LombokPost-Harga cabai rawit merah di Pasar Renteng, Lombok Tengah, melonjak drastis dari Rp 120.000 menjadi Rp 157.500 per kilogram (Kg) atau naik 31 persen dalam satu hari, Jumat (20/2).
Lonjakan ini memicu kekhawatiran terhadap daya beli masyarakat di awal Ramadan 1447 H.
Harga cabai rawit bahkan melampaui daging sapi di Pasar Renteng.
Dari laporan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Loteng di hari yang sama, daging sapi dijual Rp 140 ribu per kilogram.
“Lonjakan harga ini jauh melampaui rata-rata harga nasional yang berkisar di angka Rp 60.000 hingga Rp 90.000 per Kg pada periode yang sama, bahkan lebih tinggi dari harga tertinggi di daerah lain di NTB yang sebelumnya menyentuh Rp 130.000 hingga Rp 140.000 per Kg,” ucap Sekretaris Disperindag Loteng RR Sri Mulyaningsih pada Lombok Post, Jumat (20/2).
Kenaikan harga cabai ini juga diikuti kenaikan harga ikan bandeng, naik Rp 10.000 menjadi Rp 30.000/kg, dan ikan tongkol, naik Rp 10.000 menjadi Rp 40.000/kg.
Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap daya beli masyarakat dan potensi inflasi lokal.
Meski harga cabai naik, beberapa komoditas lain menunjukkan tren penurunan.
Di antaranya daging ayam ras, turun Rp 3.000 menjadi Rp 45.000/kg, dan bawang merah, turun Rp 5.000 menjadi Rp 40.000/kg.
“Meroketnya harga cabai rawit merah menjadi fokus utama yang membutuhkan intervensi segera dari tim pengendali inflasi daerah (TPID) Pemkab Loteng,” katanya.
Wakil Bupati Lombok Tengah M Nursiah mengungkapkan, anomali harga ini dipicu menyusutnya pasokan di tingkat produsen.
Pada musim tanam pertama 2026, mayoritas petani di Gumi Tatas Tuhu Trasna memilih menanam padi dibanding cabai.
“Produksi cabai menurun karena pola tanam petani yang beralih ke padi. Akibatnya, stok di pasar menipis dan harga melonjak di tingkat konsumen,” jelas Nursiah.
Merespons potensi inflasi, Pemkab Loteng bergerak cepat dengan menerjunkan Satgas Pasar.
Tim ini bertugas memantau stok secara real time dan memastikan tidak ada permainan harga yang tidak wajar di tingkat pedagang.
Sebagai langkah intervensi jangka pendek, pemkab melalui Dinas Ketahanan Pangan juga menggencarkan Gerakan Pangan Murah di sejumlah titik.
“Kami instruksikan dinas terkait untuk mengevaluasi pola tanam dan memperkuat distribusi agar ketidakseimbangan ini tidak terulang di musim berikutnya,” tegas Nursiah.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Lombok Tengah drh. Tri Widiawati mengimbau masyarakat memanfaatkan lahan pekarangan.
Menanam cabai, tomat, dan sayuran di rumah dinilai sebagai strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada fluktuasi pasar.
Dengan pengawasan Satgas Pasar dan intervensi pangan murah, Pemkab optimistis gejolak harga jelang bulan suci dapat diredam sehingga masyarakat bisa beribadah dengan khusyuk tanpa bayang-bayang kenaikan harga kebutuhan pokok.
Editor : Kimda Farida