LombokPost--Deretan rumah permanen berdiri kokoh di Dusun Aik Ampat, Desa Pekat, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu. Di halaman beberapa rumah, mobil terparkir rapi.
Pemandangan itu mungkin tidak banyak ditemukan di desa-desa pertanian lainnya.
Namun di Pekat, khususnya Aik Ampat, kondisi tersebut menjadi gambaran bagaimana komoditas tebu perlahan tapi pasti telah mengubah wajah ekonomi masyarakat setempat.
Saat pagi menjelang, jalan-jalan tani mulai semakin ramai. Truk pengangkut hasil panen hilir mudik keluar masuk perkebunan. Di kejauhan, hamparan tebu tumbuh subur menutupi sebagian besar lahan pertanian warga.
Bagi masyarakat Pekat, tebu bukan lagi sekadar tanaman perkebunan. Komoditas ini telah menjadi tumpuan harapan sekaligus sumber kesejahteraan baru bagi rakyat.
Kepala Desa Pekat Sahlan, mengatakan perkembangan tebu dalam beberapa tahun terakhir telah memberikan dampak ekonomi yang sangat besar bagi masyarakat di wilayahnya.
Baca Juga: Kadis Koperasi dan UMKM NTB Sebut Penggunaan Gedung Sementara KDKMP Kekeri Hal Wajar
Jika sebelumnya banyak petani yang mengandalkan jagung saja, kini mulai melirik tebu sebagai pilihan usaha yang lebih menjanjikan. Alasannya sederhana. Tebu dinilai lebih efisien dan menguntungkan.
Diakuinya bahwa sekali ditanam, tanaman tersebut dapat dipanen berkali-kali tanpa harus mengeluarkan biaya tanam berulang seperti pada komoditas jagung.
Selain itu, biaya perawatan juga relatif lebih rendah dengan hasil yang dinilai cukup menjanjikan. "Petani melihat sendiri manfaatnya. Kalau jagung harus mulai dari awal lagi setiap musim.
Tebu cukup sekali tanam, lalu bisa dipanen beberapa kali. Itu yang sebenarnya membuat banyak masyarakat beralih," ujar Sahlan. Perubahan paling nyata terlihat di Dusun Aik Ampat.
Hampir seluruh kepala keluarga di wilayah itu kini telah menggantungkan hidup dari sektor perkebunan tebu.
Menurut Sahlan, sekitar 99 persen warga dusun tersebut merupakan petani tebu. Hasil kerja keras warga bercocok tanam tebu dapat dilihat langsung dari perubahan taraf hidup masyarakat.
Rumah-rumah permanen berdiri menggantikan bangunan sederhana yang sebelumnya mendominasi kawasan itu. Selain itu, kendaraan roda empat kini bukan lagi barang mewah yang sulit ditemukan karena semakin banyak hilir mudik di desa itu.
"Kalau melihat kondisi masyarakat di Aik Ampat sekarang, kita bisa melihat bagaimana tebu telah memberikan dampak ekonomi yang luar biasa," katanya.
Baca Juga: Samsudin Magenda Pimpin Pordasi Berkuda Memanah NTB, Bidik Emas PON 2028
Dusun Aik Ampat memiliki sejarah tersendiri. Banyak warganya merupakan pendatang yang berasal dari kawasan Aik Ampat di Pulau Lombok, puluhan tahun silam.
Nama dusun itu pun konon diambil dari daerah asal mereka. Kini mereka sudah memasuki generasi ketiga yang sudah menjadi warga setempat.
Seiring berjalannya waktu, mereka berhasil membuka lahan, bertahan di tengah berbagai tantangan, hingga akhirnya menikmati hasil dari perkembangan sektor pertanian yang kini menjadi tulang punggung ekonomi desa itu.
Keberhasilan budidaya tebu di Pekat tidak terlepas dari dukungan sumber daya alam yang dimiliki desa tersebut. Keberadaan DAM Ombo Tonda menjadi penopang utama aktivitas pertanian masyarakat.
Pasokan air yang relatif terjaga membuat petani tetap dapat mengelola lahan secara produktif sepanjang tahun. Bahkan sebagian masyarakat mampu memanfaatkan lahannya untuk beberapa jenis komoditas sekaligus.
Meski tebu menjadi primadona, petani Pekat tidak sepenuhnya meninggalkan komoditas lain. Jagung masih menjadi salah satu andalan desa. Bahkan, Desa Pekat tercatat sebagai penghasil jagung terbesar di Kecamatan Pekat.
Selain itu, masyarakat juga menanam padi, tembakau, sayur-sayuran hingga tanaman hortikultura lainnya.
Bagi pemerintah desa, keberhasilan tebu harus menjadi pintu masuk untuk pengembangan sektor pertanian yang lebih luas.
Karena itu, setiap warga juga didorong untuk menanam pohon buah-buahan produktif di lahan miliknya.
Durian, manggis, dan rambutan menjadi beberapa jenis tanaman yang mulai diperkenalkan secara masif kepada masyarakat setempat. Sahlan memiliki mimpi besar.
Mimpi Sahlan dan warganya, dalam beberapa tahun ke depan, Pekat tidak hanya dikenal sebagai sentra tebu dan jagung, tetapi juga sebagai kawasan penghasil buah-buahan.
"Kalau sekarang orang mengenal Pekat karena tebu dan jagung, ke depan kami ingin dikenal juga sebagai daerah penghasil buah. Kami sedang menyiapkan itu dari sekarang," ungkapnya.
Di balik geliat ekonomi yang tumbuh, pemerintah desa terus berupaya memperkuat infrastruktur pendukung pertanian, khususnya terhadap komoditas tebu.
Salah satunya dengan membuka jalan usaha tani yang menghubungkan lahan perkebunan tebu dengan jalur distribusi utama. Tahun lalu, pemerintah desa berhasil membuka empat ruas jalan baru untuk mempermudah akses petani mengangkut hasil panen.
Namun diakui bahwa pekerjaan rumah masih banyak tersisa. Sejumlah jalur tani masih membutuhkan gorong-gorong maupun jembatan kecil agar aktivitas pertanian semakin lancar.
Karena itu, pemerintah desa berharap dukungan dari berbagai pihak, termasuk perusahaan produksi gula PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS) yang beroperasi di kawasan tersebut, melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
Sahlan juga mengungkapkan bahwa interaksi bisnis antara petani dan perusahaan tebu terjaga baik selama ini. Begitupula dukungan dari pemerintah daerah termasuk para wakil rakyat juga sangat dirasakan.
Bagi Sahlan, masa depan Pekat tetap berada di sektor pertanian. Selama lahan masih produktif dan petani mendapat dukungan yang memadai, ia yakin kesejahteraan masyarakat akan terus meningkat dan desanya tetap menjadi salah satu penguat geliat ekonomi daerah.
Di tengah keterbatasan anggaran desa yang semakin menyusut, Sahlan mengatakan keyakinan itu tetap terjaga. Sebab di Pekat, tebu telah membuktikan satu hal: ketika pertanian berkembang, kesejahteraan masyarakat juga ikut tumbuh bersamanya.
Selain Desa Pekat, pengembangan komoditas tebu juga mulai tumbuh di sejumlah desa lain di Kecamatan Pekat. Beberapa wilayah seperti Nangamiro, Calabai, Sorinomo, Doropeti, Kadindi Barat, Kadindi Timur, dan Beringin Jaya kini turut mengembangkan perkebunan tebu sebagai alternatif komoditas unggulan selain jagung dan padi.
Didukung ketersediaan lahan yang luas serta keberadaan jaringan irigasi, masyarakat di desa-desa tersebut mulai melihat tebu sebagai komoditas yang menjanjikan karena biaya produksinya relatif rendah dan dapat dipanen berulang kali.
Perkembangan ini menjadikan Kecamatan Pekat sebagai salah satu kawasan pertumbuhan tebu yang cukup pesat di Kabupaten Dompu, sekaligus memperkuat posisi wilayah tersebut sebagai sentra pertanian dan perkebunan di Pulau Sumbawa.
Editor : Kimda Farida