LombokPost-InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) mengintensifkan penanganan cepat pascahujan ekstrem pekan lalu.
Sebagai bagian dari upaya pemulihan, ITDC menyalurkan 70 paket sembako kepada warga terdampak di KEK Mandalika, Pujut, Lombok Tengah, Sabtu (28/2).
Peristiwa hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem menyebabkan genangan di 10 dusun Desa Kuta serta 9 titik di KEK Mandalika. Sejak hari kejadian, ITDC berkoordinasi dengan Pemdes Kuta dan Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk penanganan cepat.
Penutupan akses jalan di beberapa titik dilakukan, bersamaan dengan percepatan normalisasi kawasan. Tim ITDC bersama BWS juga meninjau titik Ground Water Tank (GWT) Barat. Peninjauan dilanjutkan pengerukan sedimen menggunakan alat berat.
Direktur Operasi ITDC Troy Reza Warokka mengatakan, fokus penanganan bukan hanya fisik, tetapi juga pemulihan sosial dan psikologis masyarakat.
“Dukungan ini kami berikan sebagai bagian dari komitmen ITDC untuk memastikan masyarakat di sekitar kawasan dapat kembali pulih dan beraktivitas dengan normal,” ujarnya saat dikonfirmasi Lombok Post, Minggu (1/3).
Sebagai wujud perhatian terhadap warga terdampak, khususnya anak-anak, ITDC menghadirkan kegiatan Trauma Healing Pasca Bencana Banjir di Mandalika Child Learning Center (MCLC) bekerja sama dengan Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI).
Anak-anak mengikuti sesi musik dan dongeng interaktif untuk membantu memulihkan kondisi emosional mereka.
Selain itu, ITDC menyalurkan 58 paket alat sekolah bagi anak-anak terdampak untuk mendukung pemulihan aktivitas belajar. Pullman Lombok Mandalika turut memberikan konsumsi buka puasa bagi peserta kegiatan.
Pgs General Manager The Mandalika Agoes Setiawan mengatakan, KEK Mandalika telah dilengkapi sistem mitigasi hidrometeorologi. Termasuk drainase terintegrasi, kolam retensi, konsep eco-drainage, serta SOP tanggap darurat banjir.
Artinya, seluruh pembangunan di dalam kawasan dilaksanakan sesuai kajian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), Rencana Pengelolaan Lingkungan-Rencana Pemantauan Lingkungan (RKL—RPL), serta melalui mekanisme Design Committee yang melibatkan unsur pemerintah dan akademisi guna memastikan tata kelola lingkungan yang ketat.
“Guna memastikan pengembangan KEK Mandalika berjalan secara terintegrasi, inklusif, dan memberikan manfaat nyata bagi daerah.” ujar Agus.
Dalam penanganan teknis, ITDC berkoordinasi dengan BWS Nusa Tenggara I untuk percepatan normalisasi aliran air dan pembersihan sedimen menggunakan alat berat.
Selain itu, dilakukan inspeksi lapangan dan evaluasi kapasitas drainase eksisting sebagai bagian penguatan sistem pengendalian banjir di kawasan.
Juru Bicara Pemprov NTB Ahsanul Khalik mengatakan, banjir merupakan dampak peristiwa hidrometeorologi akibat hujan berintensitas sangat tinggi. Kondisi itu diperparah daerah tangkapan air di wilayah hulu di luar kawasan atau delineasi KEK Mandalika.
“Limpasan air dan sedimentasi dari area tersebut meningkatkan debit aliran menuju wilayah hilir, termasuk area sekitar KEK Mandalika,” kata AKA, sapaan akrabnya.
Peristiwa ini menjadi momentum untuk evaluasi lintas sektor. Serta mendorong terbangunnya sistem mitigasi bencana yang terpadu dan terkonsolidasi permanen, dengan integrasi pengelolaan daerah tangkapan air, tata air kawasan, serta pengendalian perubahan kontur lahan.
AKA menekankan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan dalam jangka panjang melalui perlindungan kawasan hulu dan penataan sistem aliran air yang jelas.
Upaya ini menjadi langkah strategis untuk meminimalkan risiko banjir di masa mendatang sekaligus menjaga keberlanjutan kawasan pariwisata unggulan daerah.
“Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa ketangguhan kawasan harus dibangun bersama. Ini bukan soal saling menyalahkan, melainkan komitmen kolektif untuk menjaga Mandalika agar tetap aman, nyaman, dan berkelanjutan,” kata dia.
Editor : Akbar Sirinawa