LombokPost--Di kaki Gunung Tambora, tepatnya di Desa Beringin Jaya, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu lanskap kehidupan berubah pelan namun pasti.
Aroma jambu mete yang dulu menjadi identitas desa, kini tergantikan oleh hamparan tebu yang menjulang rapi, seolah menjadi simbol baru harapan warga.
----------------
Perubahan itu bukan sekadar soal tanaman, tetapi tentang cara hidup.
Bagi warga, beralih ke tebu bukan keputusan yang lahir dari coba-coba.
Serangan hama yang memukul habis komoditas jambu mete memaksa mereka mencari jalan lain untuk bertahan.
Tebu kemudian hadir sebagai jawaban—tanaman yang oleh warga dijuluki sebagai “tanaman petani malas”, bukan dalam arti negatif, melainkan karena kemudahannya dirawat.
Sekali tanam, hasilnya bisa dipanen berulang kali.
Tanpa perawatan yang rumit, petani mampu meraup pendapatan bersih antara Rp30 juta hingga Rp35 juta per hektare.
Angka yang cukup untuk mengubah wajah ekonomi desa.
“Kalau kaya belum, tapi kalau senang sudah ada,” ujar Kepala Desa Beringin Jaya Firman menggambarkan perubahan yang dirasakan warganya.
Kebahagiaan itu nyata. Setiap tahun, belasan hingga puluhan warga mampu berangkat umrah dari hasil kebun tebu.
Anak-anak petani mulai menapaki bangku perguruan tinggi.
Bahkan, sebagian petani kini menjelma menjadi tokoh politik lokal, duduk di kursi DPRD Kabupaten Dompu.
Tebu bukan hanya menghidupi, tetapi juga membuka jalan mobilitas sosial.
Salah satu faktor yang menjaga stabilitas ekonomi warga adalah sistem pembayaran hasil panen yang langsung masuk ke rekening petani.
Skema by name, by account ini membuat hasil kerja tidak cepat habis seperti pada komoditas lain, seperti jagung, yang kerap terserap untuk membayar utang.
Di sisi lain, geliat industri tebu juga memberi dampak sosial.
Lapangan kerja terbuka, pemuda desa terserap, dan angka kriminalitas perlahan menurun.
Namun, manisnya tebu tak sepenuhnya tanpa rasa getir.
Persoalan klasik masih menghantui, terutama infrastruktur.
Jalan usaha tani yang belum memadai kerap menjadi penghambat distribusi.
Tidak jarang, tebu gagal dipanen hanya karena akses terhalang lahan milik warga lain.
Perusahaan dinilai belum sepenuhnya hadir dalam persoalan ini.
Selama bahan baku sampai ke pabrik, urusan jalan kerap dianggap bukan prioritas.
Gesekan sosial pun sesekali muncul.
Meski tradisi mengandangkan ternak di Beringin Jaya mampu meredam konflik dengan peternak, trauma masa lalu masih membekas—termasuk insiden ternak yang mati akibat masuk ke lahan kebun.
Yang paling menyisakan kekecewaan adalah minimnya peran pemerintah.
Kepala desa secara terbuka mengungkapkan bahwa berbagai bantuan, seperti bibit dan pupuk, seringkali tidak sampai ke tangan petani.
Program yang seharusnya menjadi penopang justru menguap di tengah jalan.
Bantuan sosial, menurutnya, lebih sering hadir sebagai simbol daripada solusi.
Dokumentasi kegiatan lebih ramai daripada realisasi di lapangan.
Sementara desa, sebagai garda terdepan, nyaris tidak mendapat dukungan berarti.
Di tengah kondisi itu, harapan justru bertumpu pada kekuatan lokal—kepala desa dan masyarakat itu sendiri.
Terpisah, Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Pekat Mukhtar, melihat potensi besar yang masih bisa dikembangkan.
Status Dompu sebagai kawasan tebu nasional, menurutnya, harus diikuti langkah konkret.
Dari 12 desa di Kecamatan Pekat, setidaknya lima desa menjadi prioritas pengembangan: Calabai, Karumbu, Kadindi, Kadindi Barat, serta Nangamiro dan Tambora.
Sosialisasi akan digencarkan, menggandeng perusahaan dan pemerintah desa.
Tebu diperkenalkan sebagai komoditas yang lebih sederhana dibanding tanaman lain, sekaligus menjanjikan dari sisi ekonomi.
Namun, tantangan tetap ada.
Luas lahan kemitraan yang dikelola perusahaan saat ini baru sekitar 3.200 hektare, jauh dari kebutuhan ideal 10–11 ribu hektare agar industri gula dapat berjalan optimal.
Ketersediaan bibit dan alat pertanian, seperti traktor pembajak (zonder), juga masih terbatas.
Di sinilah peran pemerintah dan perusahaan kembali diuji.
Mukhtar juga menyoroti pentingnya dukungan perbankan bagi petani, terutama pemula.
Modal awal masih menjadi kendala utama dalam memulai usaha tebu.
“Program kredit sangat dibutuhkan,” ujarnya.
Meski demikian, optimisme tetap terjaga.
Bukti nyata sudah terlihat—ratusan petani telah mampu berangkat umrah, dan pendidikan anak-anak mereka semakin baik.
Di Beringin Jaya, tebu bukan sekadar komoditas.
Ia adalah cerita tentang bangkit dari keterpurukan, tentang harapan yang tumbuh di antara batang-batang hijau yang menjulang.
Namun, agar manisnya benar-benar merata, diperlukan lebih dari sekadar kerja keras petani.
Dibutuhkan kejujuran dalam kebijakan, kehadiran nyata pemerintah, serta komitmen bersama antara desa, perusahaan, dan negara.
Sebab pada akhirnya, suara dari desa adalah fondasi utama keberhasilan pembangunan—termasuk dalam mewujudkan Dompu sebagai lumbung gula nasional. (baiqfarida)
Editor : Kimda Farida