PAGI yang mencekam menyelimuti kota Thebes. Udara dingin dari utara berembus kencang, memukul pancang-pancang bendera di sepanjang pelataran Istana Malkata.
Di tengah desas-desus yang disebarkan oleh Kuil Karnak bahwa dewa-dewa melarang kepemimpinan ganda, Istana Malkata justru menjawabnya dengan sebuah panggung pembuktian kekuasaan yang tak tergoyahkan.
Di dalam Balai Utama yang dipenuhi oleh para gubernur provinsi, diplomat asing, wazir, dan para komandan militer terkemuka, sebuah prosesi bersejarah sedang berlangsung. Firaun Amenhotep III, meski tubuhnya teramat lemah dan harus disangga di atas kursi takhta emas yang diselimuti kain linen tebal, duduk dengan mahkota ganda Pschent di kepalanya.
Di sisi kanannya, Ratu Tiye berdiri laksana tiang batu yang tak tergoyahkan, sementara Wazir Agung Ay memegang gulungan papirus hukum tertinggi negara.
Pangeran Amenhotep IV melangkah maju ke tengah balairung. Ia mengenakan jubah kebesaran kerajaan bertabur benang emas, namun wajah tirus dan tatapan matanya yang tajam tetap menyuarakan aura kesederhanaan dan keteguhan yang otentik.
Di belakangnya, Nefertiti menyaksikan dengan sepasang mata gelap yang berkilat oleh keyakinan mutlak.
Wazir Agung Ay membentangkan gulungan papirus di hadapan seluruh dewan agung, lalu membacakan maklumat Firaun dengan suara menggelegar yang memantul di pualam balairung:
"Atas kehendak Firaun Agung Amenhotep III, Penguasa Dua Tanah, dan demi kelangsungan tatanan Ma'at yang abadi: Mulai hari ini, Pangeran Mahkota Amenhotep IV secara resmi diangkat dan diurapi sebagai Co-Regent—Firaun Pendamping dengan hak hukum, militer, dan eksekutif yang mutlak dan setara di atas tanah Mesir!"
Seketika, Amenhotep III dengan jemarinya yang gemetar mengangkat tongkat gembala dan cambuk emas—simbol kekuasaan tertinggi Firaun—lalu menyerahkannya langsung ke tangan putra terkasihnya. Saat jemari Amenhotep IV mencengkeram simbol kekuasaan tersebut, gemuruh sorak-sorai dari para prajurit Nubia dan pejabat istana yang setia pecah memenuhi balairung.
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (15): Kesehatan Fir'aun Tua Memburuk
Proklamasi Co-Regency telah sah secara hukum negara; sang Fir'aun muda kini secara resmi memegang kemudi kekaisaran teragung di dunia kuno.
Namun, beberapa kilometer di seberang Sungai Nil, di dalam Kuil Karnak, berita tentang proklamasi tersebut mendarat bagaikan petir yang menghancurkan altar batu mereka.
Di Aula Hypostyle, Pendeta Tinggi Merire melempar gulungan papirus Laporan Istana ke atas lantai batu dengan wajah merah padam oleh amarah yang membakar. "Mereka telah menabrak hukum leluhur! Anak itu kini menjadi Firaun tanpa pernah membasahi dahinya dengan air suci dari tangan kita! Ini adalah penghinaan terbesar bagi Amun-Ra!"
Pendeta Agung Ptahmoses berdiri mematung di depan patung emas Amun-Ra. Wajahnya yang keriput tampak sangat kaku, tangannya yang memegang tongkat batu bergetar hebat.
Kelicikan dan strategi politik yang ia bangun selama berdekade-dekade baru saja dilompati secara frontal oleh manuver cepat Ratu Tiye dan Amenhotep IV. Dengan status Co-Regent, Amenhotep IV tidak lagi bisa ditakut-takuti atau dikendalikan dengan argumen "pangeran yang belum sah."
"Anak itu tidak sekadar mengambil takhta, Merire," bisik Ptahmoses, suaranya parau dan sarat akan kecemasan mendalam. "Dia baru saja memotong rantai teokrasi yang mengikat leher kerajaan ini selama berabad-abad. Begitu dia memegang stempel resmi, target pertamanya bukanlah para musuh di perbatasan, melainkan gudang-gudang emas kita."
"Lalu, apa yang tersisa dari kekuasaan kita, Yang Agung?!" teriak Merire frustrasi. "Apakah kita akan berlutut di bawah kakinya dan menyaksikan dia mengganti nama dewa-dewa kita dengan 'Aten' yang dia agungkan itu?"
Ptahmoses membalikkan badannya perlahan, sepasang matanya yang rabun menyipit penuh dendam yang pekat. "Kita tidak akan berlutut, Merire. Jika dia menggunakan hukum negara untuk melompati kita, maka kita akan menggunakan rakyat dan tradisi untuk membakar tanah di bawah kakinya. Kumpulkan seluruh pemuka agama cabang dari Memphis hingga Tebas. Mulai hari ini, setiap khotbah di kuil-kuil harus menyuarakan satu hal: bahwa Firaun baru ini adalah pembawa malapetaka yang akan membuat tanah Mesir gersang dan dikutuk oleh para dewa!"
Garis perang saudara teologis kini telah ditarik dengan sangat jelas dan tajam. Di tepi barat Sungai Nil, Firaun Muda Amenhotep IV berdiri di atas podium Malkata bersama Nefertiti, siap melancarkan reformasi radikalnya dari dalam koridor kekuasaan.
Sementara di tepi timur, kasta Pendeta Amun memobilisasi kemurkaan teokrasi mereka dari balik kegelapan kuil tua, bersiap memuntahkan badai oposisi terbesar yang belum pernah disaksikan oleh peradaban Mesir Kuno.
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (14): Guncangan di Balai Malkata
(Bersambung)
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Beragam Sumber