Melalui program pengabdian kepada masyarakat, keluarga pasien, kader kesehatan, dan perangkat desa dibekali pengetahuan tentang pencegahan TB serta pendampingan pengobatan.
Kegiatan yang berlangsung April hingga Juli 2026 itu melibatkan 10 anggota keluarga pasien TB, lima staf Desa Jelantik, dan 20 kader kesehatan dengan dukungan Puskesmas Ubung.
Berdasarkan data tim pengabdian, kasus TB yang terdata di wilayah kerja Puskesmas Ubung meningkat dari 40 kasus pada 2023 menjadi 73 kasus pada 2024.
Sementara di Desa Jelantik, tercatat 12 pasien TB menjalani pengobatan pada 2024.
Kegiatan diawali dengan penyuluhan mengenai gejala, penularan, pencegahan, deteksi dini, dan pentingnya menyelesaikan pengobatan TB.
Peserta juga diberikan edukasi tentang etika batuk, penggunaan masker, ventilasi rumah, serta pemeriksaan anggota keluarga yang memiliki kontak erat dengan pasien.
Hasil evaluasi menunjukkan pemahaman peserta mengenai TB meningkat dari sekitar 40 persen sebelum penyuluhan menjadi 85 persen setelah kegiatan.
Penyuluhan Penyakit Tuberkulosis disampaikan Dr Fihiruddin, S.Si., M.Sc.
Baca Juga: SMAN 9 Mataram Perkuat Kolaborasi dengan Sentra PKLK SLBN Pembina NTB
Dia mengatakan, keluarga memiliki peran penting dalam memastikan pasien menjalani pengobatan secara teratur hingga tuntas.
"Keluarga bukan hanya mengingatkan jadwal minum obat, tetapi juga memberikan dukungan dan motivasi agar pasien tetap semangat menjalani pengobatan yang cukup panjang," ujarnya.
Keluarga pasien juga dilatih menjadi Pengawas Minum Obat (PMO). Mereka dibekali keterampilan memantau konsumsi Obat Anti Tuberkulosis (OAT), mencatat kepatuhan pasien, mengenali efek samping, dan berkoordinasi dengan petugas kesehatan jika muncul keluhan.
Selain itu, peserta mengikuti Pelatihan Pembuatan Terapi Komplementer dengan memanfaatkan bahan lokal sebagai pendamping pengobatan medis.
Sejumlah bahan seperti daun kelor, jahe, kunyit, temulawak, jeruk, kayu manis, dan kapulaga diperkenalkan untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi pasien.
Narasumber terapi komplementer Erwin Irawan mengatakan terapi berbasis bahan lokal tidak boleh menggantikan pengobatan utama TB.
"Terapi komplementer ini bukan untuk menggantikan obat TB. Fungsinya sebagai pendamping, terutama untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi dan menjaga kondisi tubuh pasien selama menjalani pengobatan," katanya.
Dalam pelatihan tersebut, peserta juga mempraktikkan cara mengolah bahan lokal secara higienis menjadi makanan dan minuman pendamping. Hasil evaluasi menunjukkan pemahaman peserta mengenai pemanfaatan bahan lokal sebagai terapi komplementer meningkat dari 60 persen menjadi 90 persen.
Baca Juga: PMR SMAN 9 Mataram Raih Juara I Pentas Seni pada Gelora KSR PMI Unit Ummat VI
Tim pengabdian berharap keterlibatan keluarga dan kader dapat memperkuat kepatuhan pasien menjalani pengobatan, mencegah putus obat, serta membantu memutus rantai penularan TB di masyarakat.
Kolaborasi keluarga, kader, pemerintah desa, dan Puskesmas Ubung diharapkan terus berlanjut untuk mendukung upaya eliminasi TB di Lombok Tengah.
Editor : Kimda Farida
Sumber : siaran pers