LombokPost-Realisasi investasi di Lombok Tengah (Loteng) pada awal tahun ini menorehkan catatan positif. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Loteng mencatat, angka investasi pada triwulan I 2026 menembus Rp 2,59 triliun.
Capaian ini membuat jajaran Pemkab Loteng optimistis target tahunan bisa dilampaui sebelum akhir tahun. Terlebih, angka Rp 2,59 triliun itu sudah memenuhi 64,67 persen dari total target daerah sebesar Rp 3,1 triliun.
Kepala DPM-PTSP Loteng Dalilah mengungkapkan, investasi pada awal tahun ini menunjukkan dominasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Nilainya lebih tinggi ketimbang modal asing.
Baca Juga: Wabup Loteng Minta OPD Respons Cepat Catatan BPK
“Dari angka ini kami melihat PMDN lebih tinggi ketimbang asing, yaitu mencapai Rp 1,5 triliun. Sementara untuk penanaman modal asing (PMA) berada di angka Rp 561 miliar,” ungkap Dalilah pada wartawan, Selasa (2/6).
Melihat tren positif ini, Dalilah mengaku yakin rapor investasi di Gumi Tatas Tuhu Trasna akan terus meningkat hingga penutupan tahun nanti.
“Ini tentu sangat positif, menunjukkan triwulan pertama saja sudah di atas 64 persen. Saya yakin pada triwulan keempat nanti capaiannya bisa melebihi target,” tegasnya.
Baca Juga: Sengketa Sewa Dapur Lahan MBG di Lombok Tengah Berujung Saling Lapor
Meski demikian, Dalilah tidak menampik adanya tantangan berupa ketimpangan geografis. Hingga saat ini, sebaran modal dan pembangunan masih berpusat di kawasan selatan Loteng. Terutama di wilayah Kecamatan Pujut, Praya Barat, dan Praya Barat Daya.
Sebaliknya, geliat investasi di kawasan utara Loteng terpantau masih minim. Namun, Dalilah meluruskan, kondisi ini merupakan bagian dari strategi tata ruang daerah yang sengaja dipertahankan. Kawasan utara memang diplot sebagai wilayah konservasi demi menjaga keberlangsungan ekosistem.
“Bagian utara sengaja dipusatkan sebagai kawasan hijau karena di sana merupakan sumber mata air. Jadi basisnya memang untuk sektor pertanian dan perikanan yang berfungsi sebagai pendukung ke wilayah selatan,” bebernya.
Sementara untuk wilayah selatan, infrastruktur dan pariwisata menjadi daya tarik utama bagi para investor.
“Kawasan selatan ini biasanya investor akan melihat area mana yang kian berkembang, maka ke sanalah minat pelaku usaha lain akan ikut mengekor,” pungkas Dalilah.
Baca Juga: Ganteng Maksimal dan Penuh Karisma, Ini 5 Drama Populer Dylan Wang yang Wajib Masuk Daftar Tontonan
Capaian investasi yang meningkat di awal tahun ini mendapat apresiasi dari kalangan legislatif.
Ketua Komisi II DPRD Loteng Ferdian Elmansyah mengatakan, tingginya angka investasi, khususnya dari pemodal dalam negeri, menjadi sinyal iklim usaha di Loteng semakin sehat dan dipercaya.
“Kami di legislatif tentu sangat mengapresiasi capaian ini. Angka Rp 2,59 triliun di triwulan pertama itu bukan hal yang mudah. Dominasi PMDN yang menyentuh Rp 1,5 triliun membuktikan bahwa pengusaha lokal kita punya gairah dan kepercayaan diri yang tinggi untuk berinvestasi di daerah sendiri,” ujar Ferdian.
Ia juga menekankan, lonjakan investasi ini harus berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Terutama dalam penyerapan tenaga kerja lokal.
Komisi II berkomitmen terus mengawal kebijakan daerah agar ramah terhadap investor, tetapi tetap berpihak pada hak-hak masyarakat setempat.
“Kami berharap tren positif ini terjaga sampai akhir tahun. Investasi yang masuk harus menjadi stimulus bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat bawah, membuka lapangan kerja baru, dan mengurangi angka pengangguran di Lombok Tengah,” tambah politisi Golkar ini.
Editor : Kimda Farida