LombokPost – Upaya memperkuat kemandirian ekonomi berbasis kewirausahaan terus digencarkan melalui inovasi teknologi tepat guna.
Salah satunya diwujudkan dalam kegiatan bertajuk inovasi mesin pembersih jahe dan pemanfaatan limbah peternakan yang digelar di Aula Yayasan Pondok Pesantren Saadiyah, Senin (6/4) lalu.
Program ini merupakan bagian dari pendanaan RisetMu 2026 yang diinisiasi Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan PP Muhammadiyah.
Baca Juga: Inovasi Limbah di Batu Hijau: Sisa Makanan Karyawan Amman Diolah Warga Jadi Pelet Ikan
Kegiatan tersebut difokuskan pada pengembangan riset terapan sekaligus pengabdian kepada masyarakat berbasis inovasi di sektor pertanian dan peternakan.
Sekretaris Yayasan H Muhammad Yasin menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan program tersebut.
Menurutnya, kegiatan ini menjawab kebutuhan nyata dalam pengembangan unit usaha berbasis pertanian di lingkungan pesantren.
Baca Juga: Limbah Pelepah Kelapa Jadi Produk Estetik
“Program ini sangat relevan karena memberikan solusi konkret untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha. Kami berharap teknologi yang diperkenalkan bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Kegiatan juga dihadiri Pembina Yayasan Jamal Firdaus serta Babinkamtibmas Kelurahan Sasake, Lalu Adi. Sementara Ketua Yayasan M Hariri Idris berhalangan hadir karena sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Provinsi NTB. Peserta yang terlibat sekitar 20 orang, terdiri dari pengelola unit usaha dan penanggung jawab aset yayasan.
Materi utama disampaikan oleh Karyanik dari Universitas Muhammadiyah Mataram selaku ketua tim pengabdian, didampingi Suhairin dan Firzhal Arzhi Jiwantara bersama mahasiswa. Dalam pemaparannya, Karyanik menegaskan bahwa komoditas jahe memiliki potensi ekonomi yang besar dan prospek pasar yang terus meningkat.
Baca Juga: DLH Lotim Ingatkan Bahaya Limbah MBG tanpa IPAL
“Permintaan jahe relatif stabil, bahkan cenderung naik, terutama untuk industri herbal dan pangan. Jika diolah dengan baik, nilai jualnya bisa jauh lebih tinggi dibandingkan dijual mentah,” jelasnya.
Ia menambahkan, penggunaan mesin pembersih jahe menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi pascapanen. Dengan mekanisasi, proses pembersihan menjadi lebih cepat, higienis, dan konsisten sehingga mampu meningkatkan daya saing produk.
Selain itu, pengembangan usaha jahe dinilai berpotensi menjadi sumber pendanaan mandiri bagi pesantren. Jika dikelola secara terintegrasi, mulai dari budidaya hingga pengolahan, usaha ini dapat memberikan pemasukan berkelanjutan untuk mendukung operasional lembaga.
Sementara itu, materi pemanfaatan limbah peternakan disampaikan Ahmad Akromul Huda dari Universitas Mataram. Ia menekankan pentingnya pengolahan limbah, khususnya kotoran ayam dari usaha petelur, menjadi pupuk organik bernilai ekonomis.
“Pemanfaatan limbah tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga membuka peluang usaha baru melalui produk pupuk organik,” terangnya.
Kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung pengoperasian dan perawatan mesin pembersih jahe. Peserta juga dilatih membuat pupuk organik dari limbah peternakan yang dihasilkan yayasan.
Melalui integrasi sektor pertanian dan peternakan ini, Yayasan Pendidikan Saadiyah diharapkan mampu menciptakan sistem usaha yang berkelanjutan. Pemanfaatan teknologi serta pengolahan limbah menjadi produk bernilai tambah menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal.
Sebagai penutup, dilakukan serah terima mesin pembersih jahe kepada pihak yayasan sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pengembangan usaha produktif di lingkungan pesantren.
Editor : Redaksi