LombokPost-Hujan deras menyebabkan terganggunya pasokan air bersih di Lombok Tengah. Perumda Tirta Ardhia Rinjani (Tiara) Lombok Tengah masih mencari formula yang tepat untuk mengantisipasi kekeruhan air di Instalasi Pengolahan Air (IPA) saat cuaca ekstrem.
“Meski hujan, dari sisi kuantitas produksi air ini tidak ada masalah. Debit air cukup besar karena curah hujan tinggi. Namun jadi kendala adalah kualitasnya,” sebut Direktur PDAM Tirta Ardhia Rinjani Lombok Tengah Bambang Supratomo kepada wartawan, Selasa (23/12).
Pada sisi kualitas air, Bambang mengakui musim hujan menyebabkan perubahan warna air baku yang dikelola Perumda.
Meski mengalami perubahan warna, air itu masih dapat dimanfaatkan masyarakat atau pelanggan untuk kebutuhan sehari-hari.
“Tingkat kekeruhannya ini sedang kami rancang (formula), bagaimana mengurangi kekeruhan di setiap sumber-sumber mata air. Sumber mata air harus memiliki pengolahan secara ideal, sehingga dari sisi kualitas warna dan rasa air tetap layak dimanfaatkan,” bebernya.
Bambang mengaku, sumber-sumber mata air saat ini belum memiliki sistem pengolahan tersebut.
Penyebabnya, saat pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Batukliang Utara, kondisi air baku masih relatif aman. Namun seiring waktu, alih fungsi lahan dan perambahan hutan berdampak terhadap kualitas air baku.
“Kemudian bertemu dengan hujan intensitas tinggi, otomatis airnya berubah warna menjadi keruh,” kata Bambang.
Meski air terlihat keruh, ia memastikan air yang disalurkan Perumda Tirta Ardhia Rinjani Loteng masih dapat dimanfaatkan.
Pasalnya, pihaknya telah melakukan pengolahan secara sederhana dengan menambahkan bahan kimia untuk membunuh bakteri dan kandungan yang tidak layak.
“Bahan kimia ini tidak berbahaya untuk dimanfaatkan secara umum, karena menggunakan tawas. Tetapi tetap air ini harus dimasak dahulu jika mau dikonsumsi atau diminum,” tegasnya.
Menyoal kritik masyarakat terkait kondisi air keruh, Bambang mengakui jumlah keluhan mengalami penurunan.
Pelanggan dinilai sudah memahami bahwa saat musim hujan, air baku yang dikelola Perumda cenderung keruh. Meski demikian, pihaknya terus berupaya melakukan pengolahan sederhana untuk mengantisipasi kondisi tersebut.
“Kalau tahun sebelumnya banyak kritikan, tapi kita kan terus mencoba mengolah untuk mengurangi kekeruhan air, dengan memaksimalkan wash out atau filtrasi air secara manual,” tutup Bambang.
Editor : Kimda Farida