Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (32): Nefertiti Ambil Alih Kemudi Kekaisaran

Lalu Mohammad Zaenudin • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 19:04 WIB
Patung Ratu Nefertiti
Patung Ratu Nefertiti

Duka yang meremukkan Istana Utama Akhetaten bertindak laksana racun yang melumpuhkan jiwa Akhenaten. Sang Firaun yang dahulu begitu meledak-ledak dengan visi akselerasinya kini menghabiskan hari-harinya dalam kesunyian paviliun ibadah, menatap piringan matahari dengan mata sembab dan tubuh yang kian kurus kering. Laporan militer perbatasan dibiarkan melapuk, dan guncangan ekonomi akibat wabah mengancam merobohkan stabilitas ibu kota baru itu.

Namun, di tengah krisis kepemimpinan yang berdarah ini, Nefertiti menolak untuk membiarkan impian Kota Cahaya terkubur bersama jasad putri-putrinya.

Pagi itu, di Balai Dewan Agung, Nefertiti melangkah masuk dengan mahkota biru tingginya yang memancarkan aura wibawa mutlak. Ia tidak lagi sekadar berdiri di samping takhta sebagai permaisuri; sang Ratu Agung secara resmi melangkah naik dan menduduki takhta kekuasaan eksekutif kekaisaran.

"Firaun sedang dalam masa kontemplasi suci bersama Aten," suara Nefertiti menggema dingin dan tegas di hadapan para menteri dan pejabat yang cemas. "Namun roda hukum Ma'at tidak akan berhenti berputar sekejap pun. Mulai hari ini, setiap keputusan hukum, anggaran negara, dan perintah militer berada di bawah stempel resmiku!"

Wazir Agung Ay menunduk hormat, menyembunyikan rasa takjub sekaligus leganya atas keteguhan sang Ratu. Langkah pertama Nefertiti adalah melakukan konsolidasi politik untuk mengamankan garis suksesi di tengah ancaman kudeta militer Horemheb dan intrik Karnak.

Nefertiti memanggil Smenkhkare—seorang pangeran muda berdarah bangsawan yang memiliki kesetiaan ideologis mutlak pada visi Amarna—dan mengangkatnya sebagai Co-Regent baru pendamping istana. Langkah ini adalah manuver taktis yang brilian: menghadirkan sosok pemimpin pria di panggung diplomasi untuk meredam gejolak para jenderal di barak utara, sekaligus melindungi pangeran bayi Tutankhaten dari jangkauan musuh.

Kabar tentang Nefertiti yang memegang kemudi kekaisaran dan pengangkatan Smenkhkare mendarat bagaikan pukulan godam di Kuil Karnak.

Pendeta Tinggi Merire membanting tongkatnya ke lantai dengan wajah pucat pasi. "Perempuan itu! Dia tidak membiarkan Amarna runtuh! Saat Akhenaten hancur oleh duka, Nefertiti justru mengambil alih takhta dan menunjuk Smenkhkare untuk mengunci jalur kekuasaan!"

Ptahmoses mengepalkan tangannya yang gemetar. "Nefertiti jauh lebih berbahaya daripada Akhenaten, Merire. Akhenaten adalah seorang pemimpi dan penyair, tetapi Nefertiti... Nefertiti adalah seorang politisi sejati yang memiliki dinginnya darah Ratu Tiye. Kita tidak bisa lagi menunggu wabah atau duka menghancurkan mereka. Kita harus bergerak lewat tangan Horemheb sebelum Smenkhkare mengkonsolidasikan kekuatan militernya!"

 

Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (31): Putri Meketaten Meninggal Dunia

Di bawah kemudi Nefertiti, Kota Cahaya Akhetaten menyalakan kembali api perlawanannya. Sang Ratu Agung siap memimpin kekaisaran menembus badai tergelap dalam sejarah mereka.

(Bersambung) 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
Sumber : Beragam Sumber
Ratu Nefertiti Penguasa Amarna Pengangkatan Co Regent Smenkhkare Suksesi Takhta Firaun Akhenaten