Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Lombok dan Jejak Penemuan Teori Evolusi

Zulhakim • Selasa, 2 Maret 2021 | 11:48 WIB
Lukisan Alfred Russel Wallace sedang berada di pulau Waigeo di Papua Nugini oleh Henry Constantine Richter. (sumber: ucla.edu)
Lukisan Alfred Russel Wallace sedang berada di pulau Waigeo di Papua Nugini oleh Henry Constantine Richter. (sumber: ucla.edu)

Andai saja Alfred Russel Wallace tak singgah di Lombok antara Juni-Juli 1856, boleh jadi  Teori Evolusi yang digagas Charles Darwin tak akan ditemukan. Apa yang didapat Wallace di Lombok menjadi dasar bagi Darwin untuk melengkapi teorinya yang mahsyur itu.

----------------------------------------

Photo
Photo
Setelah perjalanan panjangnya ke sejumlah pulau Nusantara, Wallace menemukan dirinya tergeletak diserang demam  di sebuah kamar tidur di Ternate, Maluku Utara sekitar  Februari 1858.

Dari tempat terpencil ini ia menyusun risalah dari apa yang ia temukan selama meneliti keanekaragaman hayati. Dari perjalanannya yang berantakan  di Amazon hingga hasil penelitiannya di Nusantara. Risalah inilah yang ia kirim kepada  Charles Darwin yang tengah dalam penelitian  di Kepulauan Galapagos.

Surat-surat itu disertai makalah yang diberi judul On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitely from the Original Type. Dari makalah itu, Wallace mengemukakan pemikirannya mengenai proses seleksi alam. Bagaimana spesies-spesies unggul di dunia mempertahankan keberlangsungan hidup mereka.

Dari korespondensi yang dikenal sebagai Letter from Ternate inilah Darwin melengkapi teori evolusi dalam bukunya yang masyhur On the Origin of Species, pada 1859. Buku ini berisi proses seleksi alam yang memicu evolusi. Dari sini, Darwin dikenal sebagai Bapak Evolusi.

BACA JUGA : Lombok hingga Batavia: Perburuan Rempah dan Hasrat Para Penjajah

Yang lebih penting tentu saja momen 1 Juli 1858. Saat itu perkumpulan ilmuwan Inggris, Linnean Society, menggelar presentasi ilmiah untuk mengupas temuan itu. Surat dari Ternate karya Wallace dibacakan bersama makalah tak lengkap karya Darwin tanpa dihadiri Darwin ataupun Wallace.

Kedua makalah itu dipresentasi rekan dan mentor Darwin,  Charles Lyell dan Joseph Hooker. Dari presentasi inilah Darwin dan Wallace ditahbiskan sebagai penemu sebuah teori baru dari penelitian mereka yang terpisah di belahan bumi berbeda.

Photo
Photo
Buku karya Alfred Russel Wallace The Malay Archipelago

 

Jejak Wallace di Lombok

Yang paling mudah diingat mengenai jejak Wallace adalah Garis Wallace.  Ini adalah garis imaginer yang digambarkan sebagai pemisah fauna Asia dan Austalia.

Menurut Wallace garis ini melintang dari selat Lombok ke utara membagi dua laut Indonesia  menuju selat Sulawesi. Garis ini masih menyambung ke selatan dan timur kepulauan Mindanau di Philipina dan berakhir di Pasifik.

Zaman lampau, garis ini dipercaya merupakan batas geografis yang membedakan hewan-hewan Asia dan Australia. Meski belakangan Max Wilhelm Carl Weber dari Jerman mengoreksi  hipotesa ini.

Dari ekspedisi yang dilakukannya, Weber  mengeser garis ini lebih ke timur. Yakni melalui celah Timor ke utara melewati laut aru, berbelok ke barat pulau Buru sebelum menuju selatan Pilipina melalui selat yang memisahkan Sulawesi dan Halmahera.  Garis ini kemudian dirasa lebih tepat.

Namun tetap saja konsep dasar pembagian geografis  fauna ini merupakan karya Alfred Russel Wallace, naturalis asal Inggris yang menjelajahi kepulauan Nusantara di pertengahan abad 19 lalu. Dan konsep ini masih digunakan hingga kini.

BACA JUGA : Operasi Starfish 1945: Misi Rahasia Australia yang Gagal di Sekotong

Delapan tahun lebih Wallace menjelajahi pulau-pulau Nusantara dalam kurun 1854 hingga 1862. Ia, mengembara sebagai naturalist mengumpulkan specimen binatang, mengawetkan dan mencatat temuan-temuan yang masih baru di zaman itu.

Dalam kurun itu diperkirakan Wallace  mengumpulkan 125.660 spesimen fauna meliputi 8.050 spesimen burung, 7.500 spesimen kerangka dan tulang aneka satwa, 310 spesimen mamalia, serta 100 spesimen reptil. Selebihnya, mencapai 109.700 spesimen serangga, termasuk kupu-kupu yang paling digemarinya.

Tidak hanya mencatat mengenai satwa, pria kelahiran Usk, Monmouthshire, Inggris 1823 ini merangkum aktivitas sosial masyarakat yang disinggahinya. Termasuk bagaimana kekagumannya terhadap

Bali dan Lombok yang dikunjungi pada Juni-Juli 1856.  Cerita mengenai petualangannya ini terangkum dalam catatan yang dibukukan The Malay Archipelago.

Bagi Wallace Bali dan  Lombok merupakan tempat istimewa. Ia, menemukan keunikan fauna pulau ini secara tidak sengaja dalam perjalanannya dari Singapura menuju ke Makassar.

“Seandainya saya dapat menemukan jalur langsung menuju Macassar dari Singapura, saya tidak akan pergi ke kedua pulau itu. Akibatnya saya akan melewatkan penemuan terpenting dari keseluruhan ekspedisi saya di dunia Timur,’’ ujar Wallace dalam bukunya.


Setelah berburu lama di semenajung Malaka dan Kalimantan perjalanan ke timur itu di mulai. Akhir Mei 1856 Wallace dan asistennya menumpang sebuah kapal layar  milik seorang pedagang Cina menuju Bali. Kapal ini bernama Kembang Djepoon, yang mempekerjakan sejumlah ABK dari Jawa dinakhodai seorang Inggris.

Photo
Photo
Koleksi kumbang Alfred Russel Wallace di Natural History Museum, London, Inggris. (Sumber : SCIENCE PHOTO LIBRARY)

Dua puluh hari kemudian tepatnnya pada 13 Juni 1856 kapal tersebut melempar jangkar di pelabuhan Buleleng Bali. Sedianya Buleleng akan menjadi persinggahan terakhir sebelum menunggu kapal yang akan membawanya ke Makasar.

Namun apa daya kapal yang ditunggu tak kunjung datang. Ia pun memilih jalur estafet dengan lebih dulu menyebrang ke Lombok dua hari kemudian. Mengenai penyebrangan ini Wallace punya cacatan tersendiri tentang keganasan ombak Ampenan yang takkan ia lupakan.

‘’ Pantainya berpasir hitam dan sangat terjal, gelombang pasang selalu sangat kuat dan menghasilkan ombak dengan ketinggian yang menyebabkan kapal-kapal mustahil berlabuh, kecelakaan serius sering terjadi di situ. Di tempat kami melepas jangkar sekitar seperempat mil dari lepas pantai keadaanya sangat tenang. Namun begitu mendekat ketinggian ombak akan terus naik yang menghempas pantai dengan rentang waktu yang konstan dan suara senyaring petir,” ujarnya.

“Kadang-kadang gelombang ombak naik secara tiba-tiba saat suasana benar-benar tenang. Kekuatan serta kedahsyatannya setara dengan badai puting beliung sehingga menghancurkan perahu-perahu yang ditambatkan terlalu rendah hingga berkeping-keping. Laut nampak mendidih berbuih dan berputar-putar seperti riak dibawah air terjun. Kapal-kapal besar terlempar kesana-kemari sedangkan kapal yang kecil bisa ditelan bulat-bulat bahkan dalam keadaan langit paling cerah sekalipun,’’  sambung  Walace
menguraikan bagaimana misterius dan ganasnya ombak di Pelabuhan Ampenan.

Beruntung, Walace dan rekan-rekan bisa bertahan dan berhasil tiba di daratan dengan selamat.  Kondisi Ampenan saat itu merupakan sebuah bandar laut dan kota pelabuhan yang ramai di bawah kendali Kerajaan Lombok-Karangasem. Para saudagar asing banyak berdomisili disni. Membuka kantor dagang untuk aneka komuditas yang dibawa oleh kapal-kapal raksasa yang kerap melintas dari Australia, Singapura, Hongkong, Makassar dan lainnya.

Di Ampenan,  Wallace menemui seorang kerabatnya, pengusaha asal Inggris yang ia sebut bernama Tuan Carter. Carter tinggal tak jauh dari pelabuhan Ampenan. Ia, menempati sebuah rumah dari pagar bambu beratapkan ilalang.

Dari lokasi ini penjelajahan Wallace dimulai. Dengan menggunakan kuda pinjaman dari Carter ia berkunjung ke Kota Mataram dan Cakranegara bersama seorang pemuda Belanda. Di Kota, Wallace menemu seorang pengusaha asing yang disebutnya sebagai Mr S.

Setelah sarapan pagi, Wallace bergerak dari pesisir Ampenan ke arah utara dengan perlengkapan kerjanya. Tujuannya menagkap aneka hewan. Banyak hal yang ditemui yang kemudian dicatat salah satunya burung Kepodang (Oriolus Broderpii) dan tentu saja burung khas Lombok Kuaq-kaoq.

‘’Disini burung ini disebut Quaich-quaich karena suaranya yang nyaring dan aneh, seakan mengulang kata-kata tersebut dengan variasi intonasi yang bernada,’’ imbuhnya.

Beberapa pekan Wallace berkeliling Lombok sebelum akhirnya menuju Makasar dan Kepulauan Maluku. Dalam perjalanan panjang itulah ia terus membuat rumusan dari apa yang ia dapatkan.

Selain The Malay Archipelago di atas salah satu hasil dari perjalananya adalah The Geographical Distribution of Animals. Ini adalah buku yang secara utuh menggambarkan pendapat Wallace tentang pembagian jenis hewan berdasarkan wilayahnya. Buku yang membuatnya mahsyur sebagai penemu Teori Evolusi bersama Charles Darwin.(*)

 

*) Penulis : Zulhakim, penyuka seni dan budaya tinggal di Ampenan Lombok / Instagram @ kedjoule31

*) Artikel ini pertama kali terbit di Koran Lombok Post Mei 2017

Editor : Administrator
#Wallace Line #Alfred Russel Wallace #Zulhakim #Garis Wallace #Charles Darwin #Teori Evolusi