
Oleh: Jannus TH Siahaan
Pengamat Sosial Politik, Peneliti, Konsultan Komunikasi, dan Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran
Kebijakan pangan nasional kerap terjebak dalam lingkaran setan defisit struktural dan ketergantungan impor. Kesenjangan lebar antara kapasitas produksi domestik dan laju konsumsi terus menghantui, memaksa negara membuka keran impor dalam jumlah jutaan ton setiap tahunnya.
Ironi ini terlihat benderang di Nusa Tenggara Barat (NTB), daerah yang memiliki potensi tebu luar biasa namun pabrik gula Tambora milik PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS) di Dompu di waktu lalu masih harus mendatangkan gula mentah impor demi menjaga kontinuitas produksinya.
Langkah Kementerian Pertanian menyebarkan benih tebu unggul bersertifikat dari Kebun Benih Datar (KBD) mulai Juni 2026 menjadi oase segar yang harus disambut dengan optimisme tinggi oleh para petani di bumi Nggahi Rawi Pahu.
Program perbenihan nasional yang digagas Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ini tidak boleh dipandang sebelah mata sebagai proyek seremonial belaka. Dengan alokasi anggaran fantastis mencapai Rp1,7 triliun untuk peremajaan lahan secara nasional, kehadiran benih varietas unggul baru seperti AAS dan NXI 4T menawarkan jalan keluar bagi stagnasi produktivitas tebu di Dompu.
Bagi daerah yang telah ditetapkan sebagai Kawasan Tebu Nasional ini, intervensi hulu berupa penyediaan bibit berkualitas tinggi adalah kunci mutlak untuk mengakhiri ketergantungan pada bahan baku impor dan menyelamatkan ekosistem pertanian lokal dari kehancuran jangka panjang akibat kesalahan memilih bibit.
Selama bertahun-tahun, produktivitas tebu rakyat di Kecamatan Pekat, Dompu, cenderung stagnan akibat dominasi tanaman keprasan (ratoon) tua yang belum diremajakan. Masuknya benih unggul asal Kebun Benih Datar hasil pengembangan tahun 2025 seluas 1.571 hektare menjadi angin segar yang sangat dinantikan. Varietas AAS yang memiliki potensi produktivitas mencapai 200 ton per hektare dengan kadar rendemen gula mencapai 10 persen hingga 11 persen akan meningkatkan pendapatan petani secara signifikan dibandingkan dengan kondisi eksisting yang hanya menghasilkan rendemen rata-rata 7,31 persen.
Di tengah carut-marut tata niaga gula nasional, di mana rembesan gula rafinasi impor telah memukul harga produk sampingan seperti tetes tebu yang anjlok menjadi Rp1.000 per liter pada Maret 2026, peningkatan efisiensi melalui varietas unggul menjadi benteng pertahanan terakhir bagi kelangsungan usaha tani tebu.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




