Kabut duka atas wafatnya Akhenaten belum sepenuhnya menyapap dari langit Akhetaten ketika lonceng penobatan resmi dibunyikan. Di pelataran utama Kuil Agung Per-Aten, di bawah siraman terik matahari yang tak pernah memihak, prosesi suksesi dilaksanakan dengan khidmat dan presisi tinggi. Smenkhkare secara resmi mengenakan Mahkota Ganda (Pschent), menduduki takhta tertinggi sebagai Firaun tunggal, sementara Nefertiti tetap mengukuhkan posisinya sebagai Ratu Agung Penasihat Utama Kekaisaran.
"Takhta ini tidak berdiri di atas duka, tetapi di atas keberanian untuk melanjutkan visi murni yang ditinggalkan," pimpin Nefertiti saat menyematkan jubah kebesaran pada pundak Smenkhkare di hadapan para menteri dan jenderal.
Namun, di luar tembok Kota Cahaya, gelombang oposisi yang dipimpin oleh Pendeta Tinggi Merire di Thebes mulai bergerak cepat memanfaatkan celah transisi kekuasaan. Merire meyakini bahwa Smenkhkare, tanpa wibawa spiritual langsung dari Akhenaten, akan mudah goyah oleh tekanan politik luar dan dalam.
Manuver pertama Merire pasca-wafatnya Akhenaten adalah memprovokasi para bangsawan feodal di wilayah Mesir Hulu (Upper Egypt). Lewat surat-surat rahasia dan utusan gelap, Karnak menyebarkan propaganda bahwa penobatan Smenkhkare tidak sah secara tradisi kuno karena dilaksanakan tanpa persetujuan dan ritus pemberkahan dari konsorsium pendeta tradisional di Thebes.
"Seorang Firaun yang dinobatkan di atas pasir tanpa pelumas minyak suci Amun hanyalah penguasa tanpa legitimasi langit!" demikian bunyi salah satu maklumat gelap yang disebarkan di pasar-pasar Memphis dan Memphis Selatan.
Mendengar pergerakan provokasi tersebut, Smenkhkare tidak tinggal diam. Didampingi oleh dinginnya petunjuk taktis Nefertiti dan eksekusi cepat Wazir Agung Ay, sang Firaun muda membalas dengan Manuver Ekonomi-Diplomatik Pertama:
alih-alih merespons provokasi Karnak dengan makian teologi, Smenkhkare langsung menerbitkan Edik Pembebasan Pajak Gandum bagi seluruh petani di wilayah Mesir Tengah dan wilayah perbatasan Delta yang terdampak krisis masa lalu. Di saat yang sama, ia mengirim surat resmi pertama kepada Jenderal Horemheb di perbatasan utara, mengonfirmasi ulang seluruh anggaran dan kewenangan militer yang sebelumnya dijanjikan oleh Nefertiti.
Langkah brilian ini seketika memotong kaki propaganda Karnak. Para rakyat dan petani jelata tidak peduli dewa mana yang memberi berkah di kuil, selama gandum mereka tidak dipajaki secara kejam; sementara para jenderal militer tetap berada di garis Smenkhkare karena pasokan emas dan logistik perunggu mereka dijamin penuh tanpa potongan.
Di dalam kamar rahasia Kuil Karnak, Merire terhenyak saat menerima laporan bahwa edik pajak Smenkhkare disambut sorak-sorai oleh rakyat di perbatasan.
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (44): Mengembuskan Napas Terakhir
"Anak muda itu bertindak lebih cepat daripada perkiraanku..." bisik Merire seraya mengepalkan jemarinya yang mengenakan cincin stempel Ptahmoses. "Dia tidak bertarung di medan teologi... dia bertarung dengan memuaskan perut rakyat dan kantong prajurit."
Namun, Merire menyunggingkan senyum sengit. "Tapi permainan baru saja dimulai. Kita lihat seberapa lama dia bisa mempertahankan kas negaranya ketika kita menutup jalur perdagangan emas dari Nubia!"
Suksesi Mahkota Smenkhkare berhasil mengamankan stabilitas awal pasca-wafatnya Akhenaten. Namun, benang intrik baru di selatan—ancaman pemutusan pasokan emas Nubia oleh sekutu rahasia Karnak—mulai membayang di ufuk kekuasaan Sang Firaun Muda.
(Bersambung)
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Beragam Sumber