Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kunci Swasembada Gula Dompu Ada Pada Peran Kades (Bagian 2)

Kimda Farida • Rabu, 25 Februari 2026 | 09:42 WIB

MAKIN MELUAS: Animo masyarakat di beberapa desa di Kecamatan Pekat, Dompu menanam tebu semakin meningkat seiring dengan meningkatnya hasil panen yang dicapai para petani tebu.
MAKIN MELUAS: Animo masyarakat di beberapa desa di Kecamatan Pekat, Dompu menanam tebu semakin meningkat seiring dengan meningkatnya hasil panen yang dicapai para petani tebu.

LombokPost--Hamparan hijau tanaman tebu kini menjadi pemandangan lazim di wilayah Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu.

Di balik manisnya komoditas yang mampu memberangkatkan puluhan warga ke tanah suci setiap tahunnya ini, terselip peran krusial para kepala desa (Kades) yang berjibaku menjadi pionir bagi kesejahteraan rakyatnya.

------------------------ 

 

Bagi masyarakat Desa Beringin Jaya, Nangakara dan Sorinomo di Kecamatan Pekat, tebu bukan sekadar tanaman, melainkan napas ekonomi baru.

Sebelumnya, warga sempat terpuruk akibat gagalnya komoditas jambu mete yang diserang hama.

"Setelah banyak hama itu, akhirnya dengan adanya tebu kita beralih ke tebu semua," kenang Kades Beringin Jaya Firman dalam sebuah kesempatan.

Supardi
Supardi

Perjalanan mengubah mindset petani tidaklah mudah. Kades Sorinomo Supardi mengisahkan bagaimana awalnya ia harus meyakinkan warga yang skeptis terhadap program pemerintah pada 2014.

Saat itu, warga bahkan tidak percaya ada bantuan cuma-cuma sebesar Rp 8,4 juta untuk menanam tebu.

"Meyakinkan masyarakat itu susah dulu, karena kelompok pertama tentang tebu ini adalah saya," ungkapnya.

Kini, keberanian para kades tersebut membuahkan hasil manis. Di Beringin Jaya, sekitar 600 Kepala Keluarga (KK) hampir seluruhnya menggantungkan hidup pada tebu.

Dampaknya sangat nyata; tingkat kriminalitas seperti pencurian rumah menurun drastis karena warga sibuk di ladang.

Bahkan, dalam lima tahun terakhir, rata-rata 12 hingga 30 warga mampu menunaikan ibadah umrah setiap tahunnya berkat hasil panen tebu.

Peran strategis Kades tidak hanya sebagai motivator, tetapi juga sebagai pelayan administrasi yang sigap.

Kades Beringin Jaya mengaku selalu mempermudah surat keterangan kepemilikan lahan bagi warga agar bisa bermitra dengan perusahaan pabrik produksi gula di Dompu, PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS).

"Apa sih artinya kita jadi kepala desa kalau tidak mendukung maunya warga," tegasnya.

Selain itu, Kades berperan sebagai penengah dalam konflik lahan.

Masalah klasik antara pemilik ternak sapi dan petani tebu berhasil diredam melalui kesepakatan warga untuk mengandangkan ternak.

Hasilnya, gangguan sapi liar di kebun berkurang hingga 75 persen. Tanpa ketegasan pemimpin desa, konflik ini seringkali berujung pada peracunan ternak hingga laporan polisi.

Istilah "petani malas" sering disematkan pada petani tebu di wilayah ini karena kemudahan perawatannya.

Cukup dengan pengolahan lahan (zonder), penanaman, dan pemupukan awal, tebu bisa tumbuh produktif hingga bertahun-tahun tanpa harus dirawat ekstra.

Secara finansial, keuntungan bersih yang didapat petani mencapai Rp 30 hingga 35 juta per hektare dalam satu kali panen setahun.

Pembayaran pun kini lebih aman karena langsung masuk ke rekening pribadi petani (by name by address), memutus rantai birokrasi oknum pengurus komunitas yang dulu sering tersendat.

Bagi para Kades, keberlanjutan industri tebu adalah harga mati demi perut rakyat.

Mereka adalah pelapis pertama yang memastikan api semangat petani tetap menyala, meski perhatian dari pemerintah daerah maupun pusat seringkali dianggap belum maksimal.

Sebagaimana diungkapkan salah satu Kades, "Kalau perusahaan itu bangkrut, kita juga ikut lapar". (baiq farida/*)

 

 

Editor : Kimda Farida
#Swasembada Gula Nasional #kawasan tebu nasional #Tebu Dompu #Kecamatan Pekalongan Selatan