LombokPost-Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Nusa Tenggara Barat (Ditjenpas NTB) melakukan gebrakan revolusioner dalam upaya reformasi pemasyarakatan.
Pada Minggu (02/11), Kanwil Ditjenpas NTB secara resmi meluncurkan “Warnapas Akademi”, sebuah sistem pembinaan yang ambisius: mengubah Lapas menjadi ruang edukasi dan keterampilan setara kampus.
Program ini bertujuan menghapus citra penjara sebagai tempat hukuman semata, menggantinya dengan ekosistem yang fokus pada peningkatan kapasitas intelektual dan potensi kerja Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Kepala Kanwil Ditjenpas NTB, Anak Agung Gde Krisna, menegaskan bahwa ini adalah transformasi besar.
"Kami ingin membuktikan kepada masyarakat bahwa warga binaan bisa dibina untuk menjadi pribadi yang produktif dan berdaya guna," ujar Agung Krisna saat peluncuran yang digelar meriah di Teras Udayana, Mataram.
Guna memastikan kualitas pembinaan, kata dia, Warnapas Akademi langsung menggandeng delapan perguruan tinggi ternama di NTB.
Aspek menarik lainnya, peluncuran ini dijadikan momentum unjuk gigi.
Di hadapan ratusan masyarakat yang hadir di CFD, dipamerkan berbagai produk kreatif dan bernilai ekonomi hasil karya WBP.
Langkah ini sengaja diambil untuk mengikis stigma negatif dan memperlancar proses reintegrasi sosial.
Agung Krisna berharap, WBP tidak hanya bebas secara fisik, tetapi juga merdeka dalam pikiran dan memiliki kemampuan untuk menentukan masa depannya.
Program ini direncanakan menjadi pilot project yang jika berhasil, akan direkomendasikan untuk diterapkan di seluruh Indonesia.
NTB kini memimpin langkah menuju sistem pemasyarakatan yang humanis, edukatif, dan berorientasi pada pemberdayaan manusia.
Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepakatan (MoU), yang menjadikan dunia akademik sebagai mitra strategis dalam kurikulum pembinaan.
Berikut delapan kampus yang berkomitmen antara lain, Universitas Mataram (Unram), Universitas Bumigora, Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT), Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram.
Kemudian, Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mataram, Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor, Universitas Al-Azhar (Unizar) Mataram, dan Universitas Gunung Rinjani.
Sementara itu, Rektor Universitas Mataram Prof. Ir. Bambang Hari Kusomo, menyebut inisiatif ini sebagai langkah positif pendidikan inklusif.
"Unram mendukung penuh program ini agar mereka bisa kembali ke masyarakat dengan kepercayaan diri dan kemampuan yang lebih baik," katanya.
Editor : Siti Aeny Maryam