LombokPost-Bupati Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) Amar Nurmansyah meminta kurikulum muatan lokal satuan pendidikan dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) dikaji ulang.
Dia berharap, nilai adat Samawa wajib masuk sebagai bagian dari muatan lokal di KSB. ‘’Pembaharuannya tidak hanya tentang tradisi, tapi juga menekankan tentang penerapan nilai moral dalam kehidupan sehari-hari,’’ kata saat membuka kegiatan seminar muatan lokal dan pelestarian nilai adat, Rabu (26/8).
Seminar tersebut menghadirkan guru besar sekaligus dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mataram. Dia dipercaya memberikan penguatan akademik mengenai integrasi budaya, bahasa dan nilai lokal ke dalam layanan pendidikan.
‘’Penting menemukan nilai yang terkandung di balik tradisi tau Samawa untuk diteruskan kepada generasi berikutnya. Bukan bentuk luarnya saja, tapi nilai yang terkandung di dalam tradisi tersebut itu juga penting,’’ katanya.
Baca Juga: Kebakaran Lahan di Sumbawa Hanguskan Tanaman Produktif Warga, Diduga Dipicu Puntung Rokok
Seminar ini menghadirkan kepala sekolah, guru, pengawas serta pemangku kepentingan pendidikan. Amar menekankan pentingnya melihat budaya. Tidak hanya berbicara tentang kesenian, cerita rakyat, bahasa dan tradisi.
‘’Ini sama-sama penting diperkenalkan kepada peserta didik. Namun yang lebih utama, nilai yang terkandung didalamnya,’’ tandasnya.
Menurutnya, sekolah merupakan ruang paling strategis memperkenalkan sekaligus menanamkan nilai-nilai moral sejak dini. Melalui cerita, nilai tersebut diterjemahkan menjadi pemahaman, yang pada akhirnya diwujudkan dalam tindakan nyata. Contoh, cerita rakyat dapat dijadikan sebagai pendekatan sederhana.
‘’Secara nasional kisah Malin Kundang, itu mengandung nilai bagaimana anak harus berbakti kepada orang tua. Masyarakat Samawa ada namanya Batu Nganga, memiliki pesan serupa,’’ paparnya.
Baca Juga: Bandara Kiantar Beroperasi, Warga Khawatir Wisata Paralayang Mantar Dilarang
Dari cerita ini, anak tidak hanya sebatas mengetahui alur atau kisah, tetapi diarahkan memahami dan menerapkan nilai yang terkandung didalamnya untuk kehidupan sehari-hari. ‘’Ini mungkin catatan penting yang harus dihasilkan dari seminar ini,’’ tambahnya.
Penyusunan kurikulum muatan lokal di KSB sendiri sejauh ini bekerja sama dengan Lembaga Adat Tanah Samawa (LATS). ‘’Ini merupakan ikhtiar kita menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada akademik tetapi juga penanaman karakter berbasis tradisi Samawa,’’ jelas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Agus.
Ke depan, setelah seluruh tahapan penyusunan selesai, Pemda KSB akan segera menyusun regulasi sebagai landasan hukum pelaksanaan muatan lokal itu sendiri. ‘’Nanti kita akan perkuat melalui produk hukum resmi. Apakah nanti melalui Perda atau Perbup,’’ janjinya.
Agus berharap, idak sekadar menjadi tambahan dalam pembelajaran, tetapi menjadi jembatan untuk membawa kembali nilai adat Samawa ke ruang sekolah. ‘’Sekolah itu tempat karakter dan masa depan generasi berikutnya dibentuk,’’ tambahnya.
Editor : Jelo JSumber : Lombok Post