LombokPost - Lombok pada abad ke-17.
Kabut turun pelan-pelan di lembah pegunungan, saat dua kekuatan besar dari luar pulau mulai menancapkan kukunya.
Dari barat datang para bangsawan dari Bali, berlayar dari kerajaan Karangasem dengan ambisi menaklukkan. Dari timur Makassar mulai menyusun kekuasaan melalui jalur laut Sumbawa. Pulau Lombok menjadi panggung sengketa.
Pertempuran politik dan budaya pun dimulai.
"Pada awalnya, bidang-bidang pengaruh Bali dan Makassar berkembang di bagian-bagian yang berbeda dari pulau itu,” tulis Van Der Kraan dalam buku LOMBOK: Penaklukan, Penjajahan, dan Keterbelakangan 1970-1940.
Orang Bali menguasai barat, orang Makassar menancapkan kekuasaan di timur—tepatnya sejak tahun 1618, ketika mereka menyeberang dari Selat Alas dan mendirikan basis di sana.
Sementara masyarakat Sasak di tengah, diperebutkan, dipengaruhi, dan perlahan dilibatkan dalam permainan kekuasaan yang mereka sendiri tak sepenuhnya pahami.
Bentrokan Berdarah: Bali Masuk ke Hutan Timur
Tahun 1677 menjadi tahun api. Pasukan Bali menembus hutan-hutan lebat di Lombok Timur.
Di balik pohon-pohon besar dan jalan berlumpur, mereka berhadapan dengan orang-orang Makassar yang telah bersekutu dengan bangsawan Sasak.
“Ketika orang Bali setelah sejumlah pertempuran kecil-kecilan berhasil memusnahkan pusat kekuasaan Selaparang...” tulisnya.
Selaparang—sebuah pusat aristokrasi tua Sasak—runtuh. Tapi bukan berarti Bali langsung berjaya.
Wilayah timur tetap liar. Diperlukan waktu 150 tahun hingga Bali benar-benar menguasai tanah itu.
Baca Juga: Ritual Mandian Keris Sasak di Taman Narmada, Jadi Tradisi Leluhur dan Magnet Wisata Lombok Barat
Tahapan Invasi dan Strategi Bali
Sejak tahun 1678 hingga 1849, kekuasaan Bali perlahan tumbuh, tapi tak pernah mudah. Mereka menghadapi perlawanan yang konsisten dari bangsawan Sasak—para elite lokal yang masih memiliki basis kuat di desa-desa.
Van Der Kraan membagi perjuangan Bali dalam empat tahap besar:
Tahap Pertama (1678–1740):
Gerakan militer Bali menekan timur. Mereka menyusup ke desa, membuka jalur logistik, membangun pengaruh.
Tapi dominasi masih rapuh. “Nampaknya mereka telah maju sejauh Sumbawa, akan tetapi di sana mereka gagal memperoleh pengaruh politik yang langgeng.”
Tahap Kedua (1740–1755):
Gusti Wayan Tegeh memimpin dengan tangan besi. Ia menyerbu, memecah koalisi, dan menaklukkan satu demi satu distrik bangsawan Sasak.
Banyak pemimpin lokal menyerah atau bergabung secara terpaksa.
Tahap Ketiga (1755–1838):
Bali kian kuat. Wayan Tegeh membentuk sistem pembagian wilayah, mengatur ulang distrik, dan menunjuk pemimpin setempat yang loyal.
Saat inilah sistem pajak “pejati” (upeti wajib) diperkenalkan.
“Setiap distrik Sasak berada di bawah pengawasan seorang pemimpin Bali atau sekutu mereka,” catat Babad.
Tahap Keempat (1838–1849):
Puncak kejayaan sekaligus awal retak. Gesekan muncul di kalangan bangsawan Bali sendiri.
Perselisihan antar-kelompok dan krisis internal memperlemah cengkeraman atas tanah Sasak. Tapi jejak kekuasaan mereka tak pernah hilang sepenuhnya.
Ketika Politik Disamarkan sebagai Upeti
Sistem pemerintahan Bali di Lombok tak hanya soal perang dan pendudukan. Mereka memperhalus kontrol melalui administrasi dan upeti.
Tiap desa wajib menyetor hasil panen, kayu, dan tenaga. Di sinilah sistem pejati lahir: semacam pajak yang menyimbolkan takluknya satu distrik Sasak ke kekuasaan Bali.
“Semua orang dari distrik tertentu diwajibkan membayar pajak (capil kajang), semua kepala desa membayar upeti...”
Dari segi militer, setiap distrik Sasak yang dianggap ‘takluk’ harus menyediakan prajurit untuk membantu Bali dalam ekspansi berikutnya.
Sistem ini membelah masyarakat: sebagian bangga menjadi bagian dari kekuatan Bali, sebagian lagi diam-diam menyimpan luka sejarah.
Darah, Damar, dan Dinasti
Konflik antara elite Sasak, Bali, dan Makassar bukan sekadar sejarah tua. Ia adalah cermin dari bagaimana politik, agama, dan budaya saling menunggangi.
Di balik setiap gerakan pasukan, ada kesepakatan tersembunyi. Di balik setiap desa yang “dibebaskan”, ada keluarga yang kehilangan tanahnya.
Dan hingga hari ini, sisa-sisa struktur sosial itu masih terasa. Dalam nama desa, dalam kisah-kisah lisan, dalam warisan arsitektur pura dan masjid yang berdiri berdampingan—semuanya berbisik, bahwa Lombok adalah panggung tempat sejarah tidak pernah benar-benar usai.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin