LombokPost--Pengembangan perkebunan tebu di Dompu diyakini telah memberikan multiplier effect (efek ganda) untuk daerah dan masyarakat sekitar.
Tak hanya sejumlah infrastruktur yang terbangun, kesejahteraan petani tebu juga semakin terlihat, salah satunya dibuktikan dengan ratusan dari mereka berhasil umrah di tahun 2024.
----------------
Dewan Pembina Kamar Dagang Indonesia (Kadin) NTB Hery Prihatin tidak kaget jika potensi komoditi tebu di Dompu kini dilirik oleh pemerintah pusat.
Penetapan Bumi Nggahi Rawi Pahu sebagai kawasan tebu nasional merupakan klimaks dari perjalanan panjang pengembangan komoditi holtikultura ini.
Hilirisasi bidang pangan di NTB memang sudah lama digaungkan Hery saat menjabat sebagai ketua Kadin provinsi periode 2004-2009 silam.
Beberapa pengusaha didorong untuk menangkap peluang tersebut dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki daerah, salah satunya produk gula yang merupakan salah satu kebutuhan pokok.
“Dan ternyata setelah program ini kami dorong sejak lama, PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS) tertarik berinvestasi di Dompu dengan fokus memproduksi gula,” ujarnya.
Menurut Hery, tebu memiliki manfaat cukup besar. Selain menjadi bahan baku untuk memproduksi gula, ampasnya bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak.
Karena itu, perkebunan tebu di Dompu dan sekitarnya sangat memungkinkan terus berkembang ke depannya, dengan catatan program pemerintah pusat dan pemerintah daerah terintegrasi dengan baik.
Heri juga mengingatkan bahwa pemerintah baik pusat apalagi daerah sangatlah menentukan dalam sukses tidaknya program tebu ini.
Dia juga menyarankan, agar petani tebu memiliki bargaining position (posisi tawar) dengan pemerintah dan perusahaan, setidaknya mereka bisa memiliki paguyuban atau semacam koperasi.
Keberadaan lembaga yang menaungi petani tebu itu diyakini akan memberikan kemudahan bagi mereka, seperti dalam hal pendanaan baik untuk menangkap bantuan kredit usaha rakyat (KUR) ataupun kredit pangan sejenisnya.
Lembaga ini juga bisa menjadi saluran komunikasi bagi para petani untuk menyampaikan aspirasi ke perusahaan dan pemerintah.
“Segeralah dibentuk koperasi atau paguyuban ini karena penting sekali buat mereka, kalau memang kesulitan, Kadin mungkin bisa membantu untuk mengadvokasi,” ujarnya.
Mantan Ketua Kadin itu juga berkeyakinan bahwa bahwa diantara para petani ada yang memiliki kemampuan manajerial demikian pula leadership yang menjadi faktor utama dalam menggerakkan organisasi.
Hery juga mengatakan bahwa ia sudah menyampaikan usulan kepada gubernur terpilih NTB jika para pengusaha lokal siap terlibat mendukung pengembangan sektor pertanian termasuk tebu dengan menyiapkan kawasan industri pengolahannya.
Mereka akan menyiapkan sebuah aplikasi yang diberi nama great digital untuk menampilkan potensi sumber daya alam yang dimiliki setiap daerah di NTB sehingga memudahkan calon investor untuk memetakan peluang usaha.
“Baru setelah itu kami bersama perusahaan akan merampungkan dalam hal agro logistiknya,” imbuh Hery.
Dia juga optimis jika cita-cita menjadikan Dompu sebagai sentra gula di wilayah Indonesia timur khususnya NTB bukan sekadar isapan jempol.
Caranya dengan pemda harus mengawal kebijakan pemerintah pusat terkait masa depan tebu Dompu dengan menggerakkan semua perangkat yang ada.
Perusahaan juga harus didukung melalui regulasi untuk menciptakan kondusifitas investasi di daerah.
Ia mengingatkan bahwa sudah sepatutnya keamanan dan kenyamanan berinvestasi untuk para pengusaha di daerah didukung sepenuhnya oleh pemerintah demi kemajuan daerah. (baiq farida/*)
Editor : Kimda Farida