Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Patut Ditiru! Fauzan Aridi Gerakkan Ekonomi Lokal dari Singkong di Lombok Tengah

Lestari Dewi • Sabtu, 6 Desember 2025 | 14:24 WIB
Fauzan Aridi
Fauzan Aridi

Dari Dusun Pancor Dao, tekad anak muda bernama Fauzan Aridi melahirkan usaha olahan singkong yang menggerakkan ekonomi warga. Di tengah keterbatasan modal, bahan baku, dan mesin, ia membuktikan bahwa keberanian memilih jalan berbeda dapat membuka harapan baru bagi kampungnya.

----

LULUS dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Nahdlatul Wathan (NW) Mataram tidak membuat Fauzan Aridi tertarik menjadi guru seperti kebanyakan alumni. Ia memilih jalan berbeda, yakni berwirausaha.

Menurut Fauzan, latar belakang pendidikan keguruan justru memberi keuntungan tersendiri dalam menjalankan usaha. Selain terampil berkomunikasi, ia memiliki pengalaman manajemen organisasi, kreativitas, inovasi, serta empati dan kesabaran. Nilai itu serupa dengan memahami kebutuhan siswa yang kemudian diterapkan dalam membaca kebutuhan pasar.

“Usaha awal yang saya digeluti adalah kopi. Bersama rekan setempat, kami membangun koperasi, seiring berjalannya waktu dan penuh lika liku, kami sepakat mengelola olahan singkong menjadi tepung tapioka dan mocaf,” katanya saat ditemui Lombok Post di JM Hotel Kuta Mandalika.

Fauzan bercerita, usahanya berkembang setelah hadir Sentra Olahan Pangan IKM di desanya, Aik Berik. Pemda memberi kesempatan masyarakat mengelola sentra tersebut dengan syarat berbadan hukum atau berbentuk koperasi. “Kenapa tidak kami coba, dan hingga kini sudah berjalan dua tahun,” cetusnya.

Mengolah singkong menjadi tepung tapioka dan mocaf dinilai sangat potensial. Permintaan pasar terus meningkat, bahkan hingga ke luar daerah. Dalam sebulan omzet yang diraih mencapai Rp 80 juta dengan produksi 10 ton. Kisaran harga tepung antara Rp 8 ribuan untuk tapioka hingga Rp 20 ribuan untuk mocaf.

“Saya optimis ini akan berhasil, dengan catatan ada daya dukung dari dua hal bahan baku dan permesinan,” imbuh Fauzan.

Ia menjelaskan, peluang menjadi pelaku UMKM sangat terbuka karena UMKM merupakan pilar ekonomi dan penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia, termasuk NTB dan Lombok Tengah.

Sektor yang bisa dikembangkan pun beragam, mulai kuliner, kerajinan, hingga jasa berbasis teknologi seperti desain grafis dan fotografi. Selain membuka usaha sendiri, Fauzan juga mampu menciptakan lapangan kerja bagi warga sekitar.

Namun tantangan tetap ada, mulai kesulitan pemasaran, keterbatasan modal, hingga risiko ketidakstabilan pasar. Pada olahan singkong misalnya, kendala utama berasal dari ketersediaan bahan baku dan mesin produksi.

“Untuk membersihkan singkong dari kulitnya, ada mesin tapi kurang (bersih) sehingga harus dibersihkan lagi, dan ini memakan waktu. Kami harap ada perbantuan mesin di sini,” jelasnya.

Untuk bahan baku, ia berharap pemerintah mengembangkan varietas singkong unggul di daerah. Singkong lokal hanya menghasilkan sari pati 27 persen dari 100 kilogram bahan, sementara varietas unggul bisa mencapai 35 persen pada volume yang sama.

“Permintaan pasar sebenarnya cukup tinggi, untuk mocaf saja ada permintaan dua kontainer sebulan tetapi ini belum bisa kami penuhi,” tutup Fauzan.

Editor : Marthadi
#Lombok Tengah #Menggerakkan #ekonomi lokal #patut ditiru #singkong