LombokPost-Pemanfaatan Sistem Informasi Desa (SIDeKaNG) di Lombok Tengah (Loteng) masih jauh dari optimal. Dari 105 website desa yang terdata, mayoritas belum aktif memperbarui informasi kepada masyarakat.
Temuan itu terungkap dalam monitoring dan evaluasi yang dilakukan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Loteng per 31 Maret. Hasilnya, hanya 27 desa masuk kategori aktif, 32 desa kurang aktif, dan 46 desa tidak aktif atau tidak dapat diakses.
Kepala Diskominfo Loteng Lalu Herdan menegaskan, desa tidak cukup hanya memiliki website sebagai formalitas administratif.
Baca Juga: 80 Dapur MBG di Lombok Tengah Ditutup Sementara, Tak Punya IPAL dan SLHS
Menurutnya, platform digital itu harus dikelola secara aktif sebagai media penyampaian informasi publik.
“Website desa harus hidup. Informasi program, kegiatan, dan kinerja pemerintah desa perlu dipublikasikan secara rutin agar masyarakat mudah mengaksesnya,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (1/4).
Secara persentase, sekitar 76 persen website desa di Loteng dinilai belum aktif maksimal. Kondisi ini disebabkan minimnya pembaruan konten, rendahnya pengelolaan, hingga beberapa website yang tidak dapat diakses.
Padahal, perkembangan teknologi telah mengubah pola masyarakat dalam memperoleh informasi.
Saat ini, sebagian besar warga mengandalkan telepon genggam dan internet untuk mengetahui berbagai layanan dan program pemerintah.
Baca Juga: Viral Roti MBG Berulat di Ketara, Polisi Hentikan Penyelidikan
Diskominfo menilai optimalisasi SIDeKaNG bukan hanya soal teknologi, tetapi juga menyangkut transparansi dan akuntabilitas pemerintahan desa.
Website desa diharapkan menjadi sarana resmi penyampaian informasi publik, mulai dari pengumuman, laporan kegiatan, hingga pelayanan administrasi.
Desa yang masih tergolong kurang aktif dan tidak aktif akan menjadi fokus pembinaan dan pendampingan ke depan.
Langkah ini diharapkan mampu mendorong seluruh desa di Loteng hadir aktif di ruang digital dan memberikan pelayanan informasi yang lebih cepat, terbuka, dan terpercaya bagi masyarakat.
Editor : Akbar Sirinawa