Sade Bangkit, Warga Mulai Cicil Bangun Rumah Adat

Lestari Dewi • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 12:02 WIB
Para pria bergotong royong mendirikan tiang rumah adat Bale Toak di Desa Wisata Sade, Dusun Sade, Desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah, Kamis (3/9).
Para pria bergotong royong mendirikan tiang rumah adat Bale Toak di Desa Wisata Sade, Dusun Sade, Desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah, Kamis (3/9).

 

LombokPost - Pemulihan Dusun Sade mulai bergerak setelah kebakaran, ditopang bantuan Rp 1 miliar dari The Dudas Minus One dan percepatan pembangunan museum oleh pemerintah. Bantuan Rp 10 juta per kepala keluarga diprioritaskan untuk membeli material rumah, sementara museum disiapkan untuk menjaga sejarah dan aktivitas warga selama rekonstruksi.

Nelem, salah seorang warga Sade, bercerita bahwa warga harus memutar otak agar dana itu cukup. Rencana awal menggunakan kayu ulin terpaksa diganti dengan kayu akasia yang harganya jauh lebih terjangkau.

“Kalau kebutuhan sehari-hari sudah ada bantuan logistik. Uang ini dipakai beli kayu. Harusnya pakai kayu ulin, tapi mahal sekali Rp 13 juta per tiang. Jadi diganti pakai kayu akasia,” tutur Nelem kepada Lombok Post, Jumat (4/9).

Baca Juga: Gubernur NTB Minta Percepat Status Desa Adat dan Cagar Budaya Sade

Untuk membangun satu unit rumah adat tipe Bale Toak, dibutuhkan setidaknya 13 tiang kayu. Meski belum menutup seluruh biaya, bantuan ini sangat berarti untuk mencicil tiang dan atap alang-alang.

“Kita cicil dulu bangun tiang rumahnya,” singkatnya.

Di sisi lain, pemerintah daerah bergerak cepat dengan memprioritaskan pembangunan museum sebelum memugar seluruh tempat tinggal warga. Langkah ini diambil guna menyelamatkan identitas, cerita, serta nilai sejarah Desa Wisata Sade agar tidak terputus akibat bencana.

Baca Juga: Warga Loteng Bisa Ajukan Perbaikan Desil

Bupati Loteng Lalu Pathul Bahri menegaskan, museum ini dirancang sebagai pusat memori kolektif yang mendokumentasikan setiap detail kehidupan masyarakat adat Sade.

“Pemerintah secepatnya membangun museum supaya story-nya tidak hilang. Dari musibah kebakaran ini, kita diingatkan bahwa perpaduan antara nilai zaman dulu dan zaman sekarang itu penting,” ujar Pathul.

Pemkab Loteng juga menggandeng akademisi Universitas Mataram (Unram) untuk merancang sistem keamanan modern, seperti jaringan listrik bawah tanah dan water mist village (penyemprotan air otomatis) guna mencegah kebakaran di masa depan. Selain itu, pemulihan ekonomi warga, khususnya para pengrajin tenun, turut dibantu lewat permodalan dari pusat melalui Bank BTN.

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menambahkan, pembangunan museum semipermanen yang dilengkapi anjungan akan membuat roda ekonomi dan pariwisata tetap berputar selama proses rekonstruksi berlangsung. Sementara rumah adat warga nantinya dikerjakan secara bertahap.

“Kita bukan hanya merekonstruksi bangunan, melainkan sedang merekonstruksi sejarah dan peradaban,” pungkas gubernur. 

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
Sade Bangkit rumah adat Pemkab Loteng The Dudas Minus One material