LombokPost-Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) terus memperkuat sektor perikanan mulai dari hulu hingga ke hilir. Penguatan ini dilatar belakangi masih tingginya angka devisit kebutuhan (konsumsi) ikan KSB hingga 1.390 ton per tahun.
Di sisi lain, angka konsumsi ikan masyarakat KSB menjadi yang tertinggi di NTB, 41,77 persen. ''Penguatan sektor perikanan ini menjadi pekerjaan rumah yang harus dituntaskan Pemda KSB,'' kata Wakil Bupati (Wabup) KSB Hanipah saat menghadiri Lomba Masak Serba Ikan (LMSI) tingkat kabupaten, Rabu (23/9).
Tak hanya meningkatkan pasokan lokal, wabup perempuan pertama KSB ini juga menekankan agar hasil tangkapan nelayan tidak berhenti sebagai konsumsi rumah tangga. ''Tangkapan ini harus dikembangkan menjadi produk olahan bernilai ekonomi melalui pemberdayaan UMKM dan kelompok perempuan,'' ujarnya.
Baca Juga: Salahi Izin Tinggal, Delapan WNA China Diduga Pekerja Tambang Emas di KSB Dideportasi
Kegiatan LMSI, lanjut Hanipah, bukan semata hanya dilihat dari sisi seremonial. Sebaliknya, lomba seperti ini menjadi pemicu sekaligus pendorong minat masyarakat untuk tetap mengkonsumsi ikan, terutama dari hasil produksi setempat.
''Lomba seperti ini untuk memacu semangat masyarakat untuk lebih kreatif mengolah masakan. Nelayan bisa memperoleh pendapatan, masyarakat bisa lebih kraetif mengola berbagai jenis masakan,'' jelasnya.
Data Pemda KSB menyebutkan, kebutuhan ikan masyarakat KSB sendiri masih mengalami devisit cukup tinggi. Angka 1.390 ton per tahun itu bukan jumlah yang kecil.
''Kita belajar dari kondisi yang ada. Inilah yang membuat Pemda KSB meluncurkan klaster perikanan program Sumbawa Barat Maju Luar Biasa,'' tambahnya.
Wabup berharap, ke depan program ini harus mencapai target maksimal. Menggabungkan penguatan sektor hulu melalui bantuan bibit, pakan dan sarana prasarana budidaya. Sementara penguatan hilir melalui pengolahan dan konsumsi ikan di tingkat keluarga. ''Hulu dan hilir harus berbarengan,'' katanya lagi.
Kepala Dinas Perikanan KSB Agus Purnawan menyebut, konsumsi ikan di KSB 2025 mencapai 41,77 persen. ''Ini menjadi yang tertinggi di NTB,'' akunya.
Hanya saja, tingginya konsumsi tersebut tidak sepenuhnya diimbangi produksi lokal, sehingga kebutuhan ikan masyarakat masih harus dipasok dari luar daerah. ''Ini kenapa kita masih mengandalkan pasokan dari luar. Angka konsumsi ikan kita tinggi, tapi pasokan lokal tidak banyak. Ini menjadi tugas besar kita,'' janjinya.
Agus mengaku, penguatan dari hulu dimulai dengan pembagian bibit ikan gratis kepada calon penerima manfaat program Sumbawa Barat Maju Luar Biasa.
''Untuk hilir, salah satunya dengan terus melakukan berbagai kreasi lomba masak serba ikan. Ini secara otomatis akan terus mendorong tingginya konsumsi ikan di KSB,'' tambahnya.
Editor : Jelo JSumber : Lombok Post