Desa Dasan Lekong, Kecamatan Sukamulia terkenal dengan persoalan kebersihan lingkungannya. Siapa yang tak mengenal aroma kotoran ayam di Jembatan Dasan Lekong. Stigma itulah yang membuat Kades Akbar tertantang untuk merevolusi kebersihan desanya.
Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur
============================
LM Rajabul Akbar dilantik sebagai Kades Dasan Lekong pada Februari 2018. Tapi keinginan menyapu bersih persoalan kebersihan lingkungan di desanya sudah ada jauh sebelum ia duduk di kursi kades. Lelaki kelahiran 5 Agustus 1973 itu telah lama mengidamkan desanya terbebas dari sampah.
"Ya, ini desa tua. Bagaimana bisa persoalan sampah saja diselesaikan begitu lama," katanya kepada Lombok Post.
Dengan mengantangi otoritas kebijakan, bulan Ramadan 2018 lalu, ia memulai melakukan sosialisasi gerakan bank sampah ke masyarakat. Tentu tak mudah mengajak delapan ribu lebih warga dari tujuh dusun dan 2.780 KK.
Pria yang akrab disapa Miq Apeng itu menceritakan jika yang pertama kali dilakukan adalah mengajak masyarakat mengolah sampah. Sampah organik dan nonorganik. Itu saja. Tak lebih dan tak kurang. Namun dua kata itu tak semudah menyebutkannya ketika diterapkan.
Menurut dia, tak mungkin mengundang warga ke kantor desa. Sebab ia tahu, warganya harus bekerja mencari nafkah. Oleh sebab itu, ia pun memulainya dengan turun langsung ke dusun-dusun. Waktu ibadah salat subuh berjamaah dilakukan sebagai momen yang tempat. Ia meminta waktu untuk memberikan kultum. Bukan membahas syariat Islam, namun ia mengajak warga beriman dengan mengajak warga menjaga kebersihan.
Dalam cera mah itu juga, kata Akbar, disusupkan ajakan untuk mengolah sampah. Di mana sampah itu dapat memberikan dampak ekonomis untuk masyarakat. "Di beberapa tempat saya sampai diteriaki. Karena saya mengajak mereka mengolah sampah dengan ceramah," kenangnya.
Metode belusukan dari musala ke musala terus dilakukan. Di samping itu, dia juga mengajak karang taruna dan para pemuda sebagai laskar bank sampah. Alhasil, dalam waktu singkat, kini masyarakat bisa mengumpulkan sampah organik dan nonorganik. "Bau yang ditimbulkan di jembatan juga sudah mulai berkurang," katanya.
Apa yang dilakukan Miq Apeng mungkin terdengar sederhana. Tapi menurut dia, turun salat berjamaah ke masjid dan musala di setiap dusun merupakan cara ampuh untuk mendekati masyarakat. Ia menerangkan, kepala desa di wilayah tetangga hampir tak pernah melakukan itu.
"Saya pikir terlalu lama dan manja jika menyelesaikan persoalan sampah sampah bertahun-tahun," katanya. (bersambung/r7)
Editor : Administrator