LombokPost-Pembangunan pariwisata di Lombok Tengah menunjukkan ketimpangan. Wilayah selatan berkembang pesat, sementara kawasan utara masih tertinggal.
Di selatan, dukungan pemerintah pusat melalui Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika mendorong pembangunan besar-besaran. Infrastruktur jalan, fasilitas penunjang, dan investasi terus berkembang.
Event internasional seperti MotoGP turut mengangkat posisi Mandalika sebagai destinasi global. Kawasan ini menjadi pusat perhatian dengan berbagai fasilitas pendukung.
Baca Juga: 80 Dapur MBG di Lombok Tengah Ditutup Sementara, Tak Punya IPAL dan SLHS
Berbeda dengan selatan, wilayah utara Lombok Tengah belum mendapat perhatian serupa. Potensi wisata alam di kaki Gunung Rinjani masih belum tergarap optimal.
Salah satu contohnya Danau Biru di Desa Karang Sidemen. Destinasi ini sebelumnya dikenal sebagai wisata alam unggulan, namun kini kondisinya terbengkalai.
Sarana dan prasarana yang dibangun mulai rusak. Fasilitas seperti bangku, jalur setapak, dan fasilitas umum tidak terawat.
Minimnya perhatian membuat pelaku wisata lokal harus bertahan dengan fasilitas terbatas. Kondisi ini memicu kekhawatiran kesenjangan ekonomi antara wilayah selatan dan utara.
Wakil Ketua I DPRD Lombok Tengah Lalu Muhammad Akhyar mengatakan, pariwisata merupakan sektor unggulan selain pertanian. Perkembangan pariwisata di selatan juga melalui proses panjang.
Baca Juga: Fasilitas Wisata Danau Biru di Lombok Tengah Terbengkalai
“Kenapa di utara agak kurang? Saya rasa mengembangkan pariwisata tidak sama dengan bidang atau sektor lain, pariwisata ini semuanya harus siap, termasuk masyarakat karena ada konsekuensi dari pariwisata,” tegas dia pada Lombok Post, Jumat (3/4).
Menurutnya, pengembangan pariwisata membutuhkan kesiapan sumber daya manusia dan infrastruktur dasar. Di antaranya jalan, listrik, dan jaringan komunikasi.
“Bagaimana membuat daya tarik ini, tentu kesiapan SDM, infrastruktur dasar berupa jalan, listrik, signal komunikasi dan sebagainya. Dewan pun sangat mendukung agar wisata di bagian utara dibuka selebar-lebarnya seperti di selatan,” terangnya.
Pegiat wisata Maya Yuliana mengatakan, wisata alam di utara perlu dijaga keasriannya. Namun dukungan infrastruktur tetap diperlukan.
“ Tetap dibututuhkan untuk itu semua,” cetusnya.
Baca Juga: MotoGP Mandalika 2026 Dipastikan Aman dari Imbas Konflik Global
Pengalaman pengembangan Danau Biru menjadi pelajaran penting. Destinasi ini sebelumnya dikelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Selendang Biru.
Pengelolaan berbasis masyarakat mampu menggerakkan ekonomi lokal. Pendapatan dari parkir mencapai Rp 2 hingga Rp 5 juta setiap akhir pekan.
“Dulu, akhir pekan adalah berkah. Sewa kano dan ban selalu penuh, enam unit UMKM milik warga juga laris manis,” kenang Maya.
Namun kondisi berubah setelah proyek pembangunan masuk ke kawasan hutan. Betonisasi dilakukan di area yang sebelumnya alami.
“Keasrian alam yang menjadi daya tarik utama Danau Biru dihancurkan demi bangunan fisik yang kini justru terbengkalai,” kata dia.
Dampaknya, jumlah wisatawan menurun. Kini, kawasan tersebut sepi pengunjung dan tidak terawat.
Pokdarwis Selendang Biru pun bubar. Warga kehilangan sumber penghasilan dan sebagian memilih bekerja ke luar negeri.
“Kami membangunnya dengan hati, tapi dihancurkan oleh proyek yang tak bertanggung jawab. Sekarang, danau kami hancur, dan warga kami harus pergi jauh mencari sesuap nasi,” pungkasnya.
Editor : Akbar Sirinawa