Hamparan lahan pertanian di Desa Nangamiro, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, perlahan berubah.
Di antara kebun jambu mete, jagung, pisang dan tanaman lainnya, barisan tebu mulai mengambil ruang.
---------------------------
Perubahan itu tidak berlangsung cepat. Petani tidak serta-merta meninggalkan komoditas lama yang selama bertahun-tahun telah menjadi sumber penghidupan.
Pengembangan tebu dilakukan secara bertahap, menyesuaikan dengan kondisi lahan dan kemampuan masyarakat.
Kepala Desa Nangamiro Saidin A Wahab menyebut sekitar 90 persen masyarakat desanya menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Selain jambu mete dan jagung, masyarakat kini mulai mengembangkan tebu dan cokelat.
Tebu menjadi salah satu komoditas yang terus mendapatkan perhatian dan telah tersebar di delapan dusun, meski tidak semua petani mengembangkannya.
Pengembangan tebu dilakukan perlahan karena sebagian lahan sebelumnya ditanami jambu mete.
"Kalau area kita ini bukan lahan kosong dan tidak bermanfaat. Sebelumnya sudah ada jambu mete. Mete itu baru saja memang dialihkan ke tebu. Jadi prosesnya butuh waktu, pelan-pelan," kata Saidin.
Pada musim panen tebu 2026, luas lahan tebu di Nangamiro diperkirakan sekitar 24 hektare. Meski masih terbatas, namun areal tersebut terus bertambah luasannya setiap tahun.
Untuk persiapan musim tanam berikutnya, masyarakat telah menyiapkan sekitar 10 hektare lahan baru yang akan ditanami tebu.
“Luasan tersebut memperkuat keyakinan kami bahwa tebu sudah nyata manfaatnya bagi rakyat,” tambahnya.
Ekstensifikasi ini menunjukkan minat petani terus tumbuh, meski dilakukan bertahap.
Menurut Saidin, perkembangan sektor pertanian turut berdampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat, salah satunya meningkatnya kemampuan keluarga membiayai pendidikan anak.
"Dulu hanya mengandalkan panen mete. Itu pun skala kecil yang hasilnya belum tentu bisa membiayai anak mencapai perguruan tinggi. Sekarang anak-anak kami yang mencapai perguruan tinggi sudah mulai meningkat," ujarnya.
Perubahan juga terlihat dari kepemilikan ternak. Dari sekitar 669 kepala keluarga di Nangamiro, rata-rata memiliki lebih dari satu ekor ternak.
Kades menambahkan, pengembangan tebu di Nangamiro didukung adanya komunikasi antara pemerintah desa dengan perusahaan pengolahan tebu setempat, PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS).
Komunikasi dilakukan mulai dari pendataan lahan yang prospektif ditanami, persiapan akses menuju lokasi pertanian hingga pengaturan tenaga kerja.
Pemerintah desa juga berupaya memastikan agar masyarakat terlibat dalam proses pemanenan dan pengangkutan tebu.
Menurut Saidin, hubungan dengan perusahaan sejauh ini berlangsung baik.
"Alhamdulillah masih berjalan dengan baik, masih sukses," katanya.
Kemitraan tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan pengembangan tebu.
Akses jalan juga menjadi kebutuhan utama untuk mendukung mobilitas petani dan pengangkutan hasil panen.
Dalam lima tahun terakhir, pemerintah desa telah membuka sejumlah akses menuju kawasan pertanian. Namun, sebagian jalan masih membutuhkan peningkatan kualitas agar tidak kembali rusak dan menghambat aktivitas pertanian.
Di balik potensi pengembangan tebu dan komoditas lainnya, Nangamiro masih menghadapi persoalan ketersediaan air.
Desa tersebut memiliki dua mata air yang belum dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk mendukung sektor pertanian.
Akibatnya, aktivitas pertanian masih bergantung pada hujan.
Sumur bor memang tersedia, tetapi menurut Saidin belum cukup memenuhi kebutuhan pertanian dalam skala luas.
"Untuk konsumsi mungkin sudah memadai, tetapi untuk pertanian tidak maksimal," ujarnya.
Jika sejumlah sumber air dapat dimanfaatkan, ia meyakini potensi ekonomi Nangamiro akan jauh lebih besar. Tidak hanya untuk tebu, tetapi juga hortikultura, peternakan dan perikanan.
Komunikasi mengenai pemanfaatan sumber air ini telah dilakukan dengan pemerintah daerah dan DPRD. Namun, hingga kini masih terkendala, salah satunya persoalan anggaran pemerintah.
Bagi Saidin, air merupakan kata kunci membuka potensi ekonomi desa lebih baik lagi ke depan.
"Ketika air itu bisa kita maksimalkan, kita akan jauh lebih sejahtera," tegasnya.
Dosen Pascasarjana Universitas Mataram bidang kepakaran Pembangunan Ekonomi Wilayah, Associate Professor Dr H Iwan Harsono, menilai pengembangan tebu di Dompu dipengaruhi empat faktor utama, yakni akses pasar, biaya transportasi, ketersediaan tenaga kerja dan kondisi topografi.
Menurutnya, akses pasar dan biaya transportasi menjadi variabel paling menentukan. Sementara tenaga kerja dan topografi menjadi faktor pendukung yang dapat memperkuat atau melemahkan daya saing tebu dibandingkan komoditas lain.
Dompu telah ditetapkan sebagai salah satu kawasan pengembangan tebu nasional. Kondisi ini secara teori membuka peluang pasar yang relatif pasti karena adanya orientasi industri gula.
Namun, kepastian pasar tetap bergantung pada efektivitas rantai pasok, termasuk kedekatan dengan pabrik gula dan efisiensi logistik.
Biaya transportasi di Pulau Sumbawa yang relatif tinggi dapat menggerus margin keuntungan petani apabila produktivitas lahan tidak optimal.
"Secara ekonomi, tebu hanya layak dikembangkan pada lahan yang benar-benar sesuai dan dikelola secara efisien," jelas Iwan.
Kondisi ini menjadi pembeda dengan jagung yang lebih fleksibel dalam distribusi dan waktu panen serta telah lama dikenal petani.
Menurut Iwan, pengembangan tebu juga tidak cukup mengandalkan data makro. Pengetahuan kepala desa dan masyarakat setempat penting karena mereka memahami kondisi lahan, kepemilikan tanah, tenaga kerja, karakter tanah hingga akses air.
Pengetahuan lokal tersebut menjadi faktor penting untuk menentukan kelayakan tebu di tingkat desa.
Di Nangamiro, pengembangan tebu masih berada pada tahap awal. Namun, penambahan luas lahan setiap tahun menunjukkan ruang bagi komoditas tersebut untuk terus bertumbuh.
Tantangannya adalah memastikan ekstensifikasi tidak hanya memperluas areal tanam, tetapi juga meningkatkan produktivitas, memperkuat infrastruktur, menjamin akses air serta menjaga kemitraan antara petani, pemerintah desa dan industri.
Bagi masyarakat Nangamiro, tebu kini menjadi bagian dari cerita baru pembangunan ekonomi desa. Ia tumbuh berdampingan dengan jambu mete, jagung, cokelat, peternakan dan perikanan.
Perlahan tapi pasti, tebu mulai mengambil tempat di desa itu. Di tengah keterbatasan air dan infrastruktur, harapan masyarakat sederhana: jika potensi yang ada dikelola dengan baik, lahan terbatas pun bisa menjadi sumber kesejahteraan yang lebih luas.
Nangamiro bukan tidak mungkin segera mengikuti kisah sukses pertanian tebu di Beringin Jaya, Sorinomo, Pekat, Doropeti, dan Tambora.