Di dalam Aula Hypostyle—sebuah ruangan raksasa yang disangga oleh 134 pilar batu raksasa berbentuk kuncup papirus—asap kemenyan membubung tinggi. Menciptakan kabut tebal yang menyembunyikan wajah-wajah cemas para pendeta berpakaian linen putih tanpa rambut.
Seorang utusan istana yang telah dibayar mahal oleh pihak kuil berlutut gemetar di atas lantai batu yang dingin, beberapa langkah di belakang Ptahmoses.
"Bicaralah lagi, Paneb," perintah Ptahmoses tanpa membalikkan badannya. Suaranya dingin, bergaung di antara pilar-pilar raksasa yang seolah ikut mendengarkan. "Jangan kurangi satu detail pun dari apa yang kaulihat di kamar bersalin Ratu Tiye."
Utusan bernama Paneb itu menelan ludah dengan susah payah, dahinya menempel pada lantai. Bersujud.
"Tapi apa?!" bentak Merire, pendeta peramal yang berdiri di samping Ptahmoses, tidak mampu lagi menahan kegelisahannya.
"Fisik anak itu tidak seperti pangeran-pangeran terdahulu, Tuanku," lanjut Paneb dengan suara berbisik, takut dinding-dinding kuil akan menghukumnya karena membawa kabar aneh. "Mata-mata hamba di dalam kamar melaporkan bahwa wajah sang pangeran memanjang secara ganjil. Rahangnya tirus, jemarinya panjang seperti cakar burung, dan tubuhnya ramping, tidak kokoh. Dayang-dayang di istana sempat terdiam saat pertama kali melihatnya."
Merire langsung menoleh ke arah Ptahmoses, matanya melebar oleh kombinasi antara rasa takut dan peluang politik. "Ini dia, Yang Agung! Ini adalah tanda dari langit yang kita diskusikan semalam. Dewa-dewa telah mengutuk rahim perempuan jelata itu! Kita harus segera mengirimkan para pendeta ke pasar-pasar di Thebes, ke barak-barak militer, ke hulu dan hilir Nil. Kita sebarkan berita bahwa anak yang lahir di Malkata adalah makhluk cacat yang akan membawa sial bagi kesuburan tanah Mesir!"
Para pendeta lain di dalam aula mulai berbisik-bisik, membenarkan usulan Merire. Narasi tentang "anak terkutuk" adalah senjata paling ampuh dalam teokrasi mereka untuk mendelegitimasi pewaris takhta sebelum ia sempat tumbuh dewasa.
Namun, Ptahmoses tidak langsung merespons. Ia perlahan membalikkan tubuhnya, menatap Merire dengan pandangan yang membuat pendeta peramal itu langsung tertunduk.
"Kau bodoh, Merire," ucap Ptahmoses dengan nada rendah. "Jika kita menyebut anak itu sebagai kutukan dewa karena fisiknya, apa yang akan terjadi jika dia tetap tumbuh dewasa dan memegang tongkat gembala kekuasaan? Rakyat akan melihat kita sebagai pembohong jika dia berhasil memimpin. Dan yang lebih penting, kau tidak melihat mata Ratu Tiye. Perempuan itu tidak akan membiarkan anak kandungnya dijatuhkan oleh desas-desus murahan."
"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Yang Agung?" tanya Merire, suaranya mengecil. "Apakah kita diam saja melihat takhta ini jatuh ke tangan anak dari perempuan yang membenci kuil kita?"
Ptahmoses melangkah mendekati altar emas Amun-Ra, menatap patung dewa yang dihiasi batu lapis lazuli dan emas murni. "Kita tidak akan menyerang fisiknya. Kita akan menggunakan nama yang diberikan Firaun untuknya. Amenhotep IV. Amun Merasa Puas. Kita akan mendatangi istana besok pagi, membawa persembahan terbesar dari gudang kuil kita, dan kita akan menyatakan di depan publik bahwa anak ini adalah 'pilihan Amun'."
Merire terbelalak. "Menyatakan dia pilihan Amun? Tapi itu berarti kita melegitimasinya, Tuanku!"
"Kita melegitimasinya agar kita bisa mengurungnya, Merire!" jawab Ptahmoses, matanya berkilat. Ia mencengkeram tepi altar emas. "Kita akan menawarkan diri untuk menjadi guru spiritualnya sejak ia bisa mengeja huruf hieroglif. Kita akan bawa dia ke dalam kuil ini, kita pisahkan dia dari pengaruh ibunya yang berotak tajam itu. Kita akan jejali pikirannya yang rapuh dengan mantera-mantera kita, hingga ketika dia dewasa nanti, dia tidak akan tahu cara memerintah tanpa berlutut di bawah kakiku. Kita akan membuat dia mengira bahwa setiap napas yang ditariknya adalah pemberian dari Amun."
Sementara itu, di Istana Malkata, suasana perayaan kelahiran dipenuhi oleh kewaspadaan yang tinggi. Di paviliun Ratu, Amenhotep IV bayi sedang tertidur lelap di dalam ayunan kayu yang diukir membentuk motif bunga teratai.
"Para pendeta Karnak sedang mengumpulkan emas dan linen terbaik malam ini, Yang Mulia," lapor Ay dengan wajah serius. "Ptahmoses sendiri yang akan memimpin delegasi besok pagi untuk memberikan pemberkatan kepada Pangeran muda."
Ratu Tiye mendengus sinis, senyum meremehkan menghiasi bibirnya yang pucat setelah melahirkan. "Pemberkatan? Ptahmoses tidak pernah memberikan apa pun dengan gratis, suamiku. Dia datang bukan untuk memberkati, dia datang untuk menakar seberapa dalam dia bisa menancapkan kuku-kukunya pada putra kita."
Fir'aun Amenhotep III menghela napas, mengusap janggutnya yang mulai memutih. "Mereka membawa legitimasi, Tiye. Di mata rakyat Mesir, seorang pangeran belum sepenuhnya menjadi pewaris jika ia belum diurapi oleh minyak suci dari Kuil Amun. Kita tidak bisa menolak mereka tanpa memicu pemberontakan dari para jenderal yang setia pada kuil."
Tiye perlahan menurunkan kakinya dari ranjang, berdiri dengan anggun meskipun tubuhnya masih lemah. Ia melangkah mendekati ayunan putranya, menatap wajah tirus bayi itu yang tampak begitu tenang, seolah tidak peduli pada konspirasi raksasa yang sedang merebutkan jiwanya.
"Biarkan mereka datang, suamiku," kata Tiye, suaranya bergetar oleh tekad seorang ibu yang bervisi tajam. "Biarkan mereka mengurapi kepalanya dengan minyak suci mereka. Tapi aku bersumpah demi tanah Mesir ini, mereka boleh membasahi rambutnya dengan air kuil, tapi akulah yang akan mengisi otaknya. Ptahmoses mengira dia bisa menjinakkan anak ini di dalam kegelapan Karnak, tapi dia tidak tahu... anak ini dilahirkan untuk membawa cahaya yang akan membakar kuil mereka sampai ke fondasinya."
Ay menatap Ratu Tiye dengan rasa takjub yang bercampur ngeri. "Lalu, apa rencana Anda, Gusti Ratu?"
Tiye membelai lembut jemari panjang putranya yang bergerak halus dalam tidur.
Malam kembali turun di atas Thebes, namun garis pertempuran telah digariskan dengan jelas.
(Bersambung ke Seri 3: Langkah Pertama di Atas Lantai Karnak)