MALAM membungkus kota Thebes dengan keheningan yang mencekam.
Di seberang barat Sungai Nil, Istana Malkata tampak tertidur di bawah siraman cahaya bulan.
Namun di seberang timur, di dalam jantung Kuil Karnak, riak-riak konspirasi justru sedang mendidih.
Di sebuah ruangan bawah tanah yang tersembunyi jauh di balik dinding-dinding batu tebal yang kedap suara, kepanikan yang teramat sangat sedang dirasakan oleh para elite teokrasinya.
Pendeta Tinggi Merire berjalan mondar-mandir di atas lantai batu yang lembap. Jubah macan tutulnya yang ia kenakan saat mengajar di Kap pagi tadi kini tersampir begitu saja di kursi kayu, menyisakan tubuhnya yang dibalut linen tipis.
Wajahnya masih menyisakan rona merah akibat sisa amarah dan rasa malu yang mendalam setelah didebat habis-habisan oleh Pangeran Amenhotep IV di depan para calon elite militer Mesir.
"Dia bukan lagi sekadar mempertanyakan tradisi kita, Ptahmoses!" suara Merire meninggi, bergaung cemas di antara dinding-dinding batu yang hanya diterangi oleh sebuah lampu minyak zaitun. "Anak itu... bocah kurus berwajah tirus itu, dengan terangnya menyebut seluruh berhala kita sebagai kepalsuan wacana di depan putra-putra jenderal kita! Dia menyebut nama Aten! Dia ingin meruntuhkan dinding kuil ini agar rakyat tidak lagi membawa emas kepada kita!"
Di sudut ruangan yang gelap, duduk sang Pendeta Agung, Ptahmoses. Tubuhnya yang teramat tua bersandar pada kursi batu yang tinggi. Sepasang matanya yang rabun namun sarat dengan kelicikan menatap nyala api lampu minyak yang menari-nari ditiup angin malam.
"Tenangkan lidahmu, Merire," ucap Ptahmoses, suaranya berupa bisikan serak yang dingin, namun sanggup menghentikan langkah mondar-mandir Merire seketika.
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (7): Debat Teologis di Sekolah Istana
Amarahmu hanya akan memperlihatkan bahwa argumen bocah tujuh belas tahun itu berhasil melukaimu. Di tempat suci ini, ketakutan adalah komiditas kita, jangan sampai kita sendiri yang meminumnya."
"Bagaimana hamba bisa tenang, Yang Agung?" Merire melangkah mendekat, membungkuk di depan Ptahmoses. "Jika anak-anak jenderal itu pulang ke rumah mereka malam ini dan menceritakan kepada ayah mereka bahwa pangeran mahkota menolak otoritas Amun, maka kesetiaan militer pada kuil akan goyah. Kita sedang menghadapi singa muda yang siap menerkam gerbong kita!"
Ptahmoses perlahan menegakkan punggungnya yang bungkuk. Ia meraih tongkat berkepala domba jantannya yang bersandar di dinding. "Singa yang terlalu cepat mengaum sebelum ia memiliki taring yang kuat adalah singa yang mudah untuk dikurung, Merire. Amenhotep IV terlalu tergesa-gesa melakukan lompatan pikirannya. Dia mengira kebenaran logikanya cukup untuk memenangkan pertempuran, padahal dunia ini digerakkan oleh poros-poros kekuasaan yang nyata."
"Lalu, apa rencana kita, Tuanku? Apakah kita akan meracuninya?" bisik Merire dengan mata berkilat kejam.
Ptahmoses menggelengkan kepalanya perlahan, senyum sinis yang keriput muncul di wajahnya. "Meracuni seorang pangeran mahkota saat Firaun Tua masih hidup adalah tindakan ceroboh yang akan membuat Ratu Tiye memiliki alasan mengerahkan pasukan Nubia meratakan kuil ini. Tidak, kita tidak akan membunuh fisiknya. Kita akan menggunakan cara yang lebih halus: kita batasi geraknya. Kita potong sayap-sayapnya sebelum dia sempat terbang."
Ptahmoses mengetukkan tongkat batunya ke lantai sekali. Seorang pendeta muda, Paneb, melangkah keluar dari kegelapan pintu rahasia dan membungkuk hormat.
"Paneb," perintah Ptahmoses dingin. "Temui Jenderal Horemheb di barak militer utara besok sebelum fajar. Katakan padanya, kuil akan menggelontorkan seratus emas dari gudang rahasia untuk membiayai latihan perang pasukannya di perbatasan Sinai. Tetapi ada syaratnya."
"Apa syaratnya, Yang Agung?" tanya Paneb dengan pandangan lurus ke lantai.
"Desak Firaun Amenhotep III untuk mengirim pangeran mahkota ikut serta dalam ekspedisi militer tersebut. Katakan pada istana bahwa seorang calon penguasa harus belajar memimpin pasukan di garis depan demi meredakan isu 'fisik rapuh' yang beredar di pasar-pasar," Ptahmoses tersenyum keji. "Di padang pasir Sinai yang gersang dan jauh dari pengaruh ibunya, biarkan alam perbatasan yang keras mendidiknya. Atau... jika para penyamun Habiru beruntung, biarkan sebilah anak panah nyasar menyelesaikan masalah teologis kita di sana."
Merire yang mendengarkan rencana itu perlahan mengembuskan napas lega, senyum liciknya kembali muncul. "Dan bagaimana dengan gadis Mitanni itu, Nefertiti? Dia sekarang berada di gerbong Ratu Tiye."
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten, Sang Pemindah Ibu Kota (6): Dua Ratu di Bawah Langit Malkata
"Gadis asing itu hanya memiliki kekuatan selama ia berada di dalam lingkaran Istana Malkata," sahut Ptahmoses sembari bangkit berdiri dengan gontai. "Begitu sang pangeran dipisahkan darinya dan dikirim ke medan perbatasan, Nefertiti hanyalah seorang putri asing tanpa pelindung di tanah air kita. Kita akan buat dia terisolasi di paviliun timur. Jalankan rencana ini besok pagi, Merire. Mari kita lihat, seberapa jauh piringan matahari 'Aten' miliknya bisa menolong sang pangeran dari jerat pasir Sinai yang menghisap."
Malam semakin larut di Thebes, dan rencana pembatasan gerak bagi sang calon Fir'aun muda telah matang di bawah bisikan ruang gelap Karnak. Poros teokrasi lama kembali menggunakan jaringan kuat mereka untuk membendung fajar perubahan yang sedang mencoba mendobrak kemapanan.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
Sumber : Beragam Sumber