LombokPost - Misteri kasus keracunan massal yang menimpa 335 murid sekolah di Lombok Tengah (Loteng) usai menyantap paket Makanan Bergizi Gratis (MBG) akhirnya terkuak.
Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memastikan biang keladi di balik insiden tragis itu adalah paparan bakteri Escherichia coli (E. coli).
Kepastian ini disampaikan langsung oleh Ketua Satgas MBG Loteng Lalu Firman Wijaya, Jumat (25/9).
Baca Juga: Kronologis Keracunan Menu MBG di SDN Beber: Selain Siswa, Guru Ikut Juga jadi Korban
Hasil uji laboratorium BPOM secara sah mengonfirmasi keberadaan bakteri itu pada sampel makanan yang dikonsumsi para siswa.
Buntut dari temuan mendesak ini, Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas dengan menyegel dan menghentikan sementara operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lombok Tengah Mekar Bersatu di Desa Mekar Bersatu, Kecamatan Batukliang.
“Secara teknis dari laporan Korwil, lemari pendinginnya kurang dingin. Freezer-nya harus diganti agar bisa menyimpan stok makanan beku lebih bagus dan aman,” tegas Firman.
Baca Juga: Dapur MBG Diwanti-wanti Wawali Kota Mataram, Jangan Sampai Ada Kasus Keracunan
Terbongkarnya kasus ini berbuntut panjang pada munculnya gelombang penolakan dari sebagian wali murid, khususnya di SDN Beber.
Menyikapi keresahan wali murid, Pemkab Loteng bergerak cepat menyiapkan langkah sosialisasi untuk mengembalikan kepercayaan publik.
“Program MBG dari pemerintah pusat ini benar-benar berkualitas, sehat, dan aman,” pungkas Firman.
Ia menegaskan agar seluruh pengelola SPPG di Gumi Tatas Tuhu Trasna tidak bermain-main dan wajib mengantongi serta menerapkan standar ketat tiga syarat utama keamanan pangan itu tanpa toleransi.
“Pastikan tiga ini,” cetusnya.
Baca Juga: TGB Pertimbangkan Perubahan Nama Ponpes Abul Barakat Usai Kasus Hukum Seret Pimpinannya
Sementara itu, Kepala Bidang P3KL Dinas Kesehatan Loteng Putrawangsa menegaskan, insiden kesehatan masyarakat harus menjadi cermin evaluasi menyeluruh untuk membenahi alur deteksi hingga eksekusi di lapangan.
“Setiap kejadian harus menjadi pembelajaran untuk memperkuat sistem ke depan,” tegas Putrawangsa.
Putrawangsa mengingatkan seluruh jajaran faskes agar tidak lengah dan bertindak responsif sejak sinyal pertama diterima.
Baca Juga: Lempar Handuk, Pemilik SPPG Tuding Keterlambatan Sekolah dan Anak Tak Sarapan Picu Keracunan MBG
Tidak lagi menunggu kejadian menjadi besar baru bergerak. Sistem deteksi dini harus berjalan dari tingkat puskesmas, kemudian terhubung dengan rumah sakit, laboratorium, dan Dinas Kesehatan.
“Dengan koordinasi yang baik, setiap indikasi kejadian dapat segera ditindaklanjuti,” pungkasnya.
Editor : Kimda FaridaSumber : Liputan Berita Lombok Post