Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kisah Para Pemulung di TPA Ijobalit (1)

Administrator • Jumat, 29 Maret 2019 | 14:24 WIB
MENGAIS REZEKI: Seorang pemulung terlihat mengangkut sampah pilihan yang akan dijual pada pengepul di UPT TPA Ijobalit, Kecamatan Labuhan Haji, kemarin
MENGAIS REZEKI: Seorang pemulung terlihat mengangkut sampah pilihan yang akan dijual pada pengepul di UPT TPA Ijobalit, Kecamatan Labuhan Haji, kemarin

UPT Ijobalit merupakan satu-satunya tempat pembuangan akhir (TPA) di Lombok Timur. Setiap hari, puluhan ton sampah dikirim ke sana. Setiap saat, puluhan pemulung mencari rezeki di sana.


Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur


Sampah yang menggunung dengan bau menyengat menyambut kedatangan siapa saja ke UPT TPA Ijobalit. Bila memandang lurus, panorama laut yang biru akan menyapa. Namun saat menoleh ke kiri dan kanan, semua akan sirna. Bebukitan sampahlah yang terlihat. Dan di atasnya, para pemulung terus bekerja.


Saat matahari tepat di atas kepala, penulis koran ini tiba di sana. Beberapa mobil kuning masih berdatangan membawa angkutan kedua dan ketiganya. "Itu di hari yang sama," kata Riphan, staf UPT TPA Ijobalit yang menemani penulis koran ini menelusuri bebukitan sampah di sana.


Selama mobil pengangkut sampah datang, selama itu pula para pemulung terlihat. Dengan bekal karung kosong dan tongkat pengait dari besi bekas, mereka terlihat sibuk bekerja. Di sekeliling mereka, anjing-anjing liar terlihat berkeliaran mencari makanan. Siapa tahu, masih ada sisa daging semalam yang kita buang ke tong sampah.


Amaq Supar, warga Ijobalit merupakan satu dari puluhan pemulung yang setiap hari bergerilya di sana. Tanah seluas 8,5 hektare itu memang luas untuk menampung lebih dari sepuluh pemulung. Meski sejak 2018 lalu, area seluas itu sudah overload menampung sampah yang keterlaluan banyaknya. Di sanalah, sampah 1,3 juta penduduk Lotim dibuang. "Kalau tidak ke sungai," celetuk Riphan.


Terlalu banyak kisah yang para pemulung miliki untuk diceritakan di sini. Supar dan pemulung lainnya tak keberatan menceritakan apa saja yang mereka alami selama mengais rezeki. Rezeki dari apa yang kita buang setiap hari.


Ada beberapa jenis sampah yang mereka buru di tempat itu. Pertama jenis tembaga, atau bisa dibilang yang paling berharga. Kedua botol bekas minuman, kardus, kertas kresek, dan plastik yang bisa didaur ulang. "Kadang ada juga yang mendapatkan jam tangan bekas," kata Supar.


Ditanya mengenai temuan-temuan berharga, Supar mengaku paling senang mendapatkan temuan di pagi hari. Kata Supar, sampah dari rumah sakit. Yang dimaksud adalah bukan sampah medis, melainkan sampah sisa makanan pasien yang tak habis dimakan. Terkadang, ada nasi kotak yang tak pernah disentuh sama sekali. "Kondisinya masih bagus. Itu kita makan jadi sarapan," kata Supar.


Lelaki berusia sekitar 65 tahun itu tak malu menceritakan kebahagiaannya menemukan nasi kotak dengan kondisi layak makan. Terbayang, dalam kotak itu masih ada buah-buahan yang masih segar. Taruh saja jika kotak itu dibuang ke tong sampah di pagi hari. Tapi tentu, Supar akan memakan yang benar-benar bersih dan tidak basi. Sebab itulah, kita jadi tahu, banyak orang membuang rezeki. Bersyukur, ada Supar yang menikmatinya.


Supar berangkat pagi, dan pulang sore. Pukul 12 sampai 2 siang, ia akan istirahat sejenak. Intinya, selama masih ada mobil pengangkut sampah, selama itu juga mereka masih bekerja. Di samping berkarung-karung hasilnya pagi itu, Supar nampak bahagia karena menemukan puluhan tumpi  tembakau hitam. "Ini masih bagus," katanya dengan senyum mengembang dan rasa cepat ingin pulang. (bersambung/r7)

Editor : Administrator
#Selong