Pembersihan menyeluruh terhadap sel-sel pengkhianat di Malkata serta penumpasan aksi sabotase di Asyut mengembalikan ketenangan yang telah lama hilang ke bumi Akhetaten. Jalur pelayaran Sungai Nil kini bersih dan aman di bawah patung-patung pengawal galai tempur Nubia. Setiap harinya, tongkang-tongkang kargo melaju tanpa hambatan membawa gandum segar, buah-buahan, dan minyak wangi untuk mengisi gudang-gudang ibu kota, menjamin kelangsungan hidup Kota Cahaya.
Di atas bukit tebing batu kapur yang menghadap langsung ke seluruh lanskap Amarna, Akhenaten dan Nefertiti berdiri berdampingan. Sinar matahari senja menyiram pualam Kuil Per-Aten yang tanpa atap, memantulkan warna keemasan yang menakjubkan. Di pelataran kuil, rakyat dan keluarga pejabat berkumpul dengan penuh rasa syukur, menyanyikan bait-bait Hymn to the Aten tanpa cengkeraman ketakutan akan kelaparan atau intimidasi Kuil Karnak.
"Lihatlah negeri yang kita jaga ini, Nefertiti," ujar Akhenaten lembut, senyum kedamaian kembali terukir di wajah tirusnya yang sempat redup oleh duka. "Ketika kebenaran ditegakkan dengan keteguhan, kegelapan tidak akan pernah mampu memadamkan cahayanya."
"Kedamaian ini berdiri karena kita tidak membiarkan akar kebohongan merayap di dalam rumah kita, Akhenaten," sahut Nefertiti seraya menyentuh jemari suaminya. "Kini jiwa Amarna telah pulih sepenuhnya."
Sementara kedamaian mekar indah di Amarna, di perbatasan utara yang membara, panggung kekuatan militer kekaisaran sedang mengalami transformasi dahsyat.
Jenderal Horemheb bergerak cepat mengeksekusi mandat penuh yang diterimanya dari Ratu Nefertiti dan Co-Regent Smenkhkare. Di bawah kepemimpinan ketatnya, lima legiun kereta perang berzirah dan puluhan ribu prajurit pemanah dikonsolidasikan di benteng-benteng strategis sepanjang wilayah Kanaan dan perbatasan Suriah.
Dukungan logistik yang melimpah dari Amarna membuat barak-barak militer utara kembali bergairah. Pasokan senjata perunggu baru, perisai tembaga, dan ransum gandum yang melimpah tiba tepat waktu, membakar kembali moral para prajurit yang sebelumnya sempat meredup.
Di garnisun perbatasan Gaza, Horemheb berdiri di atas menara pengawas, menatap barisan kereta perang yang berbaris rapi di padang pasir. Di sampingnya, Smenkhkare—yang melakukan kunjungan inspeksi resmi—mengamati kesiapan pasukan perbatasan tersebut.
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (38): Sidang Pengkhianatan di Malkata
"Orang-orang Hittite dan pasukan pengkhianat Aziru telah menarik mundur pos-pos terdepan mereka begitu melihat panji perunggu kekaisaran kita membentang di sepanjang garis Gaza, Pangeran," pamer Horemheb dengan nada bangga yang penuh disiplin prajurit. "Gertakan diplomasi tanpa pedang telah usai. Kini mereka tahu bahwa Mesir tidak lagi tidur."
Smenkhkare mengangguk puas. "Istana Amarna telah memenuhi seluruh janjinya padamu, Horemheb. Pasokan emas dan gandum akan terus mengalir selama pedangmu berdiri tegak membentengi takhta suci dan menjaga perdamaian rakyat."
"Hamba menyatu dalam sumpah itu, Co-Regent," tegas Horemheb seraya mengepalkan tangannya di dada zirah perunggunya. "Perbatasan Kanaan kini terkunci rapat. Tidak ada satu pun pasukan Hittite yang akan menyentuh tanah Mesir selama hamba memimpin legiun ini."
Konsolidasi damai di dalam Amarna dan konsolidasi militer di perbatasan Kanaan berhasil merajut kembali dua pilar utama kekuatan kekaisaran: spiritualitas tauhid yang murni di ibu kota dan ketahanan geostrategis di luar negeri. Papan catur politik kini sepenuhnya dikuasai oleh kepemimpinan tripartit Akhenaten, Nefertiti, dan Smenkhkare, meninggalkan Kuil Karnak terisolasi total dalam keputusasaan yang membisu.
(Bersambung)
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Beragam Sumber