Tunduknya Kuil Karnak di bawah seruan penyesalan palsu Merire membuka babak baru di panggung diplomasi kekaisaran. Ancaman perang terbuka dan sabotase fisik kini berganti menjadi perang dingin yang amat halus—sebuah perlombaan pengaruh (race of influence) yang merayap di balik perjamuan istana, koridor birokrasi, dan lorong-lorong kuil. Merire mulai secara rutin mengirimkan upeti emas, minyak wangi, dan kain linen halus dari Thebes ke Amarna sebagai bukti kesetiaannya, sembari perlahan membangun citra sebagai pendeta yang kooperatif di mata para pejabat istana yang mulai lelah berkonflik.
Namun, Ratu Nefertiti dan Co-Regent Smenkhkare tidak terkecoh sedikit pun oleh sikap kooperatif sang pendeta baru. Di balik tirai keagungan Amarna, mereka menyusun langkah balasan strategis untuk mengunci masa depan takhta secara permanen agar tak bisa disentuh oleh pengaruh Karnak: Rencana Pernikahan Politik.
Sore itu, di balai keluarga Istana Utama, Nefertiti dan Smenkhkare duduk mengelilingi meja peta silsilah kerajaan bersama Wazir Agung Ay. Di pelataran luar, Pangeran Muda Tutankhaten yang kini makin tangkas terlihat sedang bermain panahan bersama Putri Ankhesenpaaten—putri ketiga Nefertiti dan Akhenaten yang berwajah anggun dan berotak tajam.
"Karnak sedang menunggu kita berbuat salah," tegas Nefertiti, matanya terkunci pada sosok Tutankhaten dan Ankhesenpaaten yang tertawa riang di taman. "Merire berpura-pura tunduk agar kita lengah. Maka, kita harus mengikat garis darah murni Amarna sebelum mereka sempat menyusupkan racun teologis pada Tutankhaten."
Smenkhkare mengangguk setuju. "Menikahkan Pangeran Tutankhaten dengan Putri Ankhesenpaaten di masa depan akan menyatukan legitimasi darah murni Firaun Akhenaten dengan penerus takhta. Ini akan menutup rapat celah bagi klan bangsawan mana pun di Thebes untuk mengklaim takhta melalui pernikahan politik."
Wazir Ay mengusap janggutnya yang memutih. "Rencana ini sempurna secara hukum Ma'at dan konsolidasi dinasti, Gusti Ratu. Namun, Tutankhaten masih sangat muda. Kita harus merencanakan pertunangan suci ini secara resmi di hadapan dewan bangsawan agar tidak ada satu pun pihak di Thebes yang berani mempertanyakannya."
Rencana pertunangan suci antara Pangeran Tutankhaten dan Putri Ankhesenpaaten segera diumumkan ke seluruh penjuru kekaisaran. Pengumuman ini menjadi benteng politik yang kokoh, mengikat dua pewaris utama Kota Cahaya dalam satu ikatan takdir yang tak tergoyahkan.
Sementara itu, di kota tua Thebes, berita tentang rencana pernikahan politik tersebut mendarat di meja kerja Merire. Pendeta Tinggi yang baru itu hanya tersenyum tipis, meski jemarinya menggenggam erat cawan perunggunya hingga memutih.
Baca Juga: Cetak 'Bung Hatta Muda' dari Kawasan Timur! BHACA Gembleng 20 Pemuda NTB-NTT di Mataram
"Nefertiti bergerak cepat..." bisik Merire kepada salah seorang pengawas kuil setianya. "Dia ingin menyegel darah murni Amarna dengan pertunangan itu. Tapi dia lupa... pernikahan politik hanya berlaku selama para pelakunya tetap hidup dan berada di bawah kendali mereka."
Merire melangkah ke jendela Kuil Karnak, menatap ke arah utara. "Biarkan mereka merayakan pertunangan suci itu di Amarna. Kita akan terus memainkan peran sebagai hamba yang tunduk... sampai saat di mana kesehatan Firaun Akhenaten mencapai titik terendahnya, dan kita bisa melangkah masuk sebagai penyelamat kekaisaran."
Perlombaan pengaruh antara intrik dingin Nefertiti dan kesabaran beracun Merire kian memuncak. Di tengah riuh sukacita rencana pertunangan Pangeran Tutankhaten dan Putri Ankhesenpaaten, takdir Kota Cahaya kini bergantung pada seberapa kuat benteng Amarna bertahan menghadapi perang saraf yang kian merayap.
(Bersambung)
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Beragam Sumber