
Dari puing-puing abu yang menyisakan pedih, Desa Adat Sade merajut kembali ingatan kolektifnya melalui sebuah museum—merawat tradisi Sasak agar tak lekang disapu zaman dan amukan api.
---------------------
Lidah api mungkin mampu melahap atap-atap ilalang kering dan kayu-kayu tua penopang bale tani di Desa Adat Sade, Rembitan. Namun, api yang membumihanguskan perkampungan tradisional Sasak itu tak sedikit pun sanggup memadamkan memori, kebudayaan, dan daya hidup masyarakatnya.
Saat ini, dari balik sisa-sisa trauma dan puing kebangkitan, sebuah museum sedang dipersiapkan untuk mengabadikan perjalanan emosional tersebut.
Museum Negeri NTB tengah bergerak cepat mematangkan konsep tata ruang dan tata pamer bagi pembentukan Museum Desa Adat Sade. Bukan sekadar gedung pemajang benda kuno, museum ini dirancang menjadi wahana mesin waktu naratif yang mengisahkan pasang surut kehidupan masyarakat Sade secara utuh.
“Story line yang diinginkan itu menggambarkan kehidupan masyarakat Sade secara utuh. Dari masa lalu sebelum musibah, detik-detik peristiwa kebakaran, hingga proses mereka bangkit kembali merajut asa,” kata Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam.
Nuralam menegaskan, arsitektur fisik Museum Sade mengacu penuh pada buah pemikiran dan kesepakatan tim ahli arsitektur Universitas Mataram (Unram). Desain autentik yang disodorkan para akademisi tersebut menjadi pijakan utama bagi tim kurator museum dalam menyusun alur cerita atau story line pameran.Menghidupkan roh kebudayaan di dalam ruang museum membutuhkan kejelian bercerita.
Pamong Budaya Madya Museum NTB Bunyamin, mengungkapkan tajuk besar yang diusung dalam tata pamer ini adalah Jejak Kehidupan Warisan dan Identitas Sade.
“Konsep tata pamer Museum Sade tidak hanya mendokumentasikan benda-benda budaya mati, tetapi juga menggambarkan adat istiadat, tradisi, kebiasaan, hingga dinamika perjalanan hidup masyarakatnya,”jelasnya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




