LombokPost-Kabupaten Lombok Tengah mencatat penurunan angka kemiskinan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka kemiskinan turun dari 13,44 persen pada 2021 menjadi 10,68 persen pada 2025. Namun, sektor pertanian masih menjadi penyumbang terbesar kemiskinan.
Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri mengungkapkan, meski produksi gabah melimpah, kesejahteraan petani belum berbanding lurus. Banyak pelaku sektor pertanian masih tergolong dalam kategori Desil 1 dan Desil 2.
“Kita tidak bisa menafikan bahwa sektor pertanian tetap menjadi kontributor kemiskinan tertinggi. Padahal, jika bicara produk, Lombok Tengah adalah salah satu lumbung beras dengan produksi yang sangat tinggi,” ujar Bupati Pathul, Selasa (7/4).
Baca Juga: TKA 2026 Lombok Tengah Dimulai, Seluruh Siswa Non-Peserta Wajib Belajar dari Rumah
Menurut bupati, salah satu penyebabnya adalah ketimpangan antara nilai produksi mentah dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lombok Tengah yang mencapai Rp 23 triliun. Ekonomi daerah tumbuh, namun nilai tambah dari penjualan gabah kering belum cukup mendongkrak ekonomi petani.
“Meski produksi tinggi, kita butuh pabrik-pabrik pengolahan. Hilirisasi adalah kunci agar hasil pertanian kita memiliki nilai ekonomi lebih tinggi sebelum dilempar ke pasar,” tegasnya.
Sebagai langkah perlindungan terhadap petani, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Pangan menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) terbaru. Harga Gabah Kering Panen (GKP) naik menjadi Rp 6.500 per kilogram dari Rp 6.000 per kilogram.
Baca Juga: DPRD Lombok Tengah Minta Kinerja OPD Dipercepat
“Dengan harga yang lebih kompetitif, petani diharapkan memiliki margin keuntungan yang lebih layak untuk memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan kualitas kesehatan keluarga mereka,” beber bupati.
Penurunan kemiskinan hingga 10 persen diklaim sebagai hasil sinergi lintas sektoral. Pathul menekankan pencapaian ini merupakan hasil kolaborasi dengan DPRD dan partisipasi masyarakat.
Sementara itu, menjadi petani di tengah fluktuasi harga kebutuhan pokok menuntut perhitungan yang presisi. Hal ini dilakoni Akhyar Rosidi, petani asal Desa Gemel, Kecamatan Jonggat.
Pada musim tanam pertama tahun ini, Akhyar memaparkan biaya produksinya. Untuk masa tanam empat bulan, ia menyiapkan modal awal yang tidak sedikit. Ia membeli 25 kilogram bibit unggul seharga Rp 400 ribu, ditambah ongkos pengolahan Rp 100 ribu.
“Persiapan lahan itu yang paling memakan biaya. Untuk traktor dan tukang cangkul saja habis Rp 1,2 juta. Belum lagi ongkos tanamnya Rp 1 juta,” urai Akhyar.
Pada tahap perawatan, Akhyar mengeluarkan Rp 700 ribu untuk 2,5 kuintal pupuk dan biaya penyebarannya. Ia juga mengalokasikan Rp 400 ribu untuk pembersihan rumput.
Baca Juga: Karang Taruna Lombok Tengah Jadi Mitra Strategis Pemkab
“Kalau ditotal dengan biaya panen dan lainnya, modal yang keluar itu tembus Rp 5 juta per satu kali masa tanam,” tambahnya.
Dari hasil panen, ia mencatat produksi kotor 2,5 ton atau 25 kuintal. Setelah dipotong biaya panen, ia membawa pulang 1,7 ton gabah.
Setelah dikeringkan hingga kadar air sesuai, bobot menyusut menjadi 1,5 ton atau 15 kuintal. Gabah tersebut terjual Rp 9 juta.
“Alhamdulillah, setelah dikurangi modal Rp 5 juta, masih ada untung bersih Rp 4 juta yang bisa dibawa pulang. Itu hasil keringat selama empat bulan,” pungkasnya.
Editor : Akbar Sirinawa