LombokPost – Ketegangan berkepanjangan antara Israel dan Iran dikhawatirkan, berujung pada bencana global. Bahkan, membuka kemungkinan pecahnya perang dunia ketiga dengan senjata nuklir.
Hal itu disampaikan cendekiawan muslim Agus Mustofa, penulis dari buku serial Tasawuf Modern. “Kalau eskalasinya terus meluas, maka bisa terjadi perang dunia ketiga dan kemudian bisa terjadi juga menggunakan senjata nuklir itu,” katanya.
Skenario terburuk ini muncul setelah konflik bersenjata 12 hari antara Israel dan Iran baru-baru ini. Ketegangan itu disebut belum benar-benar reda dan bisa kembali meletus sewaktu-waktu, mengingat kepentingan strategis dua blok—Iran dan sekutunya, versus Israel dan poros Barat—yang saling bertentangan.
Namun akar persoalan ini sebenarnya telah mengakar sejak lama, tepatnya sejak tahun 1948. “Israel itu adalah penyebab dari berbagai macam konflik yang terjadi di Timur Tengah,” ulasnya.
Pada tahun 1948, dengan dukungan Inggris dan Perancis, gerakan Zionis mendirikan negara Israel di atas tanah Palestina. Langkah itu tidak hanya kontroversial, tapi juga menyebabkan terusirnya sekitar 750 ribu warga Palestina dari tanah kelahirannya.
“Orang-orang Yahudi ini diberikan tempat oleh Inggris dan Perancis untuk mendirikan negara Israel dengan cara merebut wilayah Palestina itu,” tuturnya.
Sejak itu, wilayah pendudukan Israel terus meluas. Dalam Perang Enam Hari tahun 1967, Israel menguasai empat wilayah strategis: Tepi Barat, Gaza, Yerusalem Timur, dan Dataran Tinggi Golan.
Agresi militer ini memicu perlawanan dari negara-negara Arab seperti Mesir, Yordania, dan Suriah, meski pada akhirnya Israel keluar sebagai pemenang berkat sokongan kuat blok Barat. “Sejak saat itu kawasan ini menjadi tidak stabil,” katanya.
Ketegangan pun terus berlanjut hingga hari ini, terutama di Jalur Gaza, yang menjadi medan utama perlawanan kelompok Hamas terhadap pendudukan Israel. Di tengah makin melemahnya dukungan negara-negara Arab terhadap Palestina, Iran justru tampil sebagai pendukung utama perlawanan di Gaza dan Lebanon.
“Iran ini mendukung Hamas dan kemudian Hizbullah yang ada di Lebanon,” ujarnya.
Dukungan itu bukan hanya simbolik. Iran secara terbuka membackup logistik dan kekuatan militer Hamas, Hizbullah, hingga milisi Houthi di Yaman, menjadikan mereka poros utama perlawanan terhadap dominasi Israel di kawasan.
Sebaliknya, Israel memperoleh dukungan militer dan keuangan besar-besaran dari Amerika Serikat dan sebagian negara NATO. “Israel mendapat dukungan yang sangat signifikan dari kelompok Barat khususnya Amerika,” katanya.
Amerika disebut memiliki kepentingan strategis untuk menjaga ketidakstabilan di Timur Tengah, guna mengamankan akses terhadap sumber energi seperti minyak dan gas. Dari Suriah, Irak, hingga Libya, kehadiran militer AS hampir merata di kawasan penghasil energi tersebut.
“Amerika memang sangat berkepentingan untuk menjadikan kawasan Timur Tengah ini tidak stabil,” katanya lagi.
Namun berbeda dengan negara lain yang berhasil dikontrol, Iran menunjukkan daya tahan luar biasa, bahkan di tengah embargo berat dari Barat. Negeri Para Mullah ini tak hanya bertahan, tapi juga terus memperkuat kemampuan militer termasuk teknologi misil jarak jauh dan program nuklirnya.
“Iran bisa survive bahkan mengembangkan kekuatan militernya,” pungkasnya.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin