Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menanti Mobil Gizi di Ujung Jalan Berdebu Dusun Batu Tinja

Supardi
Penulis: Supardi❯
SEKOLAH PELOSOK: Siswa-siswi SDN 4 Selaparang yang ada di daerah pelosok Kecamatan Suela saat mengikuti pelajaran dengan semangat.
SEKOLAH PELOSOK: Siswa-siswi SDN 4 Selaparang yang ada di daerah pelosok Kecamatan Suela saat mengikuti pelajaran dengan semangat.

Advertisement

Lombokpost-Pagi di Dusun Batu Tinja dimulai dengan langkah anak-anak menyusuri jalan terjal dan berdebu menuju sekolah. Mereka tetap belajar seperti biasa, meski hingga kini belum pernah merasakan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang sudah berjalan di banyak tempat lain. 

Di tengah hamparan ladang jagung yang gersang, debu yang membumbung, dan terik yang menyengat, berdiri SDN 4 Selaparang dan SMPN 1 Satu Atap Suela di pelosok Lombok Timur (Lotim). Tepatnya di RT Lendang Belo, Dusun Batu Tinja, Desa Selaparang, Kecamatan Suela, sekolah ini tetap menjalankan proses belajar mengajar seperti biasa, meski berada di wilayah terpencil, terjauh, dan terluar (3T).

Setiap hari, siswa harus menempuh jalan terjal, berdebu saat kemarau, dan becek ketika hujan, sejauh berkilo-kilometer demi bisa bersekolah. Semangat mereka tak pernah surut. Namun di balik itu, ada satu hal yang belum pernah mereka rasakan, program MBG yang sudah lebih dari setahun berjalan di berbagai daerah.

Seorang guru SDN 4 Selaparang Iman mengatakan, hingga saat ini siswa-siswinya belum pernah menikmati program MBG, meski sekolah lain sudah merasakannya. "Sudah setahun, tapi anak-anak di sini belum pernah merasakan MBG," terang Iman, Selasa (5/5). 

Sejak program tersebut diluncurkan, sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sempat meminta data siswa di sekolah itu. Namun, setelah data diberikan, tidak ada tindak lanjut.

Advertisement

Iman mengaku sedih setiap melihat mobil berlogo Badan Gizi Nasional (BGN) bolak-balik mengantar makanan ke sekolah lain. Bukan soal makanan, tetapi rasa ketidakadilan yang ia rasakan.

"Sedih saya setiap melihat mobil MBG keluar masuk di sekolah-sekolah lain, sementara hanya kami yang belum dapat," tuturnya. 

Harapan anak-anak sempat tumbuh ketika sebuah mobil masuk ke halaman sekolah beberapa waktu lalu. Mereka riuh dan bersemangat, mengira itu mobil pengantar MBG. Namun harapan itu kembali pupus.

Hampir setiap hari, siswa bertanya kapan mereka akan mendapatkan program tersebut. Pertanyaan yang kerap membuat gurunya terdiam. Kini, pertanyaan itu perlahan menghilang.

"Mungkin mereka sudah bosan bertanya soal MBG ini. Kami tidak tahu apa alasan dapur terdekat belum mengantarkan MBG ke sini,” katanya.

Advertisement
Editor : Prihadi Zoldic
Sumber : Lombok Post
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Lombok PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Anggaran Pilkades Rp 10,34 Miliar Belum Cair, Tahapan Pendaftaran Sudah Dimulai

Anggaran Pilkades Rp 10,34 Miliar Belum Cair, Tahapan Pendaftaran Sudah Dimulai

Pemilihan kepala desa (Pilkades) serentak di 157 desa di Lombok Timur (Lotim) telah memasuki tahap pendaftaran calon sejak 15 - 27 Oktober

Rayakat HUT, Pemkab Lotim Siapkan 10 Ribu Kupon Makan-Minum Gratis

Rayakat HUT, Pemkab Lotim Siapkan 10 Ribu Kupon Makan-Minum Gratis

Pemkab Lombok Timur akan menggelar peringatan hari ulang tahun daerah pada 31 Agustus mendatang. Rangkaian kegiatan akan diisi pengajian

Kemeriahan 1 Muharram 1448 Hijriah di Lombok Timur, Perayaan Sepekan, Dibuka Pawai Seribu Dulang, Ditutup Penampilan Band Gigi

Kemeriahan 1 Muharram 1448 Hijriah di Lombok Timur, Perayaan Sepekan, Dibuka Pawai Seribu Dulang, Ditutup Penampilan Band Gigi

Tembolak beak bergerak dalam irama yang sama. Dari Desa Pengadangan, 1.448 dulang dibawa menuju Selong sebagai tanda menyambut 1 Muharram

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer