LombokPost--Hamparan lahan kering Dompu kembali menemukan denyutnya.
Di balik batang-batang tebu manis itu, tersimpan harapan masa depan petani, dan satu kebutuhan yang tak bisa ditunda: akses permodalan.
---------------
Assistant Vice President Bank Mandiri Area Mataram, Mohammad Feriyanto, menegaskan bahwa pengembangan tebu di Dompu selaras dengan kebijakan mikroekonomi Bank Mandiri yang menempatkan sektor produktif, khususnya pertanian, sebagai penggerak utama ekonomi inklusif.
“Bank Mandiri sebagai mitra strategis pemerintah berkomitmen mendukung program pengembangan tebu di Dompu, yang merupakan program prioritas nasional untuk mendorong swasembada gula,” ujarnya.
Bagi perbankan, penguatan produksi tebu memiliki dua makna sekaligus.
Pertama, menjaga stabilitas pasokan gula domestik agar harga tetap terkendali dan inflasi daerah dapat ditekan.
Kedua, memastikan sektor pertanian kembali menjadi fondasi ketahanan ekonomi wilayah berbasis desa seperti Dompu.
Namun, di tingkat akar rumput, cerita menjadi lebih sederhana sekaligus lebih mendesak.
Bagi petani, tebu hanya bisa tumbuh optimal jika modal tersedia sejak awal.
Biaya tanam, pengolahan lahan, bibit, hingga perawatan tidak kecil. Bahkan saat musim panen pun membutuhkan biaya tidak kecil hingga pengangkutan tebu hasil panen ke pabrik.
Tanpa kredit usaha yang ramah siklus panen, banyak petani pemula berhenti sebatas di niat. Karena itu, Bank Mandiri menyiapkan skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Kredit Usaha Mikro (KUM) dengan pola pembayaran yang disesuaikan masa panen tebu.
Skema ini memberi ruang bernapas bagi petani agar arus kas usaha tetap sehat dan produksi tidak tersendat.
Penguatan juga dilakukan melalui kemitraan dengan PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS), pabrik gula yang telah beroperasi di Dompu sejak 2016.
Pola ini dirancang agar pembiayaan tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dari hulu hingga ke hilir—petani, pemasok, hingga vendor—dalam satu ekosistem usaha yang saling menopang secara sehat.
Di sisi lain, Bank Mandiri memperluas akses melalui koordinasi dengan bank Himbara, BPD, dan koperasi.
Tujuannya jelas: mengurangi ketergantungan petani pada pembiayaan nonformal yang berisiko dan sering kali mencekik.
Harapan serupa datang dari lapangan. Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Pekat, Mukhtar, menilai dukungan kredit perbankan memang masih sangat dibutuhkan, terutama bagi petani tebu pemula.
“Mereka butuh modal awal untuk tahap penanaman dan pengelolaan lahan. Program kredit semacam ini sangat diharapkan petani tebu,” ujarnya.
Menurut Mukhtar, status Dompu sebagai kawasan tebu nasional harus diikuti dengan penguatan di tingkat desa karena itulah basis petani.
Dari 12 desa di Kecamatan Pekat, delapan di antaranya terbukti potensial untuk kawasan pengembangan tebu, seperti Calabai, Karumbu, Kadindi, Kadindi Barat, Nangamiro, Tambora, Doropeti, dan Soritatanga.
Strategi dimulai dari sosialisasi, penguatan kemitraan dengan PT SMS, hingga mendorong ketersediaan bibit dan alat pengolahan lahan.
Selama ini, PT SMS telah membantu petani melalui pemberian bibit gratis, namun dukungan alat seperti jonder untuk membajak lahan bagi sebagian petani masih sangat terbatas.
Mukhtar juga menggagas dan terus mendorong alih komoditas dari tanaman yang kurang produktif ke tebu.
Karena faktanya masih banyak petani bercocok tanam sekadar mengikuti praktek yang umum di lingkungannya tanpa meneliti manfaat ekonomi secara jangka panjang.
Pasalnya, operasional PT SMS baru akan optimal jika luas lahan kemitraan mencapai 10–11 ribu hektare.
Baca Juga: LombokCare Intensifkan Penanganan Clubfoot di Lobar, Targetkan Koreksi Normal hingga 94 Persen
Faktanya, saat ini, lahan yang dikelola baru sekitar 3.200 hektare—jauh dari kebutuhan bahan baku gula.
Meski demikian, tebu telah membuktikan dampak ekonominya. Sekitar 200 petani tebu di Pekat mampu menunaikan ibadah umrah pada 2024.
Tak sedikit pula yang berhasil menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi di Lombok, Makassar, hingga Jawa.
Di titik inilah, kredit usaha perbankan menemukan maknanya.
Ia bukan sekadar angka dalam neraca, melainkan jembatan antara kebijakan nasional dan kehidupan petani di desa.
Di Dompu, masa depan tebu—dan ekonomi desa—sangat ditentukan oleh seberapa dekat modal bisa menjangkau ladang.
Dompu sebagai kawasan penghasil tebu terbesar di Indonesia timur bukanlah sebuah mimpi karena berbagai data dan fakta membuktikan bahwa hal itu sangat mungkin diwujudkan.
Editor : Kimda Farida