LombokPost - Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI Fahri Hamzah menegaskan, proses rekonstruksi Desa Wisata Sade di Dusun Sade, Desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah (Loteng) tidak akan dilakukan secara terburu-buru apalagi asal jadi. Penegasan tersebut disampaikan Fahri saat turun langsung meninjau lokasi terdampak kebakaran pada Rabu (2/9).
Menurutnya, Desa Wisata Sade bukan sekadar pemukiman warga biasa, melainkan salah satu destinasi wisata unggulan nasional yang menjadi benteng kelestarian budaya tradisional Lombok bagi khalayak luas. “Pascamusibah ini, prinsip kita adalah melakukan restore (pemulihan) menjadi lebih baik, lebih nyaman, dan lebih aman. Ini selaras dengan visi Bapak Presiden mengenai Indonesia ASRI — Aman, Sehat, Resik, dan Indah,” tegas Fahri pada wartawan.
Baca Juga: Tinjau Sade, Menpar Pastikan Penanganan Darurat dan Pemulihan Jangka Panjang Berjalan Baik
Guna mewujudkan pemulihan yang matang, Fahri mengaku telah berkomunikasi secara intensif dengan Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Kedua kementerian bersepakat untuk menggalang kerja sama lintas kementerian dengan melibatkan kalangan kampus, ilmuwan, serta ahli tata kota dan arsitektur tradisional.
Langkah kolaboratif ini diambil mengingat pembangunan kembali Kampung Sade harus memadukan empat elemen vital secara simultan. Yaitu, pelestarian nilai budaya, kenyamanan pariwisata, ketahanan infrastruktur, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Kemarin malam saya ngobrol langsung dengan Menteri Kebudayaan Fadli Zon untuk memberikan perhatian khusus, karena ini menjadi tanggung jawab kementeriannya juga. Beliau setuju, makanya saya usulkan pertemuan lintas sektor untuk membahas desain terbaik sebelum alokasi anggaran diturunkan,” beber mantan Wakil Ketua DPR RI tersebut.
Baca Juga: Kembali Bangkit, Ritual Nyemulaq Segera Awali Pemulihan Desa Wisata Sade
Salah satu poin krusial yang menjadi sorotan utama Kementerian PKP adalah kerentanan material bangunan tradisional Sade terhadap ancaman api. Sebab itu, Fahri secara khusus meminta PT PLN untuk mendesain ulang sistem kelistrikan kampung adat tersebut dari nol.
“Sade harus terkonsep bertahan lama dan tidak mudah mengalami musibah serupa di kemudian hari. Instalasi listrik harus dipasang seaman mungkin. Kita minta PLN mendesain khusus ini, mengingat material rumah adat sangat sensitif terhadap korsleting,” paparnya.
Selain penataan hunian, pemerintah juga menyerap berbagai inisiatif swadaya dan donasi yang sudah mulai mengalir dari masyarakat luas, seperti rencana pembangunan museum dan masjid desa. Meski demikian, ia menggarisbawahi bahwa penanganan infrastruktur dasar tetap menjadi tanggung jawab penuh pemerintah bersinergi dengan pemerintah daerah.
Pihaknya meminta warga Dusun Sade untuk tetap bersabar dan tidak memaksakan diri membangun hunian secara mandiri tanpa perencanaan matang. “Kita tidak mau Desa Wisata Sade dibangun dalam waktu singkat tetapi mengabaikan aspek keamanan. Jika masyarakat ngotot membangun sendiri tanpa standar, justru akan menimbulkan masalah baru pada infrastruktur keamanan di masa depan,” cetusnya.
Fahri juga memberikan suntikan semangat moral kepada warga terdampak agar segera bangkit dari trauma. Ia optimistis, musibah ini justru menjadi momentum berharga untuk menaikkan kelas Desa Wisata Sade di mata dunia.
Baca Juga: Jaga Rumah Adat, Desa Wisata Sasak Ende Perkuat Mitigasi Bencana
“Jadikan musibah ini sebagai motivasi positif. Dengan penataan yang lebih aman dan terkonsep matang, nama Sade akan dikenal semakin luas dan aman untuk dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara,” pungkasnya.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten (pemkab) Loteng bersama para tokoh adat setempat akan menggelar ritual budaya Nyemulak sekaligus peletakan batu pertama rekonstruksi pada Kamis pagi (3/9), bertepatan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Bupati Loteng Lalu Pathul Bahri menyampaikan, pemilihan waktu pelaksanaan peletakan batu pertama ini tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan mengikuti perhitungan spiritual dan petunjuk peninggalan leluhur Sasak. “Ritual ini sudah dihitung oleh leluhur atau tokoh adat setempat. Hari baik itu jatuh pada hari ini, hari barokah, jam barokah,” ujar Pathul.
Baca Juga: Anggota DPRD Loteng dan Eks Calon Bupati Dilaporkan Polisi, Dugaan Penipuan Uang Rp 370 Juta
Mengenai pembangunan rumah adat secara menyeluruh, Pathul menegaskan bahwa pemkab masih menunggu hasil Detail Engineering Design (DED). Dokumen perencanaan tersebut nantinya akan didiskusikan kembali bersama lintas kementerian untuk memfinalisasi desain kawasan kampung Sade. “Pak Fahri Hamzah banyak memberikan arahan strategis, selanjutnya akan kami tindak lanjuti,” kata Pathul.
Selain fokus pada perencanaan fisik bangunan, pemkab Loteng juga bergerak menyiapkan skema bantuan finansial bagi keluarga terdampak musibah. Pemerintah daerah tengah memproses pembukaan rekening Bank BTN guna menyalurkan bantuan biaya hidup bagi para korban.
“Rekening Bank BTN disiapkan untuk membantu para korban terdampak sebagai biaya hidup keluarga. Berapa jumlahnya, Wallahu’alam bishawab,” tukas bupati.
Editor : Akbar SirinawaSumber : Liputan Berita Lombok Post