Dari gaya bicara dan tingkahnya, Aji merupakan anak berkebutuhan khusus. Namun sayangnya, bukan disekolahkan di SLB. Dia malah berkeliaran mencari nafkah dari memungut sampah di jalanan. Di Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) kemarin (2/5), koran ini mencari tahu alasannya tak duduk di bangku sekolah.
Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur
================================
Hari yang cerah. Tanggal 2 Mei tiba usai libur memperingati Hari Buruh Sedunia. Siang itu, Taman dan Hutan Selong sekitarnya sedang dipenuhi aparat kepolisian. Mereka berjaga. Sebab ada unjuk rasa dari sekolompok lembaga yang ingin menyuarakan aspirasinya.
Di saat pengunjuk rasa berteriak serentak, Aji terlihat sedang berjalan di atas trotoar. Di tangannya terdapat sebuah karung berwarna biru. Karung itu baru terisi setengah. Isinya plastik bekas botol minuman, dan sampah kertas. "Aji," katanya saat penulis koran ini menanyakan namanya.
Ia tersenyum cengegesan setelah menyebut namanya sendiri. Ditanya nama panjang, ia mengelak. Kemudian menyebut nama itu lagi. Sendal jepit yang dikenakan telah lusuh. Bajunya juga. "Saya harus cari uang," katanya lagi.
Aji mengaku diminta berhenti sekolah oleh orang tuanya. Katanya, cari uang dulu. Saat menyebut kata uang, Aji seolah telah beranjak dewasa. Sudah punya tanggungan. Bukan anak yang seharusnya pada Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) itu berada di sekolah. Bukan juga terlihat seperti anak yang seharusnya masih meminta perhatian orang tua atas kondisinya yang terlihat kurang normal.
Ia tak menyebutkan tempat tinggal dengan jelas. Penulis koran ini memancing dengan menyebut beberapa nama kelurahan di Kecamatan Selong. Aji menganggukkan kepala saat penulis koran ini menyebut 'Pancor'. "Pancor," katanya mengulang kata itu sambil menganggukkan kepala.
Sejak diajak berbicara dengan Lombok Post, Aji selalu ingin menghindar. Sesekali ia terlihat memiringkan kepalanya. Lalu tersenyum. Sesekali maju dan mengayunkan tangan seolah ingin memukul penulis koran ini.
Tentu tak ada yang mesti ditakuti dari Aji. Aji masih anak-anak. Ia mengatakan, jika bersekolah, seharusnya ia duduk di bangku SMP. "Kelas enam satu," katanya yang mungkin menjelaskan kelas 1 SMP setelah tamat kelas enam SD.
Aji selalu tersenyum, dan beberapa detik melongo setiap selesai mengatakan sesuatu. Ia tak tahu Hardiknas. Ia tak tahu buku-buku. Kata Aji, ia harus mencari sampah untuk dijual. Itu saja yang selalu ia katakan setiap kali ingin pergi. Jika dihitung, Aji ingin pergi setiap kali selesai menjawab satu pertanyaan.
Anak seperti Aji tentu tak sendiri di Gumi Patuh Karya ini. Anak yang harus membantu orang tua mencari nafkah sangat banyak. Tapi yang mengorbankan sekolah sepertinya, tentu membutuhkan perhatian. Khususnya dari pemerintah
Tapi Aji tak bisa mengatakan keinginannya untuk bersekolah. Ia hanya tersenyum dan melenggang pergi setelah meminta uang kepada penulis koran ini. (r5/*)
Editor : Administrator