LombokPost - Suasana haru menyelimuti Bencingah Agung Masmirah kantor bupati Lombok Tengah (Loteng), Kamis (25/6).
Ribuan anak yatim piatu memadati ruangan. Mereka mengenakan busana muslim berwarna putih. Lantunan ayat suci Alquran mengiringi pelaksanaan Rahman Rahim Day.
Agenda tahunan yang digelar setiap 10 Muharam itu menjadi momentum berbagi kepada anak yatim.
Tahun ini, Pemkab Loteng membagi lokasi pelaksanaan. Dari total 1.200 anak yatim piatu, sekitar 700 orang dipusatkan di Bencingah Agung Masmirah. Mereka berasal dari Kecamatan Praya dan Jonggat.
“Sisanya tersebar di kecamatan lain,” kata Bupati Loteng Lalu Pathul Bahri.
Pathul menjelaskan, total santunan yang disalurkan mencapai Rp 400 juta. Dana tersebut berasal dari sedekah masyarakat. Pengelolaannya dilakukan melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Loteng.
Jumlah penerima tahun ini mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Salah satu penyebabnya karena jadwal kegiatan daerah cukup padat.
Baca Juga: Sekda Loteng Sebut Mutasi Pejabat Tunggu Restu Pusat
“Tahun lalu memang lebih banyak. Namun waktu pelaksanaan cukup dekat. Energi dan anggaran juga sebelumnya fokus untuk MTQ,” ujarnya.
Meski demikian, Pathul menilai semangat berbagi kepada anak yatim terus berkembang. Rahman Rahim Day kini mulai banyak diikuti pondok pesantren dan lembaga sosial secara mandiri.
Menurutnya, hal itu menunjukkan kepedulian masyarakat terhadap anak yatim semakin kuat. “Yang penting bukan melihat isi amplopnya. Mereka merasa diperhatikan dan tidak sendiri,” katanya.
Tokoh agama TGH Lalu Tamim mengajak masyarakat menjadikan kegiatan tersebut sebagai pengingat untuk terus berbagi. Setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas, kata dia, akan membawa keberkahan. “Membahagiakan keluarga hari ini akan mendapat balasan kebahagiaan dari Allah SWT,” ucapnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Baznas Loteng TGH Lalu Mala Syari mengatakan penerima santunan telah melalui proses seleksi. Baznas menetapkan penerima berdasarkan kriteria yatim dan kondisi ekonomi. Batas usia penerima maksimal 14 tahun atau belum memasuki usia balig.
“Batas umur ini agar sesuai dengan sasaran program. Anak yatim fakir miskin di bawah usia 14 tahun masih banyak,” jelasnya.
Ia menegaskan, Baznas memprioritaskan anak yatim yang benar-benar membutuhkan bantuan. Anak yatim dari keluarga mampu tidak masuk dalam daftar penerima.
Baca Juga: Pemkab Loteng Tak Tegas Hadapi Alfamart
“Kita fokus pada anak yang secara ekonomi kurang mampu. Apalagi jumlah anak yatim di Loteng cukup banyak,” pungkasnya.
Editor : Akbar Sirinawa