Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mengawal Tebu dari Ujung Timur Dompu, Kepala Desa Calabai Perjuangkan Air, Jalan Tani, hingga Kepastian Panen Petani

Kimda Farida • Jumat, 26 Juni 2026 | 08:57 WIB
Amiruddin, S.Sos
Amiruddin, S.Sos

 

Di tengah hamparan lahan kering di Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, komoditas tebu perlahan tumbuh menjadi harapan baru masyarakat Desa Calabai. 

Jika dulu hanya jagung menjadi tanaman utama yang mendominasi lahan pertanian warga, kini tebu mulai mengambil peran penting dalam menggerakkan roda perekonomian desa.

----------------------

Perubahan signifikan denyut perekonomian itu tidak datang begitu saja.

Di balik bertambahnya areal tanam tebu, terdapat upaya panjang pemerintah desa yang terus menjembatani kebutuhan petani dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga perusahaan pengelola tebu.

Kepala Desa Calabai Amiruddin menjadi salah satu sosok yang aktif mengawal perkembangan sektor pertanian tersebut.

Hampir setiap persoalan yang dihadapi petani, mulai dari keterbatasan air, akses jalan tani, hingga persoalan panen dan pengangkutan hasil produksi, kini telah menjadi perhatian pemerintah desa.

"Kalau potensi tebu di Calabai sangat besar. Lahan masih luas dan tahun ini ada penambahan lagi. Dari informasi yang kami terima, ada puluhan hektare lahan yang akan ditanami tebu," ujarnya.

Desa Calabai yang merupakan ibu kota Kecamatan Pekat memiliki luas sekitar 9,53 kilometer persegi.

Jumlah penduduknya 3.460 jiwa atau 1.207 kepala keluarga dengan luas lahan pertanian mencapai 440 hektare sebenarnya telah lama dikenal sebagai kawasan pertanian. 

Jagung mulai berkembang sejak 2010 dan hingga kini masih menjadi salah satu komoditas utama masyarakat.

Selain jagung, warga juga mengembangkan tanaman hortikultura dan tembakau.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, tebu menjadi pilihan baru yang semakin diminati petani. 

Menurut Amiruddin, keberadaan industri gula di Dompu yakni PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS) turut mendorong minat masyarakat menanam tebu. 

Bahkan sebelum pabrik gula beroperasi, sosialisasi penanaman tebu sudah dilakukan kepada masyarakat sekitar sejak 2010. Namun diakui kala itu mindset petani masih kuat di jagung.

Saat ini, sedikitnya tiga dari enam dusun di Desa Calabai telah berubah menjadi sentra pengembangan tebu, yakni Dusun Latonda 2, Tanjung Pasir, dan Jonggat. 

Meski demikian, perjalanan pengembangan tebu tidak selalu berjalan mulus. Tantangan terbesar yang dihadapi petani adalah keterbatasan sumber air.

Sebagai tanaman tahunan, tebu membutuhkan pasokan air yang cukup untuk menghasilkan produktivitas optimal.

Sementara sebagian besar wilayah Calabai masih mengandalkan curah hujan dan sumber air terbatas. 

"Faktor air ini yang paling kami butuhkan. Banyak lahan yang sebenarnya potensial, tetapi terkendala ketersediaan air. Kami berharap ada bantuan sumur bor dengan kedalaman lebih dari 100 meter agar petani bisa mengembangkan lahannya," katanya.

Keterbatasan infrastruktur juga menjadi pekerjaan rumah yang terus diperjuangkan pemerintah desa.

Jalan usaha tani yang memadai dinilai sangat penting untuk memperlancar distribusi hasil pertanian menuju gudang maupun pelabuhan.

Posisi strategis Calabai sebagai kawasan bongkar muat jagung dan hasil pertanian lainnya membuat kebutuhan infrastruktur menjadi semakin mendesak.

 "Perputaran ekonomi itu dari kampung ke kota. Kalau petani tidak dibantu dengan fasilitas yang memadai, tentu akan sulit meningkatkan kesejahteraan mereka," ujarnya.

Tak hanya memperjuangkan kebutuhan fisik petani, Amiruddin juga aktif memfasilitasi komunikasi antara petani dan perusahaan pengelola tebu.

Salah satu persoalan yang pernah muncul di masa lalu adalah jadwal penutupan musim giling pabrik yang terkadang membuat sebagian tebu petani belum sempat dipanen.

Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kerugian bagi petani karena tebu yang sudah layak tebang harus menunggu musim berikutnya.

Karena itu, pemerintah desa terus mendorong adanya evaluasi jadwal operasional pabrik agar pelayanan terhadap petani dapat berjalan lebih optimal. 

"Harapan kami sederhana. Sebelum pabrik menutup musim giling, perlu dipastikan dulu apakah masih ada tebu petani yang layak ditebang. Kalau masih ada, sebisa mungkin diberikan kesempatan agar seluruh hasil panen masyarakat dapat terserap," katanya. 

Peran aktif pemerintah desa inilah yang membuat pengembangan tebu di Calabai terus menunjukkan tren positif.

Di tengah keterbatasan anggaran dan berbagai tantangan lapangan, pemerintah desa tetap berupaya memastikan petani tidak berjalan sendiri.

Bagi Amiruddin, keberhasilan sektor pertanian tidak hanya ditentukan oleh kerja keras petani. 

Kehadiran pemerintah, perusahaan, dan seluruh pemangku kepentingan juga merupakan faktor penting.

"Yang kami harapkan pemerintah hadir mengintervensi persoalan yang dihadapi petani. Begitu juga perusahaan, agar terus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat," harapnya. 

Dengan potensi lahan yang masih luas, dukungan petani yang semakin besar, serta komitmen pemerintah desa yang terus mengawal kebutuhan masyarakat, tebu kini menjadi salah satu harapan baru bagi masa depan pertanian Calabai.

Dari desa di ujung timur Dompu itu, tebu tidak hanya tumbuh sebagai tanaman perkebunan. Ia juga tumbuh sebagai simbol harapan masyarakat untuk kehidupan yang lebih baik.

Gelombang pengembangan tebu sesungguhnya tidak hanya menyentuh Calabai. Hampir seluruh wilayah Kecamatan Pekat mulai merasakan denyut ekonomi dari komoditas tersebut.

Dari Nangamiro hingga Doropeti, dari Soritatanga sampai Beringin Jaya, hamparan kebun tebu terus bertambah setiap tahun. Di sejumlah desa, tanaman yang dahulu didominasi jagung kini mulai berbagi ruang dengan tebu. (*)

Editor : Kimda Farida
#Kecamatan Pekat #Desa Calabai #kabupaten dompu #tebu #Dompu