LombokPost - Matahari masih tinggi ketika Bupati Dompu Bambang Firdaus bersama rombongan menapakkan kaki di Dusun Garuda, Desa Tambora, Kecamatan Pekat, akhir pekan lalu. Dari titik inilah perjalanan panjang dimulai.
Tak ada kendaraan yang bisa masuk. Satu-satunya cara mencapai sumber mata air di Kilometer 12 hanya dengan berjalan kaki.
Tanpa banyak ancang-ancang, bupati yang didampingi sang istri Onti Bambang Firdaus langsung turun dari mobil. Rombongan yang terdiri dari Sekda, para kepala dinas, camat, kades, dan masyarakat setempat mengikuti di belakang.
Baca Juga: Bupati Dompu Rela Jalan Kaki Sejauh 8 Kilometer Demi Tinjau Mata Air
Jalur yang mereka hadapi bukan jalan biasa. Setapak, berdebu, melewati kebun kopi dan jagung. Kemudian menanjak dan menurun menyusuri sisi selatan Gunung Kadindi dan sisi timur Gunung Tambora.
Keringat bercucuran, napas tersengal. Beberapa kali rombongan harus berhenti sejenak sekadar mengumpulkan tenaga. Namun semangat mereka tak surut. "Perjalanan ini untuk air, untuk hidup warga Dompu," kata bupati.
Lima hingga enam jam lamanya mereka berjalan. Medan kian berat. Jalan licin, berbatu, panas terik menembus ubun-ubun. Namun semua itu dilalui dengan tekad bulat. Menemukan sumber mata air yang menjadi harapan ribuan warga Kecamatan Pekat.
Baca Juga: Bupati Dompu Tinjau Produksi Rokok Manual Kadindi Barat
Setelah tenaga seolah terkuras habis, rombongan akhirnya tiba di sebuah aliran sungai yang membentang di kaki Gunung Tambora. Tapi perjalanan belum selesai. Untuk mencapai titik sumber air, mereka masih harus menelusuri jalur sungai berbatu, licin, dan dingin sejauh 200 meter.
Sesampainya di lokasi, senyum merekah di wajah bupati dan rombongan. Di hadapan mereka mengalir air jernih dari perut bumi Tambora. "Alhamdulillah, kita sampai di mata air Kilometer 12," ucap Bupati Bambang sembari beristirahat dan menyantap makanan sederhana di tepi sungai.
Dia menjelaskan, survei langsung ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan air yang akan dimanfaatkan untuk merevitalisasi PDAM di Desa Kadindi. "Kita harapkan doa seluruh warga Dompu agar rencana ini dilancarkan Allah SWT," katanya.
Baca Juga: BREAKING NEWS! Jaksa Tahan Tersangka Baru Kasus Korupsi Puskesmas Dompu Kota
Rencana besar ini selaras dengan program pemerintah pusat yang siap menggelontorkan anggaran Rp 67 miliar untuk penanganan air bersih di Dompu, dengan syarat PDAM harus sehat secara manajemen.
Pemprov NTB juga berencana mengalokasikan Rp 14 miliar untuk revitalisasi Daerah Irigasi Kadindi melalui APBD Perubahan 2025.
Usai puas beristirahat dan berdiskusi dengan para kepala dinas teknis terkait strategi pemanfaatan mata air, bupati dan rombongan kembali harus menempuh perjalanan pulang dengan jalur yang sama.
Baca Juga: Kasus Dana Hibah Rp 2 Miliar, Mantan Ketua PKK Dompu Bakal Diperiksa Lagi
Mereka tiba di Dusun Karang Lebah, Desa Pekat sore hari untuk istirahat, salat, dan menyapa warga sebelum akhirnya kembali ke Dompu.
Menurutnya, perjalanan panjang ini bukan sekadar survei. Ini adalah langkah nyata menjemput harapan.
"Semoga air bersih yang dicari dengan penuh peluh itu kelak benar-benar mengalir di setiap rumah warga Dompu," tambah Bambang. (jlo/r5)
Editor : Jelo Sangaji