15 Oktober 1897 koran terbitan Harlem, De Oprechte Haerlemse Courant mengabarkan tentang buronan Lombok yang paling meresahkan Pemerintah Hindia Belanda. Ia, berhasil kabur dari Penjara di Sisik, Lotim dan memenggal polisi. Ia merampok, membunuh dan membakar Penjara Praya sebelum membebaskan seluruh tahanan. Namanya Lalu Badil dari Teros, Lotim.
----------------------------------------
Kemenangan Belanda dalam perang melawan Kerajaan Mataram di akhir tahun 1894 telah mengubah Lombok secara menyeluruh. Belanda yang awalnya dianggap sebagai penolong warga Sasak Timur menunjukkan watak aslinya. Ia menindas, bahkan lebih kejam dari Kerajaan Mataram yang digulingkan.
Pajak-pajak atas tanah-tanah garapan meningkat. Termasuk pada tanah-tanah pecatu dan wakaf yang selama ini bebas pajak. Inilah yang membuat munculnya sejumlah perlawanan di sejumlah lokasi di Lombok.
Baca Juga : Ampenan 1889 : Sahbandar Eksekusi Mati Budak Pelarian
Alfons van Der Kraan dalam Lombok : Conquest, Colonization, and Underdevelopment, 1870-1940 mecatat Lalu Badil sendiri merupakan perwangsa rendah dari Teros Lotim. Setelah perang Lombok berakhir ia dijatuhkan hukuman 15 tahun kerja paksa dengan kaki dirantai. Tak disebutkan apa kesalahannya hingga para bangsawan yang dulu ia bela dalam perang kini menjatuhkan hukuman yang demikian berat.
Dalam proses hukuman itu ia ditahan penjara di Sisik. Kota ini sendiri merupakan pusat pemerintahan Belanda di Lombok Timur sebelum Hutan Selong dibuka dan dibangun menjadi kota.
Namun awal Januari 1897 Lalu Badil berhasil kabur dari penjara. Belanda lekas memburunya namun tak membuahkan hasil.
Padahal Badil tak pergi jauh. Ia justru pulang ke rumahnya di Teros tak jauh dari penjara Sisik. Figurnya yang kharismatik membuat banyak warga segan dan melindungi. Ia hidup tenang di kampung halaman.
Namun lambat laun kabar keberadaannya terendus juga. Controleur Belanda di Lotim merasa kecolongan. Sosok yang paling diburu itu ternyata ada di wilayahnya. Hanya dua mil dari kantor dinasnya.
Lekas ia mengirim tiga polisi untuk menangkap. Sayang tiga petugas ini tak mampu meringkus Badil. Salah seorang polisi justru meregang nyawa setelah kepalanya dipenggal kelewang. Lalu Badil pergi dan semakin membuat Belanda murka.
Pengejaran terus dilakukan. Jejak Badil terendus di Distrik Praya. Bersama sekitar 25 anak buahnya ia melakukan serangkaian teror kepada warga. Dalam bulan Juni saja tercatat ia telah melakukan 11 perampokan, 19 kali pencurian ternak dan lima pembunuhan. Aksi ini benar-benar mencoreng wibawa pemerintah.
BACA JUGA : Lombok 1934 : Jejak Gemilang Bandara Rambang
Koran terbitan Solo, De Nieuwe Vorstenlanden edisi 13 September 1897 juga mengabarkan kisah ini. Controluer Lombok Timur benar benar kewalahan. Ia bersurat ke Asisten residen di Mataram agar dikirimkan bantuan militer untuk menumpas gerombolan Lalu Badil.
Guru Bangkol yang kala itu diangkat Belanda sebagai kepala distrik tak kalah pusing. Ia mengerahkan pasukan untuk turut melakukan perburuan.
Kesuksesan aksi-aksi Badil membuatnya semakin terkenal dan menambah pengikut. Bahkan aksinya kini semakin menjadi jadi. Tak Cuma merampok, ia merencanakan aksi yang lebih besar dan lebih politis. Menjebol Penjara Praya dan membebaskan seluruh warga yang ditangkap Belanda.
Setelah semua persiapan, 30-31 Agustus serangan terukur dilakukan. Mereka membakar penjara dan mengeluarkan seluruh tahanan yang ditaksir berjumlah 120 orang. Ia juga menghabisi dua pengawal.
Jumlah pengikut Badil kini bertambah dengan bergabungnya mantan tahanan. Aksinya meneror Belanda berlanjut. Ia menyasar sejumlah proyek pemerintah. Diantaranya pada 6 September. Kelompok ini menghabisi tiga pekerja dan seorang Mandor proyek pembuatan jalan di Praya.
Baca Juga : Operasi Starfish 1945: Misi Rahasia Australia yang Gagal di Sekotong
Liefrinck yang menjabat Residen Bali-Lombok mengirimkan 150 prajurit angkatan darat untuk melakukan penangkapan. Mereka mengepung Lalu Badil dan kawan-kawan di sebuah lokasi di Dusun Batu Menek (Kini masuk Desa Montong Terep-Loteng).
Ini adalah perkampungan dengan benteng alam yang cukup baik. kampung dengan kontur sawah berbukit bukit dengan hutan cukup luas untuk sembunyi.
Namun hari itu Belanda berhasil memancing Lalu badil keluar dan meladeni perang terbuka. Badil terperangkap. Belanda yang unggul dalam persenjataan menang mudah setelah menghujani kampung ini dengan tembakan. Lalu badil dan 20 pengikutnya tumbang.
Tapi aksi kelompok ini rupanya tak berhenti. Sekitar 90 pengikutnya yang selamat kabur ke hutan Sundil untuk kemudian bergabung dengan kelompok Haji Ali Dewa di Penaban.
Baca Juga : Lombok 1856 : Kisah Raja Mataram Memberantas Korupsi
Nama terakhir bukan orang sembarangan. Ia juga sempat menjadi buronan nomor 1 Belanda di tahun 1896. Saat itu 10-11 Juli Haji Ali bersama Maiq Ocet Talib menyerbu Penjara Belanda di Sisik Lotim dan membebaskan 40 tahanan.
Setelah itu ia melakukan sejumlah aksi yang membuatnya diburu. Aksi dua sekawan ini berakhir setelah Mamiq Ocet Meninggal beberapa bulan kemudian. Haji Ali sempat berdamai dengan Belanda dan pengikutnya pergi.
Kini setelah kematian Lalu Badil ia kembali turun gunung dan melawan belanda dan antek-anteknya. Mendengar kemunculan Haji Ali, Liefrinck mengirim utusan Agar Haji Ali menyerah dan dan berdamai dengan pemerintah sebagaimana perjanjiannya pada September 1896. Namun kali ini Haji Ali tak mengindahkan.
Ia melanjutkan griliya dan meneror para petugas. 15-18 September misalnya kelompok ini membunuh enam pekerja korve yang tengah melakukan pembabatan hutan untuk pembuatan jalan antara Distrik Batukliyang dan Praya.
Beberapa hari kemudian jejak mereka sempat terendus. Haji Ali Dewa selamat meski tujuh pengikutnya meregang nyawa.
Mereka membalas dengan menyergap Patroli Belanda pada 27 September. Empat korban jatuh dua diantaranya meninggal dunia.
Sehari kemudian (28 September) mereka turun gunung dan masuk ke Kota Praya. Mereka membuat gempar dengan Membakar Rumah Guru Bangkol dan membunuh dua pengikutnya. Guru Bangkol selamat dari serangan ini. Pertempuran sporadik terus berlanjut hingga beberapa minggu kemudian. Hingga akhirnya 18 Oktober. Dalam sebuah peperangan terakhir perlawanan Haji Ali akhirnya terhenti. Ia tewas bersama 15 pengikutnya.
Baca Juga : Lombok dan Jejak Penemuan Teori Evolusi
Alfons Van der Kraan menyebut gagalnya sejumlah perlawanan para petani di Lombok tengah dan Lombok Timur ini tak lepas dari keberhasilan Belanda mengorganisir kuasa. Mereka telah mengangkat sejumlah Bangsawan Sasak sebagai kepala Distrik. Mereka menjadi kaki tangan yang efektif bagi Belanda dalam menumpas perlawanan para petani. Mereka adalah tokoh-tokoh Sasak yang dalam perang Lombok 1894 berada di Pihak Belanda.(*)