Kabut tebal membungkus dermaga tua Memphis ketika perahu kargo yang membawa Pangeran Smenkhkare bersandar perlahan di sela-sela jajaran rumpun papirus. Suara riak air Sungai Nil yang memukul lambung kayu perahu terdengar bagaikan detak jantung yang berdegup kencang. Smenkhkare merapatkan tudung jubah linen fisiknya, menatap siluet benteng Memphis yang menjulang dalam remang fajar.
"Tetap di posisi kalian," bisik Smenkhkare kepada lima pengawal Nubia setianya. "Begitu aku berhasil menembus barak Horemheb, kirim sinyal api ke arah perahu."
Namun, belum sempat kaki sang pangeran muda menyentuh tanah gembur tepi sungai, keheningan subuh pecah seketika. Dari balik Rawa Papirus dan tumpukan peti kayu dermaga, puluhan sosok bertudung hitam melompat keluar dengan belati perunggu dan pedang lengkung Khopesh terhunus.
"Serangan pembunuh!" teriak komandan pengawal Nubia seraya menarik pedangnya dan menepis tebasan pertama yang mengincar leher Smenkhkare.
Dentang benturan senjata perunggu dan jeritan napas terakhir seketika memadati udara dingin Memphis. Pembunuh bayaran utusan Kuil Karnak bergerak cepat laksana bayangan malam, mengepung rombongan kecil Amarna dari tiga penjuru. Mereka tidak bertujuan merampok; mata mereka terkunci mutlak pada sosok Smenkhkare.
Smenkhkare mencabut belati kerajaannya, bertarung sengit bahu-membahu bersama para pengawalnya. Seorang penyerang merangsek maju dengan tebasan membabi buta, merobek jubah luar Smenkhkare dan melukai lengan atas sang pangeran. Darah segar membasahi pasir dermaga, namun Smenkhkare berhasil membalas dengan tikaman presisi ke dada sang penyerang.
Pertempuran tak seimbang itu dengan cepat menyudutkan rombongan Amarna. Tiga pengawal Nubia telah tumbang bersimbah darah. Di tengah kepungan yang kian merapat, salah seorang pembunuh bertubuh kekar mengangkat pedangnya tinggi-tinggi di atas kepala Smenkhkare yang terdesak ke lambung kapal.
Tepat sebelum bilah perunggu itu menebas tubuh sang pangeran, derap langkah kaki berzirah dan dentang roda kereta perang bergemuruh menghantam dermaga.
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (33): Misi Rahasia Smenkhkare
"Tahan senjata kalian!" sebuah teriakan menggelegar menembus kabut.
Satu regu pengawal elit militer Memphis yang dipimpin langsung oleh Jenderal Horemheb menerobos masuk ke area dermaga. Panah-panah berbisa ditembakkan secara presisi, menumbangkan sisa-sisa pembunuh bayaran Karnak dalam hitungan detik. Beberapa penyerang yang selamat melarikan diri menembus rawa, meninggalkan dermaga yang kini berantakan oleh genangan darah.
Horemheb melangkah turun dari kereta perangnya, memegang pedang bermandikan darah segar. Sepasang matanya yang tajam menatap terkejut ke arah sosok pangeran muda yang terluka di hadapannya.
"Pangeran Smenkhkare...?" bisik Horemheb, menatap tak percaya pada Co-Regent baru yang berdiri terengah-engah dengan lengan berdarah. "Apa yang dilakukan oleh seorang raja pendamping di dermaga beracun Memphis ini pada subuh buta?"
Smenkhkare menyeka darah di pipinya, menatap lurus ke dalam mata sang jenderal veteran tanpa sedikit pun memperlihatkan rasa gentar.
"Aku datang untuk menagih sumpah prajuritmu, Horemheb," ujar Smenkhkare, suaranya lantang meski tubuhnya menahan sakit. "Dan tampaknya... para pendeta Karnak yang kaupercayai itu lebih suka melihatku tewas di tanahmu daripada melihat kita berbicara sebagai sesama lelaki Mesir."
Horemheb menatap jasad-jasad pembunuh yang tergeletak di lantai dermaga. Pada jubah salah satu penyerang, terukir tato rahasia ular kobra milik kasta pengawal dalam Kuil Karnak. Wajah rahang keras sang jenderal mendadak menegang; amarah dan rasa dihina membakar dadanya karena Karnak berani melakukan tindakan pembunuhan liar di wilayah teritorial kekuasaan militernya.
"Bawa Pangeran ke tenda komandoku dan obati lukanya!" perintah Horemheb dengan nada yang amat dingin.
Jebakan berdarah Karnak di Memphis gagal merenggut nyawa Smenkhkare, dan justru menjadi pemantik yang membakar balik kepercayaan Jenderal Horemheb pada sekutu teokrasinya.
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (32): Nefertiti Ambil Alih Kemudi Kekaisaran
(Bersambung)
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Beragam Sumber