Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Abad 19 Lombok Cuma 600 Ribu Jiwa, Sekarang 4 Juta Lebih, Rinjani Masih Jadi Saksi Sunyi

Lalu Mohammad Zaenudin • Sabtu, 21 Juni 2025 | 16:11 WIB

 

Masyarakat Suku Sasak yang mendiami pulau Lombok.
Masyarakat Suku Sasak yang mendiami pulau Lombok.

LombokPost - Sebuah pulau — diapit Bali dan Sumbawa, hanya 4.700 km² luasnya, sedikit lebih kecil dari Bali.


Orang pribumi memanggilnya Selaparang atau Tanah Sasak. Namanya: Lombok.

Alfons Van Der Kraan menulis, "Ia terpisah dari Bali oleh Selat Lombok yang agak lebar, dan dari Sumbawa oleh Selat Alas yang sempit. Pulau itu mencakup suatu daerah seluas 4700 km² (agak lebih kecil dari Bali), terdiri dari tiga wilayah yang sangat nyata: (1) kompleks pegunungan sebelah utara, (2) pegunungan sebelah selatan, dan (3) dataran tengah.” tulisnya dalam buku LOMBOK: Penaklukan, Penjajahan, dan Keterbelakangan 1870-1940.

Bagian utara Lombok nyaris sepenuhnya dikuasai kompleks gunung berapi.

Mahkotanya: Gunung Rinjani setinggi 12.221 kaki, di perutnya terbaring Segara Anak, danau kawah di ketinggian 6.588 kaki yang dilingkari lereng-lereng terjal.

Gunung Baru (7.795 kaki) berdiri sebagai bukti muda letusan Rinjani.

Lereng Rinjani memanjang pelan ke timur, terhenti di Gunung Nangi (7.644 kaki). Ke barat, lerengnya menurun perlahan, lalu ditahan oleh rangkaian Gunung Punikan (4.888 kaki) — bukti betapa pulau kecil ini seolah cincin cincin pegunungan.

Di selatan, pegunungan Mareje membentang tanpa kawah api. Puncaknya Gunung Mareje (2.350 kaki).

Bukit-bukit di semenanjung barat menjulang hingga 1.450 kaki, lalu melebur ke timur laut, menurun jadi barisan berbukit lebar lima mil.

Lereng selatan Mareje mengarah lembut ke pantai; lereng utara jatuh curam ke dataran.

Di situlah dataran tengah: jantung kehidupan Lombok.

Membujur 56 km dari timur ke barat, lebar rata-rata 25 km.

Ke tenggara, tanah naik pelan ke sekitar desa Mujur, lalu menurun landai ke pantai timur.

Bagian barat subur — disebut Dawuh-juring oleh orang Bali. Bagian timur lebih kering — Dangin-juring, rumah orang Sasak.

Di akhir abad ke-19, berapa penduduk Lombok?
Jawabannya mencengangkan. Alfons Van Der Kraan menulis, “Karena penguasa-penguasa Bali di Lombok tidak melaksanakan sensus, tidaklah mungkin menetapkan secara tepat berapa banyak penduduk pulau itu dalam akhir abad ke-19. Keterangan satu-satunya mengenai hal ini terdiri dari sejumlah taksiran yang sangat berbeda-beda oleh peninjau-peninjau Belanda pada waktu itu.”

Taksiran tertinggi dari Willemstijn pada 1891: 656.000 jiwa.

Rinciannya: kira-kira 600.000 orang Sasak, 50.000 orang Bali, dan 6.000 orang Bugis, Mandar, Arab, serta Cina.

Ten Have pada 1894 justru mencatat hanya 405.000 jiwa. Sejarawan sepakat, angka nyatanya di tengah-tengah: 530.000 orang, mayoritas orang Sasak.

Hari ini?
Dataran yang dulu lengang kini padat rumah, sawah banyak berubah jadi jalan raya, bypass, hotel, dan cafe. Penduduk Lombok meledak jadi lebih dari 4 juta jiwa.

Di atasnya, Rinjani masih berdiri. Lereng Mareje masih bernafas. Tapi di kaki gunung dan dataran Dawuh-juring, bising knalpot mengganti desau angin di ladang.

Seabad lebih lalu, Lombok adalah pulau longgar: hanya setengah juta jiwa menempati surga gunung, bukit, dan ladang.


Kini Lombok jadi panggung turis dan motor. Tapi bagi siapa pun yang rindu Selaparang yang sunyi, pergilah ke kaki Rinjani atau Punikan — di sanalah napas lama Lombok masih berhembus.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#kisah #Bali #Mandar #cina #rinjani #arab #Alfons Van Der Kraan #sejarah #penduduk #Pulau Lombok #Bugis #Sasak #Lombok