Kebanyakan pasien awalnya menolak untuk berbaring di ruangan itu. Tapi setelah mencobanya, ketakutan mereka perlahan terhapus oleh kebiasaan. Semua itu tak terlepas juga dari para perawat hemodialisa RSUD dr R Soedjono Selong yang melayani pasien layaknya keluarga.
Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur
=============================
Ruang pelayanan hemodialisa RSUD dr R Soedjono Selong terletak di bagian belakang. Kamarnya ada dua. Kamar pertama berisi enam ranjang. Kamar ke dua lima. Totalnya 11 ranjang. Jumlah tempat tidur disesuaikan dengan alat.
Alat hemodialisa merupakan pengganti ginjal. Setiap hari, alat tersebut bekerja. Pagi dan sore. Sabtu (9/3) lalu, koran ini melihat ke sebelas alat itu bekerja. Berikut para perawat. Juga pasien yang harus ke sana seumur hidupnya.
Kepala Ruangan Hemodialisa RSUD dr R Soedjono Selong Hj Siti Jauhari sedang bertugas. Dengan ramah, ia mempersilakan wartawan koran ini melakukan wawancara. Sekaligus berbincang dengan para pasiennya. "Total pasien sekitar 70 orang," kata Hj Siti Jauhari yang di rumah sakit akrab disapa bu Hajjah.
Setiap pasien dianjurkan mencuci darah dua kali dalam seminggu. Jadwalnya di silang pasangkan. Senin-Kamis, Selasa-Jumat, Rabu-Sabtu. Cuci darah pertama dan kedua dilakukan selama dua jam. Ketiga selama tiga jam, dan keempat dan seterusnya selama empat jam. Kata Bu Hajjah, cuci darah bukan untuk menyembuhkan ginjal. Karena itu, para pasien harus mencuci darahnya seumur hidup.
Layanan kesehatan Hemodialisa RSUD Selong sendiri dibuka 16 Maret 2015. "16 Maret mendatang akan genap empat tahun," terangnya.
Sebelumnya, para pasien dari Lotim harus mencuci darah mereka ke RSUD NTB atau RSUD Kota Mataram. Bu Hajjah menerangkan, ada beberapa pasien yang jika dihitung dari semenjak cuci darah di Mataram lamanya mencapai 10 tahun.
Usia pasien sendiri bermacam-macam. Dari yang muda dengan usia 20-25 tahun dan yang tua 50 tahun ke atas. Ditanya mengenai pasien dengan usia muda, Bu Hajjah langsung menyebutkan satu per satu nama mereka. "Tentu saya hafal, mereka setiap minggu datang ke sini. Dan itu untuk seterusnya. Itulah yang membuat kami sangat dekat dengan pasien," katanya.
Pelayanan prima diberikan para petugas medis di hemodialisa. Hal itu tak hanya disampaikan bu Hajjah. Salah seorang pasien Saraswati menerangkan jika perawatan yang didapatkan sangat baik. "Para perawat memperlakukan kami seperti orang tuanya," kata Saraswati sembari bertukar tawa dengan bu Hajjah.
Tak hanya hubungan perawat dengan pasien, hubungan pasien dengan sesama pasien juga sangat dekat. Bagaimana tak saling kenal, dengan terjadwal mereka selalu bertemu di tempat itu. Ruangan yang memperlihatkan selang dengan darah yang mengalir di dalamnya itu tak lagi menakutkan.
"Memang masyarakat pada umumnya masih menganggap cuci darah itu mengerikan. Tapi jika pasien sudah tahu, pandangan itu akan segera sirna," terang Bu Hajjah.
Untuk memberikan edukasi, ia juga melakukan konseling kepada pasien. Hal itu dilakukan untuk menguatkan pasien. Kata bu Hajjah, ke depan ia berencana melakukan semacam pertemuan untuk meminta pasien melakukan semacam testimoni. Sehingga masyarakat pada umumnya bisa teredukasi.
Mengenai pembayaran, biaya sekali cuci darah Rp 1.020.000. Semua pasien menggunakan BPJS Kesehatan. "Ada satu yang menggunakan SKTM," terang bu Hajjah.
Ke depan, ia berharap akan ada penambahan alat. Sehingga alat yang ada bisa digunakan dengan maksimal. Sebab seharusnya, alat tesebut tidak digunakan tiga kali dalam sehari. "Semoga ada penambahan," harapnya. (bersambung/r7)
Editor : Administrator