Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bocah Pedagang Gelang Tampil Memikat di Panggung Budaya Mandalika, Mereka Menari sambil Membawa Mimpi Besar untuk Masa Depan

Lestari Dewi • Sabtu, 7 Februari 2026 | 11:11 WIB
Belasan penari putra dan putri berfoto bersama usai menampilkan tarian adat Sasak dalam kegiatan Mandalika Art Performance di Bazaar Mandalika, Desa Kuta, Pujut, Lombok Tengah
Belasan penari putra dan putri berfoto bersama usai menampilkan tarian adat Sasak dalam kegiatan Mandalika Art Performance di Bazaar Mandalika, Desa Kuta, Pujut, Lombok Tengah

 

Pantai Kuta, Lombok Tengah, menjadi saksi para pedagang gelang yang menari di halaman Bazaar Mandalika, menunjukkan bakat dan keberanian di tengah keterbatasan ekonomi.

Di balik gelang warna-warni yang mereka jajakan, tersimpan mimpi sederhana namun besar, tumbuh menjadi generasi yang berguna bagi nusa dan bangsa.

----

LANGIT Pantai Kuta sore itu menggantung kelabu. Awan menebal, angin laut berembus pelan, dan gerimis tipis sempat membasahi pasir.

Namun suasana di halaman Bazaar Mandalika terasa hangat.

Di tengah cuaca yang tak bersahabat, puluhan pasang mata wisatawan memilih bertahan, menunggu sesuatu yang istimewa, penampilan para bocah cilik pedagang gelang.

Mereka adalah wajah-wajah kecil yang saban hari akrab dengan terik matahari Pantai Kuta.

Dengan tangan mungil, mereka menyodorkan gelang-gelang warna-warni kepada wisatawan.

Bagi mereka, berjualan bukan sekadar mencari uang jajan.

Ada tanggung jawab yang mereka pikul, membantu orang tua memenuhi kebutuhan keluarga.

Di usia yang seharusnya diisi permainan, mereka belajar arti kerja keras lebih awal.

Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan mimpi-mimpi besar.

Saat musik tradisional mulai mengalun, mereka menjelma menjadi sosok berbeda.

Kain songket terbalut rapi, gerak tubuh mengikuti irama gendang, dan senyum merekah di wajah-wajah polos itu.

Penampilan yang mereka sajikan adalah untuk memperkenalkan kepada pengunjung Bazaar Mandalika bahwa setiap pekan kesenian budaya akan hadir di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika memanjakan mata.

Menyajikan tarian indah ini tentu tidak mudah, terutama dalam membagi waktu para bocah cilik ini. Latihan tari kerap harus disesuaikan dengan waktu berjualan.

“Latihan biasanya habis berjualan,” ujar Ratna usai turun dari panggung bersama kawan-kawannya.

Ratna bersama lima orang kawannya mengaku malu saat diajak menari dan tampil di hadapan orang banyak.

Namun Ratna memiliki keinginan dan semangat bahwa meski pedagang asong mereka juga memiliki keterampilan.

“Agar tidak dipandang sebelah mata, bahwa kita ini mampu,” sambung Sari, penari lainnya.

Sore itu, meski hujan sempat turun rintik, para penonton tetap bertahan. Tak ada yang beranjak. Wisatawan domestik dan mancanegara berdiri mengelilingi halaman Bazaar Mandalika. Tepuk tangan pecah usai tarian berakhir.

“Bagus sekali,” ujar seorang wisatawan sambil tersenyum, membuat para penari cilik itu saling berpandangan, lalu tertawa lega.

Bagi mereka, menari bukan sekadar pertunjukan.

Ia adalah cara menyampaikan harapan bahwa suatu hari nanti, mereka tak hanya dikenal sebagai pedagang gelang di Pantai Kuta, tetapi sebagai anak-anak Lombok yang tumbuh menjadi pribadi berguna bagi nusa dan bangsa. 

Editor : Kimda Farida
#Lombok Tengah #gelang #Pedagang #Mandalika #bocah