LombokPost--Deru mesin tebang terdengar dari hamparan kebun tebu di Kecamatan Pekat.
Truk-truk pengangkut hilir mudik membawa hasil panen.
Di antara barisan perkebunan tebu yang menguning, musim panen 2026 berjalan bersama harapan dan kegelisahan petani.
-----------------------
Di balik kesibukan musim panen, muncul suara petani yang berharap harga tebu dapat menyesuaikan dengan biaya produksi yang terus meningkat.
Ongkos tebang, pupuk, bahan bakar, hingga tenaga kerja terus naik, sementara harga tebu dinilai belum banyak berubah dalam kurun waktu dua tahun terakhir.
Persoalan itu kemudian memunculkan tuntutan kenaikan harga.
Namun, bagi sebagian pihak, aspirasi tersebut seharusnya tidak sampai menjadi sekat yang menghentikan perjalanan kemitraan yang sudah berlangsung baik antara petani dan perusahaan. Sebaliknya, tuntutan petani dapat menjadi pintu untuk kembali membuka ruang dialog.
Baca Juga: Petani di Dompu Tuntut Kenaikan Harga Tebu, Sempat Tutup Akses ke PT SMS
Sebab, di kawasan kaki Gunung Tambora itu, petani dan perusahaan berada dalam satu mata rantai yang sama-sama saling membutuhkan. Kepala Desa Beringin Jaya, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, Firman, memahami keresahan petani.
Menurutnya, aspirasi kenaikan harga merupakan bentuk suara masyarakat atas kondisi yang mereka rasakan.
Namun, ia menilai waktu penyampaian aspirasi kurang tepat karena musim panen sudah berjalan. Padahal, pembahasan harga idealnya dilakukan sebelum musim panen sehingga petani dan perusahaan memiliki waktu cukup untuk mempertimbangkan berbagai aspek.
"Memang bukan momennya. Kalau dua bulan sebelumnya mungkin bisa jadi. Masyarakat hanya mencoba menyampaikan aspirasi. Selanjutnya, apakah perusahaan bisa menindaklanjuti atau tidak, itu menjadi kewenangan perusahaan," kata Firman.
Karena itu, ia menawarkan jalan tengah. Jika kenaikan harga belum memungkinkan direalisasikan tahun ini, bonus kepada petani seperti yang pernah diberikan pada tahun-tahun sebelumnya dapat menjadi salah satu pilihan.
"Kalau tidak bisa diwujudkan kenaikan harga, minimal bonus seperti tahun lalu atau dua-tiga tahun lalu bisa diberikan sampai akhir masa panen tahun ini. Untuk kenaikan harga mungkin bisa dibahas tahun depan," ujarnya.
Menurut Firman, kemitraan tidak seharusnya dibangun dengan saling memaksakan kehendak.
Perusahaan memiliki mekanisme dan pertimbangan dalam menentukan kebijakan secara bisnis, sementara petani memiliki kebutuhan dan harapan yang harus didengar.
"Kita tidak mungkin memaksakan kehendak apalagi bersifat dadakan atau spontan kepada manajemen perusahaan karena momennya memang kurang pas. Siapapun akan memaklumi jika Perusahaan juga tidak bisa langsung mengambil keputusan mengenai tuntutan kenaikan harga," katanya.
Baca Juga: Optimalisasi Program Benih Tebu untuk Gula NTB
Di sinilah dialog menjadi penting. Sebab, yang dipertaruhkan bukan hanya angka dalam transaksi jual beli tebu.
Ada keberlanjutan usaha petani, juga keberlangsungan industri, dan kehidupan ribuan keluarga yang menggantungkan ekonomi dari perkebunan tebu di Pekat.
Kepala Dusun Karang Sukun, Desa Beringin Jaya, Sahli mengatakan, tuntutan kenaikan harga muncul karena biaya produksi yang semakin besar.
"Yang kami minta sebenarnya sederhana, harga mengikuti standar nasional. Sudah dua tahun harga tidak berubah, sementara ongkos tebang, pupuk, solar, sampai tenaga kerja terus naik," ujarnya.
Harga tebu sekitar Rp 550 ribu per ton dinilai sebagian petani belum sebanding dengan beban produksi.
Mereka berharap harga dapat bergerak ke kisaran Rp 600 ribu hingga Rp 700 ribu per ton.
Meski demikian, Sahli menyadari keputusan harga tidak bisa dilakukan secara tiba-tiba. Sekalipun demikian ia berharap perusahaan tetap memberikan respons atas aspirasi petani itu.
"Kalau memang belum bisa langsung, paling tidak ada respons dari perusahaan. Yang penting ada jalan keluarnya," katanya.
Selain harga tebu, biaya pengelolaan lahan Hak Guna Usaha (HGU) juga menjadi perhatian. Sahli menyebut, biaya yang awalnya sekitar Rp 500 ribu per hektare kini meningkat menjadi sekitar Rp 1,5 juta per hektare.
Kenaikan tersebut dirasakan berat, terutama bagi petani yang hasil kebunnya belum maksimal.
Sumber : Liputan