis.
“Setelah ini kami siap menempatkan adaptan lain di RS Mandalika. Branding Mandalika sebagai rumah sakit destinasi internasional sangat sejalan dengan hadirnya dokter lulusan luar negeri. Ini langkah besar menuju layanan kesehatan yang unggul dan mendunia,” pungkas Oscar.
Editor : Kimda Farida